Tuesday, December 30, 2008

Kapal yang Menyeberangi Gunung

Sore itu, saya duduk termenung sendirian di pelataran musholla di desa Tunggul, Paciran (tetangga desa saya). Letaknya tepat di pinggir laut. Suara ombak-ombak kecil terdengar bergantian. Angin sepoi-sepoi menerpa muka saya. Langit cerah dengan semburat merah terlihat di ufuk barat. Ada beberapa perahu kecil di pinggiran pantai bergoyang-goyang terkena ombak. Sementara di daratannya yang berpasir, kulihat ada 3 perahu kecil terparkir tenang. Di salah satu perahu tampak ada kesibukan. Beberapa orang seperti sedang mengerjakan sesuatu. Entah apa.

Lama sekali saya termenung. Memandang hamparan laut. Melihat jejeran perahu-perahu kecil. Memperhatikan orang-orang yang sedang sibuk dengan perahunya. Sesekali memalingkan muka ke sebelah selatan musholla. Di sana ada lapangan sepak bola. Anak-anak remaja di desa tersebut sedang asyik bermain bola. Teriakan mereka sesekali terdengar.

Tiba-tiba kesibukan di salah satu perahu di bibir pantai semakin besar. Orang-orang yang tadinya di dalam perahu itu memanggil beberapa orang kawannya yang sedang berada di pantai. Beberapa orang yang bermain bola pun mulai berkumpul mengitari perahu. Mereka mengambil posisi melingkar. Mengelilingi perahu. Dua orang di antaranya menjejer batang kayu di depan perahu. Saya langsung paham. Mereka pasti akan menghanyutkan perahu itu ke laut.

Jarak perahu dengan air ada sekitar 8 meter. Cukup dekat sebenarnya. Apalagi tanah di bawahnya adalah pasir. Sejenak kemudian terdengar teriakan mereka. Arajot Holok...! Arajot Holok...! Arajot Holok..!. Itulah aba-aba yang biasa kami teriakkan bersama saat melakukan suatu hal yang berat secara bersama-sama. Arajot Holok...! Arajot Holok...! Arajot Holok..! Ternyata, proses penghanyutan itu tak semudah yang saya bayangkan. Perahu kecil dengan para pendorong cukup banyak, kupikir urusan perahu itu akan bisa cepat teratasi. Sekitar 20 menit mereka baru berhasil membawa perahu ke laut.

Saat itulah pikiran saya langsung terbawa pada zaman Muhammad Al Fatih. Panglima penakluk Konstantinopel, negeri adidaya zaman itu. Amerika-nyalah kalau sekarang. Betapa heroiknya ketika ia menginstruksikan pasukannya untuk menyeberangkan kapal-kapal perangnya melintasi gunung. Bayangkan! Kapal perang, seberapa besarnya?!
Ketika itu pasukan musuh bertahan di daerahnya. Mereka memasang rantai besi berukuran besar secara berderet di lautan untuk menghadang kapal-kapal pasukan muslimin. Sehingga tiap kali hendak menyerang, kapal pasukan muslimin terjebak di rantai tersebut, dan musuh pun dengan mudah menghancurkannya. Satu-satunya jalan untuk bisa menembus pertahan musuh adalah dengan menyeberangi gunung yang ada di sebelah lautan. Daerah sana tidak dijaga oleh musuh. Musuh menganggapnya sebagai daerah aman. Apalagi gunungnya ditumbuhi pepohonan besar.

Maka, malam itu juga seluruh pasukan bahu membahu menebangi pepohonan di gunung. Babat alas. Mereka membuat jalan baru di atas gunung untuk menyeberangkan kapal-kapal mereka. Dalam bayangan saya, mereka pasti bekerja tanpa teriak-teriakan semangat. Agar tidak terdengar oleh musuh. Batang-batang pohon yang telah dipotong pun diletakkan di atas jalan yang baru mereka buat. Di bagian atasnya, mereka beri semacam pelumas. Itu akan menjadi roda bagi kapal-kapal mereka (ingat kapal! Bukan perahu).

Menjelang subuh, puluhan kapal perang—yang tentu saja bermuatan persenjataan perang—pun bisa diseberangkan ke daerah pertahanan musuh. Dan pagi-pagi, pasukan muslimin pun menyerang. Pasukan musuh yang tidak pernah mengira hanya terpana tak bergerak. Masih belum percaya dengan apa yang mereka lihat. Tidak mungkin. Tidak mungkin. Begitulah kira-kira gumam mereka. Menggeleng-gelengkan kepala. Lagi-lagi masih belum percaya.

Akhirnya, dengan kondisi musuh yang belum siap ditambah ketidakpercayaan atas apa yang mereka lihat, musuh pun bisa dikalahkan. Meski tentu saja dengan peperangan yang tidak mudah. Itulah sejarah emas Muhammad Al Fatih. Yang membuatnya mendapatkan julukan ’Al Fatih’. [KHO]

Dia Ngajar Elektro

Mendengar ini, teman-teman sekelas waktu di MAK dulu pasti akan tertawa. Bahkan orang-orang yang mengenalnya juga akan tertawa.

Teman sekelas saya waktu di Madrasah Aliyah Keagamaan (ingat Keagamaan) ini sekarang mengajar bidang studi Teknik Elektro di sebuah SMK di desa tetangga. Padahal, sekolahnya agama. Kuliahnya juga ngambil tarbiyah. Pendidikan Agama Islam lagi. Dulu, di pondok juga rajin mengaji kitab kuning. Cukup pandai maknani kitab gundul. Lha sekarang, lulus dari pondok ngajarnya Elektro! Hehehe....

Sungguh, kita memang tidak pernah tahu masa depan kita. Termasuk dengan ilmu kita. Kita punya beberapa ilmu. Namun, kita tidak pernah tahu ilmu yang mana yang dibutuhkan masyarakat! Seringnya seperti itu. Dan salah satu kasusnya, ya teman saya ini.

Semenjak kecil, dia memang senang otak-atik barang-barang elektro. Baik di Aliyah ataupun di pondok, tiap kali ada perlengkapan pengeras suara atau sound yang rusak, dialah yang selalu tampil memperbaikinya. Waktu itu saja, dia sudah jago membenahi radio yang sama sekali tidak berbunyi. Sering pula dia diajak oleh Gus Rul (waktu itu Kiai Baqir masih ada) untuk memperbaiki listrik, kabel, atau penerangan yang tidak bermasalah. Bisa dibilang dialah asisten Gus Rul waktu di pondok kala itu.

Saya bertemu dengannya tak sengaja di kantin pondok. Seperti biasa, senyumnya selalu lebar menyambut. Menampakkan gigi-giginya yang putih besar, kontras dengan warna kulitnya. Kami berjabatan erat. Dan seperti biasa, dengan lagaknya yang suka membanggakan diri, dia langsung bercerita banyak—termasuk tentang profesi barunya tersebut. Dia masih tetap ramah seperti dulu, meski santri-santri sepondok menjuluki ”jin-nya pondok” karena dia terkenal tidak kompromi dengan anak yang melanggar. Dulu, dia adalah ketua Bidang Keamanan pondok. [KHO]

Mendadak Nikah

Teman sekelas saya waktu di Aliyah, yang dulu akrab dipanggil Bassam, menikah tanggal 25 Desember kemarin. Sangat mendadak. Menurut penjelasannya kepadaku, sebenarnya dia berencana menikah bulan depan. Namun, orangtuanya tidak menyetujuinya, karena itu berarti adalah bulan Muharram. Dalam adat Jawa, adalah pantangan untuk menikah pada bulan tersebut. Bisa berakibat tidak baik, sengsara, atau mendatangkan marabahaya bagi keluarga.

Keluarga Bassam pun menganjurkan untuk menikah 6 bulan kemudian. Namun, giliran keluarga perempuan (dari Jakarta) yang tidak sepakat. Mereka sampai beradu argumen untuk menentukan hari yang tepat untuk pernikahan mereka. Bahkan, Bassam sempat diancam tidak dianggap sebagai anak andai nekad menikah bulan depan.

Setelah omong-omong dan rembukan lama, diputuskan lusa (perbincangan itu terjadi tanggal 23 Desember) mereka akan menikah. Yang berati masih masuk bulan Dzulhijjah. Bulan yang sangat baik untuk melangsungkan pernikahan dalam keyakinan orang Jawa. Karena itulah, pernikahan mereka pun sangat mendadak. Yang hadir ke Jakarta dari keluarga Bassam hanyalah 2 orang pamannya. Kedua orangtuanya yang sudah sepuh, hanya membantu doa dari desa.

Potong Rumput di Desa

Pagi-pagi setelah sarapan, sekitar pukul 8, aku tekejut mendengar suara mesin di depan rumah. Bukan bunyi sepeda motor atau mobil yang lewat. Lebih mendekati suara diesel yang aku sering dengar di perkotaan. Saya sempat bertanya pada Ibu saya tentang hal itu.

”Suarane wong motong suket paling!” jawab Ibu. (Suara orang sedang memotong rumput kali!)

Aku bergegas ke bagian depan rumah, dari balik kaca jendela, kulihat seseorang sedang menjalankan mesin pemotong rumput untuk merapikan rumput-rumput liar di pinggiran jalan di depan rumah penduduk. Menurut ibu, kegiatan ini sudah berlangsung beberapa hari ini.

Wah, melihat itu, aku jadi teringat dengan masa kecilku. Hampir setiap sore lepas sekolah, kami bersama saudara-saudara selalu disuruh orangtua untuk membersihkan rumput liar di pinggir jalan depan rumah kami. Dan seperti itulah yang juga dilakukan oleh keluarga-keluarga yang lain di desa kami. Rumput yang tumbuh liar di musim penghujan itu sungguh mengganggu pemadangan, termasuk juga menjadi cermin keluarga yang bersangkutan. Karena jenis rumput di depan rumah kami adalah teki, yang terkenal sangat awet, memaksa saya dan saudara-saudara bergotong royong dengan bapak-ibu untuk menyianginya.

Berbagai cara pun telah dilakukan bapak. Dengan mencangkuli tanahnya hingga ke akar-akar rumput, sampai menyemprot dengan obat pembunuh rumput. Usaha mencangkuli tanah itu tidak banyak memberi hasil. Yang lebih menampakkan perkembangan menarik adalah semprotan dengan obat. Setelah penyembrotan, rumput2 itu berangsur-angsur mati dan tidak menampkkan gejala tumbuh. Namun, setahun berikutnya, sat musim hujan, bekas akar yang belum mati pun kembali menumbuhkan tunas-tunas hijau. Begitulah ’peperangan’ melawan suket teki itu belum berhasil-berhasil juga.

Suket itu pun tidak tumbuh lagi, ketika bapak membangun got di tempat rumput itu tumbuh. Dengan ditimbuki adonan semen dan pasir untuk got, tentu saja tidak ada lagi kesempatan bagi si rumput untuk bergerak. Jadinya, tidak ada lagi lawan kami di depan rumah. Kami senang tidak terkena kewajiban membosankan itu.

Setelah kuliah di Jakarta, tiap kali pulang dan tidak melihat ada kehijauan di depan rumah, sebenarnya saya agak sedih dan menyesal. Apalagi, beberapa waktu lalu kemarau cukup panjang. Hujan tidak turun dalam jangka yang lama. Sementara matahari bersinar sangat terik. Tidak ada kehijauan. Sungguh, aku menyesal. Kenapa dulu tidak memotong dan merapikan saja rumput-rumput liar itu agar lingkungan depan rumah masih terlihat asri. Tapi, waktu itu (bahkan sampai sekarang) pandangan orang menyatakan suket teki memang bukan termasuk jenis rumput hias yang harus dirawat dan akan menjadi hiasan yang menarik.

Sekarang lebih enak, kepala desa lebih mengerti dengan desanya. Dengan kondisi masyarakatnya. Dia pun menyediakan tukang pemotong rumput untuk secara rutin memotong dan merapikan rumput-rumput liar di pinggir jalan. Dan, ternyata suket teki yang ”dirawat” pun menjadi menarik dilihat serta mengesankan keasrian. [KHO]

Tajdiidun Nikah; Memperbarui Pernikahan

Dalam adat Jawa, sangat kental sekali hitung-hitungan mengenai nama dan tanggal lahir untuk sepasang pengantin. Ada yang bahkan sampai harus mengubah namanya saat hendak menikah karena berdasarkan perhitungan, kehidupan keduanya nanti tidak akan baik, sengsara, atau salah satunya mati muda.

Sore itu, saya berkunjung ke rumah ustadz saya di Pondok. Beliau bercerita tentang tajdiidun nikah yang baru saja terjadi. Kata beliau, ada seseorang yang sudah menikah (bahkan sudah beranak satu) yang kehidupannya kurang baik. Setelah dihitung-hitung nama pasangan suami-istri itu, ternyata namanya memang tidak cocok. Akhirnya, salah satunya pun berinisiatif mengubah nama. Tentu saja dengan nama yang setelah dihitung, memberikan sugesti pernikahan mereka akan membahagiakan.

Dalam agama, istilah tajdiidun nikah sebenarnya memang ada. Namun, bukan karena masalah perubahan nama atau sebagainya. Akan tetapi, lebih karena pernikahan yang rusak atas sebab yang berdasarkan ketentuan agama. Hanya saja, mungkin karena yang bersangkutan kurang yakin dengan pernikahan mereka, diadakanlah akad nikah ulang itu. [KHO]

Sampah di Video Klip-nya Yovie & Nuno; Bunga Jiwaku

Tak sengaja saya menyaksikan video klip salah satu lagu terbaru Yovie & Nuno. Judulnya Bunga Jiwaku. Mulai dari awal hingga akhir, ditampakkan orang yang menerima lemparan kertas putih. Entah bertuliskan apa. Setelah membaca tulisan di kertas tersebut sejenak, orang itu langsung melemparnya kembali seenaknya. Kemudian, kertas berisi pesan itu mengenai orang lain yang (menurut skenario) ada di sampingnya. Orang yang menerima lemparan kertas pun membuka kertas. Membacanya sebentar, dan melemparkan kembali ke arah yang dikehendaki. Begitu enaknya. Seperti tanpa beban.
Lemparan demi lemparan berlangsung terus dan mengenai orang-orang yang berbeda. Sepertinya untuk menggambarkan bahwa pesan dalam kertas itu sampai pada orang dengan profesi atau karakter yang berbeda. Begitu seterusnya hingga akhirnya kertas itu sampai pada Yovie & Nuno dkk. Mereka membacanya sekilas, namun langsung disambar oleh seorang cewek yang segera ngeloyor pergi.

Yang jadi sorotan saya di sini adalah menampakkan kebiasaan buruk membuang sampah sembarangan. Saya melihat bagaimana dengan santainya setiap ’tokoh’ yang menerima surat itu membuang sampah (kertas putih) sembarangan. Begitu berulang-ulang dilakukan tokoh-tokoh yang lain. Tentu saja video klip itu menjadi pelajaran yang tidak baik.

Bagaimana kita lihat dinas kebersihan berupaya sekuat mungkin menyosialisasikan keharusan membuang sampah pada tempatnya dan bergaya hidup bersih. Namun, sosialisasi dinas itu tentu saja akan tiada artinya sama sekali karena lawannya adalah video klip musik—yang tentu saja digandrungi banyak orang. Mereka yang melihat mungkin tanpa sadar akan merekamnya dalam diri mereka bahwa kebiasan membuang sampah sembarangan adalah hal yang lumrah. [KHO]

Sunday, December 21, 2008

Lowongan Jurnalis Online di Voice of America, Indonesian Service, di Washington DC., Amerika Serikat: International Broadcaster (Indonesia)

Lowongan Kerja untuk Jurnalis Online di Voice of America, Indonesian Service, di
Washington DC., Amerika Serikat:

International
Broadcaster (Indonesian) (Online) GS-1001-12
SALARYRANGE: 69,764 -
90,698USD per year OPEN PERIOD: December 22, 2008to January 23, 2009

SERIES & GRADE:GS-1001- 12 POSITION
INFORMATION: Fulltime Career Conditional

DUTY LOCATIONS: 1 position - Washington, DCWHO MAY BE CONSIDERED: All
Qualified Applicants

NON-U.S. CITIZENS MAY BE CONSIDERED FOR THIS POSITION IN
THE ABSENCE OF EQUALLY OR BETTER QUALIFIED U.S. CITIZENS. IF A NON-U.S.
CITIZEN IS
SELECTED, HE/SHE WILL BE PLACED IN THE EXCEPTED SERVICE.
JOB SUMMARY: This position is
located in the Indonesian Service of the East Asiaand Pacific Division of the
Voice
of America (VOA) in Washington, DCwith
responsibility for writing, producing, adapting, and editing content for the
Service¢s web and mobile phone-based news and information outlets.

Jika berminat dan ingin memperoleh informasi lebih lengkap tentang lowongan
ini, anda bisa mengirim e-mail ke saya di fdemon@voanews. com.

Terimakasih & Salam,

Frans Padak Demon
Direktur VOA Jakarta

Lowongan- Asisten Editor Perancis

DIBUTUHKAN SEGERA
Sinergi Kelompok Penerbitan Buku Terbesar Indonesia Menantang anda
untuk maju dan berkembang bersama untuk mengisi posisi sebagai :

Asisten Editor Perancis


PERSYARATAN :

1. Pendidikan Minimal S1 dari semua bidang
2. Usia maksimal 26 tahun
3. Memiliki kemampuan Bahasa Perancis aktif dan pasif
4. Memiliki kemampuan Bahasa Inggris aktif dan pasif
5. Menguasai Microsoft Office dan internet (dalam bahasa
Perancis)

Surat lamaran (dilengkapi cv, fc KTP, foto 4x6) dikirim paling lambat
seminggu setelah iklan ini dimuat :

BAGIAN PSDM PBMM KOMPAS GRAMEDIA
Gedung ex. Lapangan Tenis Lt.3
Jl. Palmerah Selatan No.12
JAKARTA 10270
Atau email ke maya@psdm-gramediap bmm.com

Adv.

IKLAN Hubungi: 0896-2077-5166 (WA) 0852-1871-5073 (Telegram)