Friday, April 18, 2008

Lowongan Reporter di PT Reka Gagas Cipta

PT Reka Gagas Cipta, Jakarta, penerbit sejumlah majalah cetak dan
online serta buku-buku, membutuhkan sejumlah REPORTER untuk penempatan
di Jakarta.

Syarat-syarat yang harus dipenuhi:
1. Berusia tidak lebih dari 27 tahun
2. Lulusan sarjana dari semua jurusan, IPK minimal 2,75 (skala 4)
3. Lebih diutamakan mempunyai latar belakang di lembaga pers kampus
4. Lebih diutamakan yang mempunyai pengalaman menulis (karya dilampirkan)
5. Lebih diutamakan yang mempunyai wawasan cukup di bidang pendidikan
dan sosial
6. Mampu berbahasa Inggris dengan baik
7. Mampu bekerja bersama tim dengan baik
8. Mampu bekerja dengan tenggat penulisan yang ketat

Kirim lamaran Anda disertai CV dan contoh karya tulisan ke: HRD PT
Reka Gagas Cipta dengan alamat email: dipohandoko@ yahoo.com, paling
lambat pada tanggal 2 Mei 2008.

Thursday, April 17, 2008

Majalah Kuncup dan Si Kuncung

Ketika masih kecil ada dua majalah yang sangat berpengaruh membentuk saya seperti sekarang ini. Kuncup dan Si Kuncung, nama dua majalah itu. Gambaran tentang 2 majalah itu pun masih tertanam dalam benak saya sekarang. Namun, sayang sekali majalah tersebut tidak tidak terbit lagi hingga sekarang.

masa kecil saya sungguh beruntung mempunyai bapak yang seperti Bapak. Bapak dan Ibu adalah orangtua yang mengerti dan memahami buku. jadi, setiap bulan Bapak selalu membawakan 2 majalah itu sebagai bahan bacaan kami, anak-anak beliau. teringat jelas bagaimana saya saling berebutan dengan saudara-saudara saya ketika melihat Bapak datang dengan menenteng majalah tersebut. begitu dapat, biasanya kami langsung menyendiri dan membacanya. selesai baca, barulah kami berikan pada saudara yang lain untuk gantian baca. begitulah yang terjadi tiap bulan.

mengapa kami sangat beruntung? pada saat itu, akses membaca di desa kami sangat sulit. bahkan, bisa dikatakan banyak teman-teman sebaya kami di desa tidak merasakan asyik dan enaknya membaca. mereka mungkin sama sekali tidak mengenal kedua majalah tersebut. kecuali yang bersahabat denganku (hehehe). kebetulan sekali, Bapak saya adalah guru sebuah sekolah dasar negeri di desa terpencil. jadi, akses mendapatkan majalah tersebut cukup mudah, karena memang setiap sekolah dikirimi majalah itu.

Ketika sudah besar, saya mencoba membongkar gudang. mencari-cari kedua majalah kesayangan itu. bahkan, ketika di Jakarta, saya mencoba browsing di internet dengan judul Kuncup dan Si Kuncung, yang saya temukan cuma kenangan dan nostalgia para pembaca majalah itu.

entah di mana para redaktur Kedua Majalah itu sekarang. sudah jadi apa mereka? ingin sekali bersua dan bersama mereka bernostalgia. dan, tentu saja berterimakasih atas ilmu dan pengetahuan yang telah diberikan! :-)

Wednesday, April 16, 2008

Contoh, Surat Pernyataan Pembuatan ISBN

SURAT PERNYATAAN

Dengan surat pernyataan ini kami:

1. Penerbit : Sukabuku Publishing
2. Alamat : Jl. Legoso Raya gg Bungur 32A Ciputat Tangerang Banten
Telp/Fax : 085646252020
Email : shorih_kholid@yahoo.co.id
3. Nama Penanggung Jawab : Moh. Shorih Al Kholid
4. Rata-rata terbitan tiap tahun : 12 Judul

Menyatakan bersedia mengambil bagian dalam system ISBN dan KDT (Katalog Dalam Terbitan)Demikian agar badan yang bertanggung jawab menangani masalah ini menjadi maklum.

Surat pernyataan ini kami sampaikan kepada Tim ISBN/KDT PERPUSTAKAAN NASIONAL RI, Jalan Salemba Raya 28 A. Kotak Pos 3624, Jakarta 10002, sebagai tindak lanjut dari pertemuan ilmiah ISBN.


Jakarta, 15 April 2008

Pimpinan Penerbit

Contoh Surat Permohonan ISBN, KDT, dan Barcode

No :
Lampiran : 3 Bundel
Perihal : Permohonan ISBN, KDT, dan Barcode


Kepada Yth.
Tim ISBN/KDT
Perpustakaan Nasional RI
u.p. Dra Sauliah, S.S. MM
Jl. Salemba Raya 28 A Jakarta Pusat


Dengan hormat,

Bersama surat ini, kami atas nama Penerbit SUKABUKU mengajukan permohonan nomor ISBN atas buku yang akan kami terbitkan berikut ini:

Judul : Surga di Bawah Telapak Kaki Ibu
Pengarang : Moh. Shorih Al Kholid
Ukuran : 21 cm x 15 cm
Tebal : 250 Halaman
Cover : Soft cover

Bersama surat ini, kami lampirkan pula salinan halaman-halaman prelims.

Demikian surat permohonan kami, atas perhatian dan kerjasamanya kami ucapkan terima kasih.


Hormat kami,





Moh. Shorih Al Kholid

Tuesday, April 15, 2008

Mengurus ISBN Itu Mudah

Ternyata, mengurus ISBN itu sangat mudah. tidak serumit dan semahal yang saya bayangkan sebelum masuk ke penerbit. tapi, walaupun mudah bagi yang tidak tahu itu adalah sebuah 'misteri'.

beberapa hari yang lalu saya ditugaskan penerbit tempat saya bekerja untuk mengurus ISBN sebuah buku yang hendak diterbitkan. pengalaman ini semoga bermanfaat bagi teman-teman.

beberapa persyaratan yang diperlukan:
- Surat permohonan ISBN
- Surat Pernyataan akan mengikuti sistem katalog di Perpusnas
- Melampirkan surat pengantar buku (dari penerbit atau penulis, terserah)
- Melampirkan daftar isi buku yang hendak diterbitkan
- Melampirkan halaman judul (bukan cover, tapi cover dilampirkan juga tak masalah)
- Melampirkan halaman copyright (yang biasanya berisi judul,penulis, editor, lay outer, desainer, penerbit, informasi cetakan dsb.)

"Kecerdikan" Adek Saya

ada satu hal yang sampai hari ini membuat saya tersenyum terkait dimuatnya cerpen adek saya di majalah Ummi bulan April 2008 ini. kalau tidak salah, itulah cerpen pertama dan tulisan kedua yang dimuat di media, setelah beberapa bulan lalu liputannya dimuat di Harian Media Indonesia.

apakah satu hal itu?
Anda semua tentu tahu betapa berat persaingan cerpen untuk masuk dan dimuat di majalah sekelas Ummi atau Annida. mungkin minimal 10 cerpen yang masuk setiap hari (jumlah pastinya berapa ya, mbak-mbak redaksi?).

sadar bahwa dia harus bersabar lebih lama agar tulisannya dimuat, adek saya mencari strategi lain agar dimuat. dia membidik sisipan PERMATA di Ummi yang disediakan khusus buat anak-anak. tentu saja dibanding persaingan cerpen 'biasa', persaingan di sini bisa dikatakan sangat ringan. bahkan bisa dikatakan orang-orang besar (sebagai pasar utama majalah Ummi) tidak pernah melirik sisipan ini.karena itu, untuk masuk dan dimuat di sini pun menjadi agak mudah.

itulah yang dilakukan adek saya. dia tak perlu berat-berat menulis cerpen dan menciptakan konflik yang mendebarkan agar dapat 'menembus' Ummi, tapi dia cukup menulis cerpen yang ringan sesuai dengan dunia anak-anak. asalkan tulisan mudah dipahami dan memberi pengetahuan/informasi yang baik bagi anak-anak, insya Allah akan masuk di sisipan Permata.

Strategi yang adek saya pakai seperti ini bisa memunculkan dua kemungkinan; baik dan kurang baik. baiknya, dengan dimuatnya tulisan itu ia akan semakin percaya diri dan semangat menulis yang lebih banyak. selain juga mengalirkan honor yang tentu lumayan bagi anak kuliahan seperti dia. sisi yang kurang baik, apabila ia sudah merasa puas dan bangga dengan 'prestasi'tersebut. merasa tulisannya sudah bisa menembus Ummi, lantas dia bangga dan terus-terusan bercerita tentang karyanya yang cuma satu itu. akibatnya ia akan terlena dan tidak menulis lagi dan merasa bangga serta besar hati kalau tulisannya sudah bagus.

saya jadi teringat dengan kisah sang Jago Cerpen, Joni Ariadinata. sebelum terkenal dan jagi seperti sekarang, ada proses panjang dan berat yang harus ditempuhnya. awalnya, dia bertekad cerpennya harus masuk pada salah satu media yang dianggapnya paling 'layak' dan menjadi ukuran bahwa sebuah cerpen itu bagus. selama 2 tahun (ingat 2 tahun lamanya) dia menulis minimal 2 cerpen setiap hari dan mengirimkannya ke media yang dianggapnya berbobot. dan, selama 2 tahun itu, tidak ada satu pun cerpennya yang dimuat!!! bayangkan!!! 2 taon Men...! hanya orang-orang yang sungguh-sungguh berniat-lah yang akan kuat bertahan seperti itu.

hasilnya?
ya, Anda tahu sendiri khan sekarang?
yang suka baca Annida tentu tidak asing dengan dia.
yang baca Horison juga sudah akrab dengan dia.
yang selalu mengikuti rubrik cerpen di Kompas juga pasti kenal.

selamar deh....
sukses selalu.
besok minggu aku kirim sebuah komputer biar kamu makin produktif menulis...! Oke?!
:-)

Si Jago SLAM DUNK: Hanamichi Sakuragi

Sejak kemunculannya di teve, serial kartun SLAM DUNK dengan tokoh utama Hanamichi Sakuragi langsung menyita perhatianku. Tiap kali ada kesempatan aku pasti tidak mau ketinggalan mengikuti serinya di teve. hanya saja, waktu film tersebut masih aktif tayng di teve, aku masih tinggal di pondok, jadi aku tidak bisa mengikuti sepenuhnya film kartun tersebut.

seringnya aku nonton film itu, berimbas juga pada kedua adekku yang kebetulan keduanya cewek. kartun yang menceritakan tentang Hanamichi, si jenius si raja basket (begitu pengakuannya sendiri, padahal dia adalah orang yang bodoh basket) itu cukup mengharukan dan membuat hati tertambat untuk terus mengikuti jalan ceritanya.

awal kecintaan hanamichi pada basket adalah sebagai usahanya mendapatkan perhatian seorang cewek yang suka basket. sebelumnya, hanamichi adalah pemecah rekor sebagai orang yang sudah ditolak cintanya oleh 50 cewek. dan, kali ini dia tidak ingin gagal lagi. ironisnya, si cewek begitu mengidola pada jagoan basket yang akan jadi andalan tim basket di mana hanamichi masuk.

sebab itu, hanamichi begitu benci pada si cowok yang jago basket. bahkan, dalam beberapa pertandingan dia tidak mau mengoper bola pada cowok tersebut hanya karena tidak mau terlihat bahwa cowok itu lebih hebat daripada hanamichi. padahal, posisi cowok tersebut sangat bagus untuk menembak bola.

tim sohoko, itulah nama klub di mana hanamichi bergabung, awalnya adalah tim pecundang yang sering kalah dan tidak diperhitungkan. sejak kedatangan cowok keren dan hanamichi, tim itu menjadi tim yang disegani.

kok jadi cerita ngelantur begini ya....? sayang sekali acara tersebut tidak ditayangkan lagi di televisi. saya pikir, itu akan menjadi sebuah inspirasi dan penyemangat bagi pemain basket kita. mungkin pula akan menjadi salah satu sebab kemajuan basket Indonesia.
nah, karena cerita itu pulalah aku jadi suka basket, walaupun sebenarnya aku tidak bisa maen basket. bahkan, di kosan aku juga punya sebuah bola basket yang hampir tidak pernah terpakai. hanya sebagai teman tidur dan alat melempar ke tembok kosan. hehehe....

nah, beberapa hari yang lalu saya ke Pasar Senen, terminal Senen tepatnya. tentu saja hendak berburu komik SLAM DUNK itu. ternyata susah sekali mendapatkannya. saya cuma bisa mendapatkan 3 seri. kata si penjual, komik yang satu itu laku keras karena memang jalan ceritanya sangat menarik. minggu depan mungkin saya akan ke senen lagi. siapa tahu mujur dengan menemukannya. :-)

hal yang paling saya ingat dari kisah ini dan menjadi inspirasi saya hingga saat ini adalah tekad Hanamichi untuk mengalahkan cowok keren yang jago basket itu. Dia bertekad akan melakukan minimal 150 kali lemparan setiap hari. Anda tahu kan pelajran apa yang bisa Anda petik dari tekad si jenius itu.

Nostalgia dengan Donal Bebek

Masih jelas teringat dalam benak saya. Dulu, ketika masih MTs (setingkat SMP) saya kerap meminjam dari teman majalah serial komik Donal Bebek. Maklum, untuk beli yang begituan saya tidak ada budget. waktu itu saya sangat menikmati cerita-ceritan Donal yang seru dan lucu, juga menghibur.

Kini, 8 tahun lebih berlalu. saya sudah di Jakarta. Sekitar 2 minggu yang lalu saya jalan-jalan ke pasar Senen, Jakarta Pusat, tepatnya di sekitar Terminal Pasar Senen. saya mencoba melihat-lihat buku di beberapa kios yang menjual buku-buku bekas. di antaranya ada beberapa komik.

saat itulah saya bertemu dengan 'idola' saya semasa kecil. Donal Bebek. majalah bekas edisi Nostalgia Donal Bebek dijual dengan 5000-an. saya langsung memborong 12 eksemplar. 60-ribu rupiah. kebetulan sekali lagi ada duit. sebenarnya pengen beli lebih banyak, namun beberapa majalah yang lain sudah sobek.

majalah-majalah Donal Bebek itulah yang kini menjadi 'penghilang' kepenatan sekaligus penghibur di tengah-tengah aktifitas 'mencari duit'. majalah itu selalu ada dalam genggaman tiap kali berangkat kerja. saya membacanya di angkot. begitu pula waktu pulang kerja.

Adv.

IKLAN Hubungi: 0896-2077-5166 (WA) 0852-1871-5073 (Telegram)