Gema selawat bakda Maghrib perlahan senyap. Udara malam mulai menyelimuti pelataran asrama. Di ruang utama, para santri sudah duduk melingkar. Rapi, bersila, menanti.
Di hadapan mereka, kitab Akhlak Lil Banin sudah terbuka. Lembarannya yang menguning memantulkan cahaya lampu. Ini jadwal rutin. Waktunya mengaji kitab kuning. Waktunya belajar tata krama dan adab kehidupan.
Namun malam ini, saya melangkah masuk dengan membawa sesuatu yang berbeda. Bukan kitab tebal. Hanya beberapa lembar kertas fotokopian.
Saya duduk. Menatap wajah-wajah muda yang menunduk takzim.
"Tutup kitab kalian," kata saya pelan.
Terdengar suara kresek kertas serempak. Beberapa dahi berkerut halus. Bingung, tapi tak berani bertanya.
Saya membagikan lembaran yang saya bawa. Lembaran berisi sebuah cerita pendek. Sebuah fiksi.
"Malam ini, kita tidak membaca teks Arab," ujar saya memecah rasa penasaran mereka. "Kita akan membaca cerpen."
Mata mereka berbinar. Ada antusiasme yang tertahan. Membaca cerpen di waktu ngaji kitab adalah oase kecil. Sesuatu yang tak biasa. Sesekali, memang sengaja saya lakukan.
"Ustadz, kita tidak ngaji akhlak?" tanya seorang santri, memberanikan diri.
Saya tersenyum. "Siapa bilang? Kita justru sedang mengaji akhlak."
Saya menunjuk lembaran di tangan mereka. "Di dalam Akhlak Lil Banin, kita diajari adab lewat dalil dan nasihat langsung. Di dalam cerpen ini, adab dan akhlak itu hidup. Mereka menjadi manusia. Mereka bernapas, berbuat salah, menangis, dan belajar."
Kelas hening. Mereka mendengarkan.
"Sastra yang baik adalah cermin. Dari cerita orang lain, kita belajar menyelami kehidupan tanpa harus tenggelam. Kita memungut hikmah."
Saya memberi jeda sejenak, membiarkan angin malam menyusup lewat ventilasi.
"Jika tokoh dalam cerita ini berbuat buruk dan hancur, jadikan itu rambu-rambu. Jangan sampai kebodohan itu terjadi pada kita. Jika tokoh ini berbuat baik dan mulia, jadikan itu lentera. Tiru jalannya."
Itulah alasan terbesar saya. Mengapa sastra punya ruang di tengah ketatnya jadwal pesantren. Sastra melembutkan hati yang kaku. Mengajarkan empati sebelum menghakimi.
"Tapi ingat," suara saya sedikit meninggi, mengembalikan fokus mereka. "Membaca cerpen ini bukan sekadar untuk hiburan. Bukan sekadar dibaca, tamat, lalu tidur."
Saya mengambil spidol, bersiap menulis di papan tulis.
"Tugas kalian bukan sekadar membaca. Tapi merenung. Setelah selesai, ambil buku tulis kalian. Lakukan refleksi. Tuliskan hikmah apa yang kalian petik. Pelajaran apa yang menampar hati kalian dari cerita ini."
Malam itu, ruang ngaji tidak diisi dengan suara lantunan makna gandul khas pesantren. Ruang itu diisi oleh kesenyapan yang khusyuk. Suara helaan napas yang terbawa emosi cerita, dan bunyi gesekan mata pena di atas kertas.
Mereka sedang mengaji. Mengaji kehidupan.
PPCQ,
6 April 2025
@ms.kholid
No comments:
Write komentar