Ruang kelas petang itu terasa hangat. Angin berhembus pelan dari jendela-jendela kayu yang terbuka. Di hadapan saya, deretan santri duduk bersila. Mata mereka menatap penuh tanya. Ini waktunya kami bertukar wawasan. Membuka jendela dunia yang mungkin belum pernah mereka intip sebelumnya.
Saya membuka obrolan dengan sebuah cerita yang sedang ramai diperbincangkan.
"Pekan lalu, linimasa media sosial ramai," kata saya memulai. "Ada seorang ibu mencari babysitter premium untuk anaknya. Gajinya fantastis, 8,5 juta per bulan."
Beberapa santri terbelalak. Angka yang besar untuk ukuran pengasuh anak.
"Tapi, bukan nominal itu yang membuat heboh," lanjut saya. "Kalian tahu siapa yang meramaikan kolom komentar? Siapa yang berminat melamar?"
Mereka menggeleng.
"Banyak dari kalangan dokter dan perawat profesional."
Kelas mendadak riuh rendah. Kasak-kusuk kecil terdengar. Wajah-wajah muda itu menyimpan keheranan yang tak bisa disembunyikan.
"Lho, kok bisa, Ustadz?" celetuk salah seorang santri. "Bukannya gaji dokter itu sudah sangat besar? Kan jasnya putih, kerjanya di rumah sakit megah."
Saya tersenyum. Kepolosan mereka adalah kanvas yang tepat untuk melukiskan realita.
"Kenyataannya tidak selalu seindah sinetron, Nak. Gaji dokter umum di banyak tempat itu berkisar antara lima sampai delapan juta setiap bulannya. Tergantung tempat dan seberapa padat jadwal praktiknya."
Hening sejenak. Saya membiarkan mereka mencerna fakta itu.
"Seorang mentor finansial saya pernah bilang sesuatu yang cukup menohok," saya melanjutkan, menyandarkan punggung sejenak. "Menurut beliau, jika dihubungkan dengan penghasilan kelak, jurusan kedokteran itu bisa jadi salah satu scam atau ilusi terbesar di dunia pendidikan kita."
Dahi mereka berkerut. Kata scam mungkin terdengar kasar. Tapi mari kita hitung pakai logika. Saya berjalan ke papan tulis, mengambil spidol hitam.
"Mari kita hitung kasar. Anggaplah kalian masuk kedokteran jalur mandiri. Uang pangkalnya saja bisa tembus 300 sampai 500 juta. Kita ambil angka maksimal, 500 juta." Saya menuliskannya di papan.
"Biaya per semester anggap 30 juta. Kalau lulus normal delapan semester, total 240 juta. Belum kos dan makan. Katakanlah tiga juta per bulan selama empat tahun. Total 144 juta. Lalu ada biaya ujian praktik, alat-alat, dan lain-lain, sebut saja 100 juta."
Saya menarik garis panjang di bawah deretan angka itu.
"Totalnya hampir satu miliar. Sembilan ratus delapan puluh empat juta rupiah."
Santri-santri terdiam. Mulut mereka sedikit terbuka. Satu miliar adalah angka yang mengawang-awang bagi sebagian besar dari mereka.
"Jika setelah lulus kalian bekerja menjadi dokter dengan gaji 8 juta per bulan, butuh berapa lama untuk balik modal?" saya melempar tanya.
Mereka mulai menghitung di luar kepala.
"Seratus dua puluh lima bulan, Nak," jawab saya memecah keheningan. "Kalian harus bekerja sepuluh tahun lebih, tanpa makan, tanpa jajan, hanya untuk mengembalikan modal kuliah. Kenapa? Karena negara kita memang belum sepenuhnya fokus pada peningkatan kesejahteraan tenaga kesehatan."
Saya meletakkan spidol. Menatap mereka dengan sorot mata yang melembut.
"Tentu, ini adalah pandangan kacamata finansial. Pandangan dari seorang pengusaha kaya tentang bagaimana menghitung nilai investasi pendidikan."
Saya berjalan mendekati mereka.
"Ustadz tidak sedang melarang kalian menjadi dokter. Sama sekali tidak. Profesi dokter itu mulia. Menyelamatkan nyawa itu pahalanya tak terputus."
Saya memberi jeda. Memastikan kalimat terakhir ini masuk ke dalam relung hati mereka.
"Tapi, wawasan ini penting Ustadz bagikan. Agar kelak, saat kalian memilih jurusan, kalian tidak hanya mengejar gengsi atau tertipu ilusi. Kalau kalian ingin jadi dokter, jadilah karena panggilan jiwa untuk mengabdi, bukan karena mengejar tumpukan materi. Karena jika murni mencari kaya, hitungannya tidak akan pernah masuk."
Sore itu ditutup dengan tatapan yang berbeda dari para santri. Ada pemahaman baru yang tumbuh. Bahwa hidup membutuhkan perhitungan yang matang, namun pengabdian membutuhkan hati yang lapang.
PPCQ, 7 April 2026
@ms.kholid
No comments:
Write komentar