Friday, May 2, 2008

TIPS MENGIKUTI SELEKSI EDITOR

Tips ini ditulis oleh Ketua Forum Editor Indonesia, Bambang Trim. Saya mengutipnya di sini. Semoga bermanfaat!
------------------------------------------

Memang sudah musimnya editor lagi banyak dicari karena pertumbuhan penerbit sedang baik. Makhluk bernama editor menjadi sebuah kebutuhan karena diperlukan untuk mendorong sukses sebuah buku. Jika kebetulan Anda berminat menjadi editor, Anda memang tidak bisa sim salabim dalam satu malam seolah pantas menjadi editor. Namun, ada dasar-dasar yang bisa menjadi bekal Anda untuk dapat lolos dalam seleksi editor.

1. Kegilaan atau minat baca Anda yang di atas rata-rata akan sangat diperhitungkan. Namun, jangan lupa Anda paling tidak bisa menyebutkan buku-buku apa saja yang telah Anda baca dalam tiga bulan terakhir. Lebih baik lagi jika Anda bisa menyebutkan judul, penulis, dan penerbitnya.

2. Kemampuan Anda menulis menjadi nilai tambah dan jangan pernah melamar kalau Anda tidak bisa menulis sama sekali.. Berikan portofolio karya tulis Anda yang sudah pernah dipublikasikan.

3. Wawasan Anda tentang perbukuan sangat dibutuhkan. Untuk itu, cepat-cepatlah cari majalah MATABACA, Bukune, di Gramedia. Atau Anda juga bisa membuka website RUANG BACA Tempo di internet.

4. Jadilah anggota milist perbukuan yang populer, seperti pasarbuku@yahoogroups.com dan milist ini.

5. Kuasai penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mulai dengan membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tesaurus Indonesia.

6. Baca buku-buku yang berkenaan dengan dunia tulis-menulis serta dunia perbukuan.

7. Kunjungi toko buku besar semacam Gramedia dan Gunung Agung dan catatlah beberapa buku-buku best seller di rak pajang agar Anda punya bahan untuk wawancara.

8. Kuasai penggunaan tanda-tanda koreksi standar. Anda bisa mendapatkannya di buku-buku penerbitan ataupun mencari di internet dalam tajuk correction mark atau tanda-tanda koreksi.

Akhirnya, selamat mengikuti tes. Sebaiknya memang Anda bisa mengikuti beberapa kursus editing yang kini juga banyak diselenggarakan.

Teknik Membuat Resensi Buku

Oleh
Yon’s Revolta

~dan...kebahagiaan akan berlipat ganda
jika dibagi dengan orang lain~

(Paulo Coelho dalam novel “Di Tepi Sungai Piedra”)

Beruntung orang yang suka membaca buku. Mereka yang gemar membaca buku akan
erbuka wawasannya, tidak kuper dan cupet pandangan. Mereka juga akan mengerti
informasi selain yang dipikirkannya selama ini, referensi dan pengetahuannya
akan bertambah luas. Dan inilah sebenarnya investasi berharga sebagai modal
untuk mengarungi kehidupannya. Orang yang menyukai aktivitas membaca, hasilnya,
mereka tidak akan berpikir sempit ketika menghadapi problem-problem penting yang
terjadi di dunia. Serta punya potensi dan kecenderungan yang bijak dalam
mensikapi kejadian-kejadian keseharian di sekitarnya.

Tapi, bagi orang yang ingin berbuat lebih dan mau berbagi ilmu kepada orang
lain, membaca saja tak cukup. Mereka perlu memiliki keterampilan lagi yaitu
ketrampilan meresensi buku. Sebelum melangkah kepada teknik ringkas meresensi
buku, ada beberapa hal penting mengapa resensi perlu dibuat. Tujuannya,
diantaranya sebagai berikut,

Membantu pembaca (publik) yang belum berkesempatan membaca buku yang
dimaksud atau membantu mereka yang memang tidak punya waktu membaca buku.
Dengan adanya resensi, pembaca setidaknya bisa mengetahui gambaran dan
penilaian umum terhadap buku tertentu. Setidaknya, bisa dijadikan bahan
obrolan yang bermanfaat dari pada menggosip yang tidak jelas juntrungnya.

Mengetahui kelemahan dan kelebihan buku yang diresensi. Dengan begitu,
pembaca bisa belajar bagaimana semestinya membuat buku yang baik itu.
Memang, peresensi bisa saja sangat subjektif dalam menilai buku. Tapi,
bagaimanapun juga tetap akan punya manfaat (terutama kalau dipublikasikan
di media cetak, karena telah melewati seleksi redaktur).

Mengetahui latarbelakang dan alasan buku tersebut diterbitkan. Sisi
Undercovernya. Kalaupun tidak bisa mendapkan informasi yang demikian,
peresensi juga tetap bisa mengandalkan misalnya mengacu pada halaman
pengantar atau prolog yang biasanya terdapat dalam sebuah buku. Kalau
tidak, informasi dari pemberitaan media tak jadi soal.

Mengetahui perbandingan buku yang telah dihasilkan penulis yang sama
atau buku-buku karya penulis lain yang sejenis. Peresensi yang punya “jam
terbang” tinggi, biasanya tidak melulu melulu mengulas isi buku apa adanya.
Biasanya, mereka juga menghadirkan karya-karya sebelumnya yang telah
ditulis oleh pengarang buku tersebut, kalau tidak, biasanya juga
menghadirkan buku-buku karya penulis lain yang sejenis. Hal ini tentu akan
lebih memperkaya wawasan pembaca nantinya.

Bagi penulis buku yang diresensi, bisa sebagai masukan berharga bagi
proses kreatif kepenulisan selanjutnya karena tak jarang peresensi
memberikan kritik yang tajam baik itu dari segi cara dan gaya
kepenulisan maupun isi dan substansi bukunya. Sedangkan, bagi penerbit bisa
dijadikan wahana koreksi karena biasanya peresensi juga menyoroti soal font
(jenis huruf) mutu cetakan dsb.

Nah, untuk bisa meresensi buku, sebenarnya tidak sesulit yang dibayangkan
sebagian orang. Ada beberapa langkah umum yang bisa dilakukan siapa saja yang
akan membuat resensi buku. Diantaranya;

Tahap Persiapan

Memilih jenis buku : Tentu setiap orang mempunyai hobi dan minat
tertentu pada sebuah buku. Pada proses pemilihan ini akan lebih baik kalau
kita fokus untuk meresensi buku-buku tertentu yang menjadi minat atau
sesuai dengan latarbelakang pendidikan kita. (hal ini didasarkan pada
kenyataan bahwa seseorang tidak mungkin menguasai berbagai macam bidang
sekaligus). Ini terkait dengan ” otoritas ilmiah”. Hal ini tidak
berarti membatasi tau melarang-larang orang untuk meresensi buku. Tapi,
hanya soal siapa berbicara apa. Seorang guru tentu lebih paham bagaimana
cara mengajar siswa dibandingkan seorang tukang sayur.

Usahakan buku baru. Ini jika karya resensi akan dipublikasikan di media
cetak. Buku-buku yang sudah lama tentu kecil kemungkinan akan termuat
karena dinilai sudah basi dengan asumsi sudah banyak yang membacanya
sehingga tidak mengundang rasa penasaran. Untuk buku-buku lama (yang
diniatkan sekedar untuk berbagi ilmu) tetap bisa diresensi dan
dipublikasikan misalnya lewat blog (jurnal personal).

Membuat anatomi buku. Yaitu informasi awal mengenai buku yang akan
diresensi. Contoh formatnya sebagai berikut;

Judul Karya Resensi

Judul Buku :
Penulis :
Penerbit :
Harga :
Tebal :

Tahap Pengerjaan

Membaca dengan detail dan mencatat hal-hal penting. Ini yang membedakan
antara pembaca biasa dan peresensi buku. Bagi pembaca biasa, membaca bisa
sambil lalu dan boleh menghentikan kapan saja. Bagi seorang peresensi,
mesti membaca buku sampai tuntas agar bisa mendapatkan informasi buku
secara menyeluruh. Begitu juga mencatat kutipan dan pemikiran yang dirasa
penting yang terdapat dalam buku tersebut.

Setelah membaca, mulai menuliskan karya resensi buku yang dimaksud.
Dalam karya resensi tersebut, setidaknya mengandung beberapa hal;

Informasi awal buku (seperti format diatas).
Tentukan judul yang menarik dan “provokatif”
Membuat ulasan singkat buku. Diskripsi garis besar isi buku.
Memberikan penilaian buku. (substansi isinya maupun cover dan
cetakan fisiknya) atau membandingkan dengan buku lain. Inilah sesungguhnya
fungsi utama seorang peresensi yaitu sebagai kritikus sehingga bisa
membantu publik menilai sebuah buku.
Menonjolkan sisi yang beda atas buku yang diresensi dengan
buku lainnya.
Mengulas manfaat buku tersebut bagi pembaca.
Mengkoreksi karya resensi. Mengkoreksi kelengkapan karya, EYD dan
sistematika jalan pikiran resensi yang telah dihasilkan. Yang terpenting
tentu bukan isi buku itu apa, tapi apa sikap penilaian peresensi terhadap
buku tersebut.

Tahap Publikasi

Karya disesuaikan dengan ruang media yang akan kita kirimi resensi.
Setiap media berbeda-beda panjang dan pendeknya. Mengikuti syarat jumlah
halaman dari media yang bersangkutan adalah sebuah langkah yang aman bagi
peresensi.
Menyertakan cover halaman depan buku.
Mengirimkan karya sesuai dengan jenis buku-buku yang resensinya telah
diterbitkan sebelumnya. Peresensi perlu menengok dan memahami buku jenis
apa yang sering dimuat pada sebuah media tertentu. Hal ini untuk
menghindari penolakan karya kita oleh redaktur.

Demikian ulasan sekilas mengenai teknik sederhana meresensi buku. Pada
intinya, persoalan meresensi buku adalah soal berbagi (ilmu). Setelah membaca
buku, biasanya kita bahagia karena memperoleh wawasan baru. Dengan begitu urusan
meresensi buku juga bisa berarti kita berbagi kebahagiaan dengan orang lain.
Sungguh mulia bukan!

Wednesday, April 30, 2008

Daftar Isi "Mengintip Surga"

Bagian Pertama: Pilihan Ada di Tangan Anda

A. Memilih Pintu Surga:
 Pintu Ar-Rayyan
 Pintu Shalat
 Pintu Sedekah
 Pintu Haji
 Pintu .....

B. Memilih kamar Surga:
 Kamar VVIP
 Kamar VIP
 Kamar Bintang Lima
 Kamar ‘Biasa’
 Kamar ‘Sederhana’

Bagian Kedua: Menikmati Fasilitas

A. Hidangan Tersaji di Surga
 Makanan Surga
 Minuman Surga
 Pelayan bagi Penghuni Surga
 Bidadari dan Pasangan Penghuni Surga
 Buah-buahan Surga

B. Pakaian dan Perhiasan
 Pakaian
 Perhiasan
 Minyak Wangi
 Kendaraan
 ....

Bagian Tiga: Mentarget Surga (Membidik Surga)

a. Membangun Masjid
b. Menyantuni Anak Yatim
c. Berbuat Baik pada orangtua
d. Membaca Istighfar
e. ....

Epilog:

Sampai Jumpa di Surga :-)

Mengintip Surga

An Inspiring from “Hâdil Arwâh ilâ Bilâdil Afrâh”

Prakata:
Mengapa Mengintip Surga?
Awalnya adalah tugas menerjemahkan buku Hâdil Arwâh ilâ Bilâdil Afrâh karya Ibnu Qayyim. Saya tergiur. Berkali-kali saya harus menelan air liur saat mengetikkan kata-kata di tuts komputer. Benar-benar gambaran yang mencengangkan! Mengagumkan.

Padahal, kata Nabi Saw, sebenarnya apa yang beliau sampaikan dalam beberapa kesempatan mengenai surga itu belum seberapa. Kata beliau, “Surga itu tidak pernah dilihat oleh mata, tidak didengar oleh telinga, dan tidak terbersit dalam pikiran!” Wow!! Terus seperti apa sebenarnya? Padahal, apa yang beliau gambarkan itu sudah begitu luar biasanya. Tapi, masih belum seberapa juga.

Hanya saja, salah satu buku fenomenal karya Ibnu Qayyim itu terasa terlalu panjang, bahasa berbelit-belit, dan bahasa terjemahannya agak kaku. Meskipun begitu, buku tersebut laris dan naik cetak beberapa kali (kalau tidak salah sudah 5 kali—setahu saya).

Terus, kemudian muncul pertanyaan mengenai judul buku ini, mengapa mengintip? Tidak melihat atau menengok? Kalau mau jujur, sebenarnya kata ‘mengintip’ pun tidak sesuai untuk surga. Sebab, apa yang kita intip di buku ini mengenai surga masih jauh dari yang sebenarnya.

Saya berharap, lewat “intipan” ini, timbul semangat, gairah, keinginan yang menggebu-gebu untuk meraih surga. Wahai jiwa yang tenang, masuklah ke dalam surgaku.

Selamat membaca, sampai bertemu di surga

PLUS MINUS MENERBITKAN BUKU SENDIRI, Seri:2

“Sikap Nekat” penulis yang menerbitkan buku sendiri,
alias self publishing, memang selalu memantulkan kisah
menarik. Banyak hal yang bisa diceritakan, dan kisah
jadi penerbit ini tentu saja merupakan hal baru bagi
seorang penulis.

Setelah naskah siap cetak, maka memilih percetakan
bukan hal yang sulit. Sebagai penerbit, kita bisa
memilih percetakan yang sesuai. Dalam arti sesuai
antara harga dan kualitas. Saat berhubungan dengan
pihak percetakan, maka yang perlu kita bicarakan
adalah masalah kertas cover (kualitas kertas dan
berapa gram), juga kertas di halaman dalam pakai
berapa gram. Ukuran buku juga perlu dibicarakan
detail.

Usai buku dicetak, yang memakan energi seringkali
yakni berburu Distributor buku yang bagus. Alamat
distributor buku ini bisa kita peroleh dari buku
(sejumlah buku kadang mencantumkan alamat dan tlp
distributornya). Alamat distributor buku ini juga bisa
diperoleh dari pencarian via internet, dengan
memasukkan kata kunci “distributor buku”.

Untuk buku saya berjudul: KIAT SUKSES MENGIKUTI
SERTIFIKASI GURU, saya percayakan ke Distributor di
Surabaya. Peredaran lewat distributor ini untuk
menjangkau toko buku di berbagai daerah di tanah air.
Namun karena buku tersebut banyak dibutuhkan para
guru, sejumlah Kantor Dinas Pendidikan dari berbagai
daerah, minta dikirim langsung. Bahkan belakangan ini
banyak panitia Seminar Guru / Panitia Seminar
Sertifikasi, yang langsung kontak ke HP saya
( 08123383495 ) yang minta dikirim buku dalam jumlah
banyak dan biasanya saya kasih diskon spesial.

Semua itu mengasyikkan, karena kita yang semula jadi
penulis jadi tahu liku-liku jaringan peredaran buku.
Yang lebih penting, jika self publishing maka
keuntungan kita jauh lebih banyak. Bayangkan, jika
naskah kita diterbitkan pihak lain, sekali cetak
untung Rp 12,5 juta, maka porsi penulis hanya Rp 2,5
juta dan porsi penerbit Rp 10 juta. Namun jika self
publishing, maka Rp 12,5 juta tersebut jadi milik
kita.

Adakah sisi negatifnya ? Ternyata ada. Karena terlalu
asyik mengurusi jaringan distribusi, kadang kita jadi
“kurang produktif menulis” untuk sementara waktu. Ini
wajar dan merupakan resiko seorang penulis yang “self
publishing”.


Sumber:
http://mhzen.wordpress.com
http://groups.yahoo.com/group/penulislepas/message/21643

PLUS MINUS MENERBITKAN BUKU SENDIRI, SERI 1

Menerbitkan buku sendiri alias “Self Publishing”
ternyata memiliki beragam sisi positif dan negatif.
Bagi seorang penulis, kiprah menerbitkan buku karyanya
sendiri, memunculkan sederet sisi positif. Sisi
positif self publishing ini amat banyak, sehingga
mungkin tidak cukup jika hanya dibahas dalam satu kali
tulisan.

Di antara sisi positif tersebut, yakni dengan Self
Publishing seorang penulis akan mampu jadi manajer
bagi peredaran buku yang ditulisnya sendiri. Lain lagi
jika tulisan kita tersebut diterbitkan oleh penerbit
lain, maka yang menghandel marketing, distribusi dll
adalah pihak penerbit tersebut. Namun jika kita
lakukan Self Publishing maka semua itu kita sendiri
(atau orang-orang kita) yang menangani.

Mulai dari urusan nomor ISBN, mengurus tata letak
buku, mencetak buku, hingga distribusi dan pemasaran
buku, kita sendirilah yang mengurus. Namun dalam hal
ini bukan berarti kita harus menangani sendiri, tetapi
bisa juga kita percayakan ke orang-orang yang sudah
ahli, namun tetap di bawah kendali kita.

Dalam kaitannya dengan mengurus ISBN misalnya, kita
bisa menangani secara langsung. Jika mau mengurus
secara langsung, maka mengurusnya di Kantor
Perpustakaan Nasional Pusat, di Jalan Salemba Raya
Jakarta. Ongkosnya tidak mahal yakni hanya Rp 60.000
per-buku (termasuk barcode). Meski ongkos tidak mahal,
namun bagi penulis di daerah maka ongkos dari daerah
ke Jakarta yang jauh lebih mahal.

Karena itulah, untuk penetbitan yang saya kelola,
pengurusan ISBN saya percayakan ke seorang teman yang
tinggal di Jakarta. Masalah kompensasi dana atau uang
lelah, bisa kita rundingkan secara kekeluargaan. Yang
penting kita bisa lancar memperoleh ISBN. Strategi
ini menurut saya lebih efektif, dibanding kita
mengurus sendiri ke Jakarta, yang tentu butuh biaya
transportasi lebih besar (untuk mengurus ISBN biasanya
saya mengurus 3 buku sekaligus, agar lebih efektif).

Masalah tata letak buku atau desain sampul buku kita ?
bisa juga kita percayakan ke orang lain. Misalnya kita
bisa minta tolong ke pegawai bagian tata letak koran
lokal di kota kita. Pegawai ini biasanya profesional
sebab sehari-harinya memang mengurusi tata letak.
(bersambung)

Tuesday, April 29, 2008

Lowongan Macem-macem

PT. ANTIKARAYA NIAGANUSA INDONESIA adalah sebuah group perusahaan
dengan pengalaman selama 40 tahun, dimana salah satu usaha kami adalah
dalam bidang Propeerty dan real-estate terkemuka yang berlokasi di
kawasan JAKARTA BARAT, kami membuka lowongan kerja bagi para
professional untuk posisi :

DIVISI PROPERTY dan REAL-ESTATE

1. MARKETING MANAGER (MM)

- Pria/Wanita, Usia maksimum 45 tahun
- Lulusan S1
- Berpengalaman dan pernah memimpin di bidang property lebih diutamakan
- Berjiwa pemimpin, supel tetapi tegas

2. MARKETING EXECUTIVE (ME)

- Pria/Wanita, Usia maksimum 45 tahun
- Lulusan D-III
- Berpengalaman di bidang property lebih diutamakan
- Mempunyai jiwa marketing yang kuat, supel dan luwes

3. CHIEF ACCOUNTING (C/A) PROPERTY

- Wanita, Usia maksimum 45 tahun
- Lulusan S1
- Berpengalaman dan pernah memimpin di bidang property lebih diutamakan
- Mempunyai jiwa pemimpin
- Mengerti perpajakan

4. IT STAFF (ITS)

- Pria/Wanita, Usia maksimum 45 tahun
- Lulusan D-III
- Berpengalaman lebih diutamakan
- Dapat mengelola pengembangan sistem aplikasi

DIVISI BAJA

1. CHIEF ACCOUNTING (C/A)

- Wanita, Usia maksimum 45 tahun
- Lulusan S1
- Berpengalaman lebih diutamakan
- Mempunyai jiwa pemimpin
- Mengerti perpajakan

2. SALESMAN (SLS)

- Pria, Usia maksimum 30 tahun
- Lulusan minimal SMU/D-III
- Berpengalaman sebagai sales lebih diutamakan

PERSYARATA UMUM :

* Bersedia ditempatkan di anak perusahaan untuk semua posisi.

Bagi anda yang berminat dan memenuhi kualifikasi tersebut di atas,
kirim surat lamaran beserta dokumen lainnya yang di tujukan kepada :

Mr. Fujio Mitarai
HRD MANAGER - PT. ANTIKARAYA NIAGANUSA INDONESIA
E-mail : niaganusa_recruitme nt@yahoo. com

Monday, April 28, 2008

Tanggapan atas rencana Gus Dur

Andaikan saja Gus Dur membaca Majalah Madina Edisi April 2008 kemarin
(wuih... promosi).... .

Di situ ada cerita panjang tentang "Pembantaian Deir Yassin" --
pembantaian dan teror pada awal pendirian Israel, yang memulai
pengungsian dan pengusiran besar-besaran Bangsa Palestina, baik
Palestina Muslim maupun Kristen.

fgaban

--- In jurnalisme@yahoogro ups.com, tiara sarita wrote:
>
> Hmmm, kasihan Gus Dur. Mungkin beliau tidak tahu kalau negara Israel
didirikan di atas genangan darah rakyat Palestina. Mungkin beliau
tidak tahu, kalau setiap hari tentara zionis Israel membunuh rakyat
Palestina. Menyedihkan ...
>
> aji_setiakarya wrote:
Waduh ada-ada Gusdur ini.
> Mungkin mau nyri perhatian untuk
> nyalon presiden 2009 namun kehabisan
> isu oleh Megawati dan Wiranto. Jadi dia
> bikin sensasi begitu.
>
> thanks
> aji

Adv.

IKLAN Hubungi: 0896-2077-5166 (WA) 0852-1871-5073 (Telegram)