
Haul Ke-21 Mengenang Kiai Baqir Adelan: Sang Guru Multi-Talenta dan Beratnya Meniru Istiqomah Beliau
• Haul Ke-21 Mengenang Kiai Baqir Adelan: Sang Guru Multi-Talenta dan Beratnya Meniru Istiqomah Beliau •
Hari ini, bertepatan dengan haul ke-21, guru kami, Kiai kami, Almaghfurlah KH. Muhammad Baqir Adelan. Beliau adalah salah satu pengasuh Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah, Kranji, Paciran—pondok pesantren tertua di Kabupaten Lamongan.
Mengenang beliau di hari haul ini rasanya bukan sekadar membangkitkan memori, tapi juga membuat kami menertawakan diri sendiri. Betapa kecilnya peran yang sudah kami lakukan jika dibanding dengan apa yang telah beliau kerjakan.
Saya dan teman-teman sesama alumni—terutama teman-teman Gus dan putra kiai yang dulu sama-sama nyantri di Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah—kerapkali menertawakan diri sendiri jika mengingat kehebatan kiprah beliau.
Semasa hidup, Kiai Baqir adalah sosok yang multi-talenta. Jika diingat-ingat, setidaknya ada 7 keistimewaan beliau yang sampai sekarang bikin saya sebagai santrinya geleng-geleng kepala karena begitu sulit ditiru:
1. Alim dalam Berbagai Disiplin Ilmu
Penguasaan kitab kuning beliau sangat luar biasa. Ada satu kenangan yang tak terlupakan tentang kedalaman ilmu beliau. Dulu, sewaktu saya masih kuliah di LIPIA Jakarta, Kiai Baqir berpesan,
"Jangan lupa setiap liburan datang ke sini, ke pondok, cerita ke saya."
Suatu ketika, saya sowan dan ditemui langsung oleh beliau di kursi ruang tengah ndalem (masuk lewat pintu samping barat).
Beliau bertanya, "Oleh apa (Dapat ilmu apa) di LIPIA?"
Saya pun bercerita banyak hal, termasuk betapa kuatnya dorongan di LIPIA untuk memelihara jenggot dan larangan isbal (bercelana di bawah mata kaki). Di lingkungan NU, hal itu dipandang sebagai sunah biasa, tapi di sana ditekankan dengan sangat kuat. Saya sampaikan dalil-dalil pemahaman yang saya dapatkan.
Kiai Baqir tersenyum. Lantas menanggapi dengan menjabarkan dalil-dalil lain yang lebih luas, lengkap dengan syarah (penjelasan) dari para ulama ahli hadis dan berbagai pandangan dari ragam kitab yang beliau kuasai. Beliau membuka wawasan saya betapa luasnya samudra ilmu agama.
2. Istiqomah Mengimami Jamaah
Di sela kesibukannya, beliau sangat menjaga salat berjamaah lima waktu bersama para santri. Zuhur, Asar, Maghrib, Isyak, dan Subuh. Semuanya hampir selalu ada bersama beliau di masjid pondok.
Hebatnya lagi, beliau tak segan ke gotak'an untuk membangunkan salat subuh.
Seingat saya setiap bakda sholat, selalu ada wirid atau Hizib yang dibaca. Seperti Hizb Nawawi, Wirdul Lathif, atau Ratibul Haddad. Hanya bakda Zuhur yang wiridan biasa.
3. Istiqomah Ngaji Kitab
Pagi beliau ngaji kitab Tafsir Jalalain, sore ngaji Al-Jami' As-Shaghir, dan bakda isya lanjut lagi Tafsir Jalalain. Kalaupun ada undangan keluar, beliau tetap menyempatkan ngaji terlebih dulu--walaupun hanya 10 atau 15 menit agar "syarat istikamahnya" tertunaikan.
4. Jago Ceramah Tanpa Mengorbankan Pondok
Beliau sering diundang ceramah oleh masyarakat untuk mengisi berbagai kegiatan keagamaan.
Luar biasanya, semua itu dilakukan tanpa mengganggu aktivitas rutin beliau di pondok sebagai pengasuh, baik sebagai imam jamaah maupun mengaji kitab.
5. Kepedulian Sosial yang Tinggi
Bilamana ada warga Desa Kranji, masyarakat sekitar, para guru, atau bahkan alumni yang beliau kenal meninggal dunia, beliau hampir selalu menyempatkan waktu untuk hadir bertakziah langsung ke rumah duka keluarga yang ditinggalkan.
6. Aktif Berjuang di Organisasi dan Politik
Beliau aktif di organisasi keagamaan; menjadi pengurus PWNU Jawa Timur dan menjadi Syuriyah PCNU Lamongan.
Bahkan, di dunia politik. Saat awal berdirinya PKB dari rahim NU, beliau juga ikut bahu membahu proses perkembangan PKB di Lamongan--Paciran khususnya.
Bahkan, cerita dari orang dekatnya, beliau sampai rela mengeluarkan uang pribadi untuk membeli atribut partai kala itu.
7. Seorang Businessman
Di balik sosoknya sebagai kiai, beliau juga seorang pengusaha. Beliau memiliki usaha penggergajian kayu, pembuatan mebel dari kayu jati, hingga pembuatan kapal untuk nelayan.
Kiai, guru, tokoh masyarakat, organisatoris, politisi, dan pengusaha—semua berpadu di dalam diri beliau.
Mengingat sosok beliau hari ini membuat saya sadar betul betapa sulitnya meniru jejak itu.
Hari ini, ketika saya diamanahi menjadi pembina di asrama Pondok Pesantren Cahaya Qur'an, saya merasakan langsung betapa beratnya mengombinasikan urusan santri dengan urusan duniawi. Membagi waktu istiqomah jadi imam jamaah 5 waktu dengan mengurusi usaha konveksi yang saya kelola sering kali membuat saya kewalahan. Kadang, ada saja yang terpaksa harus dikalahkan.
Belum lagi ketika istri saya ada jadwal mengisi ceramah di desa, kecamatan, atau kabupaten sebelah. Tentu, saya yang harus mengantar. Hal itu pasti menguras waktu dan tenaga, yang ujung-ujungnya sering kali membuat saya "bolos" mengimami jamaah di pondok pesantren.
Tapi, meski tertatih-tatih, ada satu kebiasaan Kiai Baqir yang terus saya pegang erat dan tiru sampai hari ini. Sepadat apa pun jadwalnya, kami tetap usahakan masuk ngaji kitab walau cuma 5, 10, atau 15 menit. Sebagai syarat menggugurkan kewajiban dan menjaga istiqomah seperti yang beliau contohkan.
Menjadi seperti Almaghfurlah Kiai Baqir Adlan seutuhnya mungkin nyaris mustahil. Beliau terlalu istimewa. Tapi setidaknya, spirit beliau dalam menjaga istiqomah, merawat santri, berbaur dengan masyarakat, dan mandiri secara ekonomi adalah teladan terbaik yang pernah saya saksikan langsung.
Ila ruhi Almaghfurlah KH. Muhammad Baqir Adelan, Al-Fatihah...
Babat, 29 September 2026
M. Shorih Kholid
@ms.kholid




