Thursday, September 24, 2026

Ustadz Moh. Shorih Al-Kholid Luncurkan Buku "Alon-alon Belajar Pegon", Solusi Cerdas Kuasai Aksara Warisan Nusantara

Dunia literasi pesantren dan madrasah kembali diperkaya dengan hadirnya karya terbaru dari Ustadz Moh. Shorih Al-Kholid bertajuk Alon-Alon Belajar Pegon: Cara Cerdas & Lancar Menguasai Aksara Pegon. Buku panduan ini dirancang khusus sebagai fondasi awal bagi santri, siswa pemula, pelajar, serta guru dan pengajar TPQ maupun madrasah. Kehadiran buku ini mengusung semangat bahwa belajar aksara Pegon dapat dilakukan dengan mudah, menyenangkan, dan penuh makna.

Karya ini bukanlah sekadar modul teoretis, melainkan disusun berdasarkan pengalaman lima tahun praktik pembelajaran langsung di sekolah, madrasah, dan TPQ yang telah teruji dan terbukti. Materi di dalam buku dirancang secara sistematis, bertahap, dan praktis. Ruang lingkup pembelajarannya mencakup pengenalan huruf vokal dasar, konsonan majemuk unik khas Nusantara, hingga praktik kelancaran merangkai kalimat dan dasar-dasar maknani kitab.

Pendekatan utama yang ditawarkan oleh Ustadz Shorih dalam buku ini menitikberatkan pada pembiasaan (habituation) dan penalaran bahasa. Dengan metode ini, para santri diharapkan dapat menulis secara lancar tanpa merasa terbebani oleh hafalan yang kaku. Meskipun demikian, buku ini dirancang agar tidak berdiri sendiri; sebagai prasyarat utama, para pembelajar diwajibkan telah mempelajari dan menguasai dasar-dasar penulisan huruf Hijaiyah, seperti melalui pembelajaran Imla' atau BTQ.

Lebih dari sekadar instrumen penguasaan aksara, Alon-alon Belajar Pegon juga berfungsi sebagai sarana pembentukan karakter. Buku ini secara khusus dilengkapi dengan kisah-kisah pendek inspiratif yang disediakan sebagai bahan bacaan siswa. Kisah-kisah tersebut sekaligus menjadi media berharga bagi para pendidik untuk menanamkan pesan moral, akhlak mulia, serta membangun karakter yang kuat pada anak didik di tengah proses pembelajaran.

Dengan membawa slogan "Alon-alon... Pasti bisa!", buku ini diproyeksikan menjadi fondasi yang kuat bagi para generasi muda. Penguasaan Pegon melalui buku ini diharapkan menjadi langkah awal yang bermakna menuju pemahaman kitab kuning dan penjelajahan khazanah ilmu Islam yang lebih dalam.

Terobosan Baru Belajar Sejarah Islam: Ustadz Moh. Shorih Al-Kholid, MA. Rilis Buku "1000+ Soal Jawab Sirah Nabawiyah Tingkat Dasar

LAMONGAN — Dunia literasi dan pendidikan Islam kembali diramaikan dengan kehadiran sebuah karya inovatif yang sangat dinantikan oleh para pendidik, pelajar, dan orang tua. Ustadz Moh. Shorih Al-Kholid, MA., seorang pendidik dan penggiat dakwah, secara resmi menerbitkan buku terbarunya yang bertajuk "1000+ Soal Jawab Sirah Nabawiyah Tingkat Dasar; Panduan Cerdas Cermat Sejarah Nabi Saw".


Berbeda dengan buku sejarah Islam pada umumnya yang disajikan dalam bentuk narasi panjang, karya ini menawarkan pendekatan yang jauh lebih interaktif dan segar. Melalui format tanya jawab (Q&A) dan pilihan ganda, buku ini merangkum lebih dari 1.000 pertanyaan komprehensif seputar perjalanan hidup manusia paling mulia, Rasulullah Muhammad saw.

Buku ini disusun secara sistematis mencakup berbagai fase penting kehidupan Nabi, mulai dari nasab dan masa kelahiran, masa kecil dan remaja, ujian dakwah di Makkah, peristiwa hijrah, fase perjuangan dan peperangan di Madinah, hingga detik-detik kewafatan beliau.

"Mempelajari Sirah Nabawiyah adalah kewajiban dan kunci untuk menumbuhkan rasa cinta generasi muda kepada nabinya. Namun, kita menyadari bahwa terkadang anak-anak butuh metode yang lebih menantang dan menyenangkan. Buku ini hadir untuk mengisi ruang tersebut, menjadikannya semacam 'bank soal' yang aplikatif," ungkap Ustadz Moh. Shorih Al-Kholid, MA.

Lebih lanjut, buku ini sangat direkomendasikan dan menjadi "senjata wajib" bagi para guru Pendidikan Agama Islam (PAI), pembina ekstrakurikuler, dan pelatih Olimpiade atau Lomba Cerdas Cermat (LCC) tingkat dasar (MI/SD dan MTs/SMP). Selain itu, format tanya jawabnya juga sangat cocok digunakan oleh orang tua di rumah untuk mengadakan sesi kuis sejarah Islam yang menyenangkan bersama keluarga.

Dengan bahasa yang lugas, terstruktur, dan validitas referensi yang merujuk pada kitab-kitab Sirah klasik yang muktamad, buku "1000+ Soal Jawab Sirah Nabawiyah Tingkat Dasar" ini menjadi literatur praktis yang mengedukasi sekaligus menguji ketangkasan ingatan pembacanya.

Bagi Anda yang berprofesi sebagai guru, pembina pesantren, atau orang tua yang ingin menghadiahkan bacaan berkualitas untuk putra-putrinya, buku ini sudah dapat dipesan secara online.

Mari jadikan momen belajar sejarah Nabi menjadi lebih seru dan berbobot! Untuk pemesanan dan pembelian buku "1000+ Soal Jawab Sirah Nabawiyah Tingkat Dasar; Panduan Cerdas Cermat Sejarah Nabi Saw", silakan langsung melakukan checkout secara aman melalui tautan resmi berikut:

🛒 Pesan Sekarang di sini:

http://lynk.id/ms.kholid/1n5d9l3o0lnm/checkout

Segera miliki mahakarya ini dan jadikan generasi muda kita sebagai generasi yang cerdas dan mencintai Rasulullah saw.!

Menyambut Bulan Maulid, Ustadz Moh. Shorih Al-Kholid, MA. Luncurkan Buku "33 Kisah Populer Sirah Nabawiyah"


LAMONGAN — Momentum bulan mulia Rabiul Awwal 1448 Hijriah yang identik dengan peringatan kelahiran Nabi Muhammad saw. terasa semakin istimewa dengan hadirnya literatur sejarah Islam terbaru. Ustadz Moh. Shorih Al-Kholid, MA., resmi merilis karya terbarunya yang berjudul "33 Kisah Populer Sirah Nabawiyah".

Buku ini hadir sebagai oase bagi umat Islam yang ingin mengenal lebih dekat sosok teladan utama, Rasulullah saw. Melalui 33 kisah yang dikurasi secara khusus, penulis menghadirkan narasi-narasi sejarah yang paling menginspirasi, sarat hikmah, dan disusun dengan gaya bahasa yang mudah dipahami oleh berbagai kalangan usia.

Karya ini tidak hanya menyajikan urutan kronologi sejarah semata, tetapi juga mengemas nilai-nilai tauhid, keteladanan akhlak, dan semangat perjuangan dalam bentuk penceritaan yang renyah. Kehadiran buku ini sangat sejalan dengan dedikasi panjang Ustadz Moh. Shorih Al-Kholid di dunia pendidikan, khususnya komitmen beliau dalam pembinaan karakter santri dan pelajar di lingkungan Pondok Pesantren Cahaya Quran serta SMP Cahaya Quran.

Setiap kisah di dalam buku "33 Kisah Populer Sirah Nabawiyah" dipetik dari referensi-referensi otoritatif (muktamad) sejarah Islam klasik. Pembaca diajak menyelami kepingan perjalanan hidup Nabi; mulai dari keajaiban masa kecil, ujian berat dalam berdakwah di Makkah, strategi dan ketangguhan di medan juang, hingga momen-momen penuh haru di Madinah.

“Bulan Rabiul Awwal adalah waktu yang paling tepat untuk merefleksikan kembali kecintaan kita kepada Baginda Nabi. Buku ini disusun dengan harapan agar kisah-kisah agung beliau tidak hanya dihafal sebagai sejarah masa lalu, melainkan benar-benar hidup dan menginspirasi langkah keseharian umat, terutama generasi muda kita saat ini,” ungkap penulis.

Pemilihan waktu penerbitan pada bulan Rabiul Awwal 1448 H ini diharapkan dapat menjadi penyemarak majelis-majelis ilmu dan peringatan Maulid Nabi di berbagai daerah. Buku ini diproyeksikan menjadi bahan bacaan pendamping yang sangat ideal bagi institusi pendidikan formal, pesantren, majelis taklim, maupun perpustakaan keluarga yang mendambakan bacaan bermutu seputar keteladanan manusia paling mulia.

Peluncuran Buku Terbaru: Masterclass Safinatun Naja Karya Ustadz Moh. Shorih Al-Kholid, M.A.

Lamongan — Dunia pendidikan pesantren dan literasi kitab kuning kembali diperkaya dengan hadirnya sebuah karya inovatif terbaru. Ustadz Moh. Shorih Al-Kholid, M.A. secara resmi meluncurkan buku terbarunya yang berjudul "Masterclass Safinatun Naja — Eksplorasi Kitab Safinatun Naja, Makna Pegon, Penjelasan Kontekstual, dan Bedah Nahwu Shorof".

Buku komprehensif ini dirancang khusus untuk menjembatani tradisi keilmuan pesantren klasik dengan metode pembelajaran modern. Tidak hanya menyajikan terjemahan dan makna ala pesantren (Pegon) yang akurat, buku ini juga membedah kedalaman tata bahasa Arab (Nahwu dan Shorof) serta memberikan penjelasan kontekstual yang relevan dengan dinamika kehidupan kontemporer.

Menjawab Kebutuhan Pembelajaran Modern dan Ajang Kompetisi

Kehadiran buku Masterclass Safinatun Naja ini menjadi angin segar bagi para santri, pengajar, maupun pegiat kajian Islam. Selain sangat ideal dijadikan panduan mandiri (self-study), modul ini juga dipersiapkan secara matang untuk membimbing para santri dalam menghadapi ajang bergengsi seperti Musabaqah Baca Kitab Kuning (MBKK).

Dengan pendekatan analitis yang tajam—mulai dari penilaian aspek Nahwu-Shorof, pemahaman maksud teks (Fahmul Maudluiyyah), hingga simulasi tanya-jawab ala dewan juri (Munaqosyah)—buku ini diharapkan mampu melahirkan generasi santri yang tidak hanya mahir membaca teks gundul, tetapi juga paham secara mendalam dan komprehensif.

Dedikasi untuk Umat dan Tradisi Salaf

Sebagai seorang akademisi dan praktisi pendidikan yang aktif mendedikasikan diri dalam pengembangan lembaga Islam, Ustadz Moh. Shorih Al-Kholid, M.A. berharap karya ini dapat menjadi amal jariyah serta lentera ilmu bagi para penuntut ilmu di berbagai penjuru.

Buku Masterclass Safinatun Naja kini hadir sebagai referensi wajib bagi siapa saja yang ingin mendalami mazhab Syafi'i secara mendasar, terstruktur, dan aplikatif. Informasi pemesanan dan ketersediaan buku dapat diakses melalui jejaring lembaga dan mitra distribusi resmi terkait.

Friday, September 11, 2026

Khutbah Jumat: Teladan Nabi Saw sebagai Suami, Ayah, dan Pemimpin

Khutbah I

اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى الِه وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين،

 أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ الْبَرُّ الرَّحِيمُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمَبْعُوثُ بِالدِّيْنِ الْقَوِيمِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلَ الصَّلَاةِ وَالتَّسْلِيمِ.

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الْكَرِيْمِ، فَإِنِّي أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ الْحَكِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

 

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

 

Pertama, mari kita panjatkan rasa syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat iman dan kesempatan, sehingga kita masih bisa melaksanakan salah satu kewajiban sebagai seorang muslim; yaitu melaksanakan sholat jumat. Mungkin ada banyak orang di luar sana yang punya keinginan tinggi bisa mengikuti jamaah ini, namun terkendala sakit atau uzur syar’i lainnya.

 

Melalui mimbar ingkang mulia meniko, khotib mboten bosen untuk terus berwasiat terhadap diri pribadi khatib lan mugi-mugi sumerambah dumateng manah dan pribadi jamaah sedoyo. Anggen kitho netepi takwa dumateng Allah SWT; kaleyan sebenar-benarnya takwa.

 

Amergi, ukuran manusia terbaik di sisi Allah mboten dinilai kaleyan harta lan kekayaan, mboten dinilai kaleyan tingginya pangkat lan jabatan, ananging hanya dipun nilai kaleyan seberapa besar dan kuat tingkat ketakwaan kita kepada Allah SWT. Yakni, dengan cara melaksanakan sedoyo perintahipun Gusti Allah lan nebihi sedoyo larangan-laranganipun Allah SWT.

 

Hadirin yang dirahmati Allah,

 

Bulan Maulid seringkali kita isi dengan berbagai perayaan, pembacaan barzanji, sholawatan, hingga pembacaan sejarah kehidupan Baginda Rasulullah saw. Namun, esensi tertinggi saking perayaan meniko ialah membuka kembali lembaran Sirah Nabawiyah dari sosok teladan; panutan terbaik sepanjang zaman. Mboten sekadar sebagai cerita sejarah masa lalu, melainkan sebagai buku panduan kangge pembentukan karakter-akhlak yang paling sempurna kangge kehidupan kitho sebagai umatnya hari ini.

 

Al-Qur’an menegaskan:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

 

“Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).

 

Keteladanan ingkang dipun tunjukkan Rasulullah ini benar-benar nyata dalam setiap sisi kehidupan beliau. Wonten ing kesempatan meniko, monggo kitha tarik sedikir lembaran Sirah Nabawiyah yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, yang mungkin sedang kita jalani saat ini.

 

Pertama, Teladan di Tengah Keluarga dan Kesibukan Kerja

Banyak dari kita yang menghabiskan waktu seharian untuk bekerja—baik sebagai pendidik, mengelola bisis usaha, merintis karya, atau bekerja sebagai karyawan. Terkadang, kelelahan bekerja seharian membuat kita menempatkan diri bak seorang raja saat tiba di rumah. Seringnya, kita menunggu dilayani oleh istri.

 

Namun, sejenak kita lihat teladan manusia paling sibuk, pemimpin umat, panglima perang, dan rasul utusan Allah. Suatu ketika, Sayyidah Aisyah ra. pernah ditanya tentang apa yang dilakukan Nabi saw di rumah. Beliau menjawab:

كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ

“Nabi biasa membantu pekerjaan keluarganya. Ketika waktu shalat tiba, beliau keluar untuk melaksanakan shalat.” (HR. Bukhari).

 

Riwayat-riwayat menyebutkan bahwa Nabi Muhammad saw mboten gengsi menjahit pakaiannya sendiri, memperbaiki sandal beliau, atau membantu pekerjaan dapur. Di zaman modern sekarang, mempraktikkan Sirah Nabawiyah bisa dilakukan dengan cara sederhana lewat misalnya seorang suami yang bersedia mencuci piring, menyapu rumah, atau meluangkan waktu berbincang hangat dengan istri tentang perkembangan anak-anak. Meskipun bisa jadi kondisi badan sedang lelah setelah seharian bekerja. Menikolah contoh-contoh sederhana perbuatan sunnah dan akhlak kenabian ingkang saget kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Kedua, Teladan dalam Mendidik Anak dan Mengekspresikan Kasih Sayang

Sebagai orang tua, terkadang kitho terjebak pada pandangan bahwa wibawa seorang ayah diukur dari sikap tegas, kaku, lan jarak emosional—terutama kepada anak laki-laki. Sebagain dari kita terkadang gengsi untuk sekadar memeluk atau mencium anak kita yang mulai beranjak besar.

 

Suatu ketika, Rasulullah Saw mencium cucunya, Hasan bin Ali. Seorang sahabat bernama Al-Aqra’ bin Habis terheran-heran melihatnya. Dia mengaku memiliki sepuluh anak, namun mboten pernah sekalipun mencium satu pun di antara mereka. Rasulullah Saw menatapnya dan bersabda:

 

إِنَّ مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ

 

“Sungguh, siapa saja yang tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” (HR. Ahmad).

 

Membaca Sirah Kanjeng Rasulullah saw meniko, kita menyadari bahwa pelukan seorang ayah kepada putranya, waktu luang yang diberikan untuk mendengarkan cerita mereka, serta ketulusan mendampingi mereka belajar atau bahkan bermain, adalah bagian dari syariat ingkang diajarkan lan dicontohkan oleh Baginda Rasulullah saw. Anak-anak kita sesungguhnya lebih membutuhkan kehangatan sosok ayah secara langsung daripada sekadar fasilitas materi yang kita sediakan.

 

Ketiga, Teladan Pendidik dan Pemimpin dalam Membina Bawahan

Bagi sebaian kita ingkang diberikan amanah sebagai guru, pimpinan organisasi, pimpinan di kantor, atau yang lainnya, kita sering kali dihadapkan pada kesalahan bawahan atau murid-murid kita. Respons pertama yang sering muncul adalah teguran keras, sindiran, atau bahkan kemarahan.

 

Sahabat Anas bin Malik ra. Ingkang dados menjadi pelayan sekaligus Rasulullah selama sepuluh tahun bercerita:

 

خَدَمْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ سِنِينَ وَمَا كُلُّ أَمْرِي كَمَا يُحِبُّ صَاحِبِي أَنْ يَكُونَ مَا قَالَ لِي فِيهَا أُفٍّ وَلَا قَالَ لِي لِمَ فَعَلْتَ هَذَا وَأَلَّا فَعَلْتَ هَذَا

 

“Aku telah melayani Rasulullah selama sepuluh tahun. Tidak semua urusanku sesuai dengan apa yang beliau sukai. Namun, beliau tidak pernah mengatakan kepadaku, ‘ah’, tidak pula menginterogasi, ‘Mengapa engkau melakukan ini?’ atau, ‘Mengapa engkau tidak melakukan ini?’” (HR. Ahmad).

 

Hasil didikan Rasulullah saw ini membekas dalam diri Anas bin Malik, menjadikan keberkahan dalam kehidupan beliau. Anas bin Malik tercatat sebagai salah satu sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits, anak keturunanannya banyak dan sholeh solehah, kebunnya luas dan sangat subur hingga berbuah melimpah.

Lewat teladan ini, kita mengenal sosok Rasulullah saw ingkang fokus pada pembinaan dan perbaikan sistem, mboten sekadar melampiaskan emosi atas kesalahan individu. Jika kita sebagai pendidik, pimpinan organisasi atau pekerjaan mampu menahan amarah, mengarahkan dengan bahasa yang santun, dan membimbing anak didiknya dengan sabar, sesungguhnya kita sedang membumikan Sirah Nabawiyah di ruang-ruang kelas dan kantor tempat kita bekerja.

 

Ma’asyiral Muslimin, jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

 

Sebagai penutup khatib mengutip perkataan Imam Ibnu Hazm, "Siapa saja yang menginginkan kebaikan akhirat, kebijaksanaan dunia, dan keutamaan akhlak, hendaklah ia meneladani Nabi Muhammad Saw semampunya."

 

Mugi-mugi momentum peringatan Maulid meniko mboten sekadar lewat sebagai agenda tahunan, tetapi benar-benar mengubah cara kita bersikap sebagai suami, sebagai ayah bagi anak-anak kita, dan sebagai pendidik serta pemimpin di masyarakat. Amin ya Rabbal alamin...

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

Khutbah II

الْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ. اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ اِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلاَئِقِ وَالْبَشَرِ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

 

اَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهَ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ:

 اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

 

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ اَدْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتْنَةِ وَالْمِحَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

رَبَّنَا اَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ.


Tuesday, April 7, 2026

• Keringat Bapak dan Sebuah Perjalanan •

Sore itu, udara pesantren terasa lebih sejuk. Saya duduk melingkar bersama para santri kelas sembilan. Di wajah-wajah muda itu, ada binar keingintahuan. Ada harap yang tak sabar ingin diucapkan.

Hingga akhirnya, sebuah tanya memecah keheningan.

"Ustadz, kenapa kelas sembilan gak ada rekreasi?" tanya seorang dari mereka.

Pertanyaan itu seperti magnet. Teman-temannya serempak mengangguk, mengiyakan. Mata mereka menatap saya lekat-lekat. Menunggu jawaban yang mungkin bisa melonggarkan kebijakan.

Saya tersenyum tipis. Menarik napas perlahan.

"Jangankan rekreasi, Nak," jawab saya pelan. "Wisuda saja, kalau tidak ada persetujuan dari wali santri, akan ditiadakan."

Hening merayap turun. Senyum di wajah mereka tertahan. Mereka tak menduga jawaban itu.

"Apa pertimbangannya, Ustadz?" tanya yang lain, lebih hati-hati.

"Biaya."

Satu kata. Singkat, tapi berat. Saya tatap mata mereka satu per satu. Usia belasan tahun memang masa rindu jalan-jalan. Tapi, ada realitas yang harus mereka sentuh sedini mungkin.

"Dunia hari ini sedang tidak baik-baik saja. Ekonomi global tak menentu. Harga BBM dua, tiga bulan ke depan, siapa yang berani jamin? Harga gas LPG pun sama. Laporan Mbak Koki di dapur, gas sudah mulai sulit didapat. Apalagi barang-barang plastik. Semuanya ikut merangkak naik."

Saya beri jeda. Biar kata-kata itu mengendap di dada mereka.

"Harga bahan pokok naik. Pengeluaran di rumah meningkat. Tabungan keluarga mulai tergerus. Sementara... gaji orang tua kalian tetap-tetap saja."

Mereka menunduk. Mendengarkan dengan saksama.

"Lalu, apakah pantas kita meminta mereka mengeluarkan biaya lagi untuk kegiatan sekunder semacam rekreasi? Kelas menengah ke atas saja, sekarang harus berpikir dua kali untuk urusan seperti ini. Apalagi keluarga yang keuangannya pas-pasan."

Saya tak ingin mematahkan semangat mereka. Saya hanya ingin meminjamkan kacamata saya, agar mereka bisa melihat peluh orang tuanya.

Lalu, saya ajak mereka memutar waktu.

"Coba kalian ingat. Tahun 2025 lalu, kita ziarah ke makam Wali di Jawa Tengah. Apa ada satu pun santri yang ditarik bayaran?"

Mereka kompak menggeleng. "Tidak, Ustadz."

"Tahun 2026, kita berangkat ziarah ke Wali Jombang. Lanjut menuju Masjid Syekh Zayed dan berwisata di Solo. Semua wali santri, apa ada yang dimintai iuran?"

"Tidak ada," jawab mereka lagi. Suara mereka kini lebih lembut. Mulai mengerti arah pembicaraan ini.

"Pondok hanya minta orang tua memberikan uang saku untuk kalian. Itu pun kita batasi, maksimal seratus lima puluh ribu per anak. Sekalipun, ya, namanya orang tua... tetap saja ada yang diam-diam mentransfer lebih karena saking sayangnya pada kalian."

Sebagian santri tersenyum kecil. Mereka tahu kebiasaan bapak-ibunya.

"Begitulah cara kami mengelola lembaga ini, Nak. Kalau memang mau rekreasi, usahakan jangan pernah memberatkan wali santri."

Saya tutup obrolan sore itu dengan sebuah prinsip. Prinsip yang selalu menjaga kemudi pesantren ini.

"Tugas pondok adalah mencari jalan. Piye carane tetap bisa berangkat, tanpa harus menarik iuran dari keringat wali santri."

Sore perlahan menua. Obrolan usai. Namun dari sorot mata para santri kelas sembilan itu, saya melihat sesuatu yang baru saja mekar: rasa syukur dan kedewasaan.

PPCQ, 7 April 2026 @ms.kholid

• obrolan dan alur cerita adalah nyata. Dimodifikasi oleh Gemini AI

Mengaji Kehidupan dari Lembaran Fiksi

 Gema selawat bakda Maghrib perlahan senyap. Udara malam mulai menyelimuti pelataran asrama. Di ruang utama, para santri sudah duduk melingkar. Rapi, bersila, menanti.

Di hadapan mereka, kitab Akhlak Lil Banin sudah terbuka. Lembarannya yang menguning memantulkan cahaya lampu. Ini jadwal rutin. Waktunya mengaji kitab kuning. Waktunya belajar tata krama dan adab kehidupan.

Namun malam ini, saya melangkah masuk dengan membawa sesuatu yang berbeda. Bukan kitab tebal. Hanya beberapa lembar kertas fotokopian.

Saya duduk. Menatap wajah-wajah muda yang menunduk takzim.

"Tutup kitab kalian," kata saya pelan.

Terdengar suara kresek kertas serempak. Beberapa dahi berkerut halus. Bingung, tapi tak berani bertanya.

Saya membagikan lembaran yang saya bawa. Lembaran berisi sebuah cerita pendek. Sebuah fiksi.

"Malam ini, kita tidak membaca teks Arab," ujar saya memecah rasa penasaran mereka. "Kita akan membaca cerpen."

Mata mereka berbinar. Ada antusiasme yang tertahan. Membaca cerpen di waktu ngaji kitab adalah oase kecil. Sesuatu yang tak biasa. Sesekali, memang sengaja saya lakukan.

"Ustadz, kita tidak ngaji akhlak?" tanya seorang santri, memberanikan diri.

Saya tersenyum. "Siapa bilang? Kita justru sedang mengaji akhlak."

Saya menunjuk lembaran di tangan mereka. "Di dalam Akhlak Lil Banin, kita diajari adab lewat dalil dan nasihat langsung. Di dalam cerpen ini, adab dan akhlak itu hidup. Mereka menjadi manusia. Mereka bernapas, berbuat salah, menangis, dan belajar."

Kelas hening. Mereka mendengarkan.

"Sastra yang baik adalah cermin. Dari cerita orang lain, kita belajar menyelami kehidupan tanpa harus tenggelam. Kita memungut hikmah."

Saya memberi jeda sejenak, membiarkan angin malam menyusup lewat ventilasi.

"Jika tokoh dalam cerita ini berbuat buruk dan hancur, jadikan itu rambu-rambu. Jangan sampai kebodohan itu terjadi pada kita. Jika tokoh ini berbuat baik dan mulia, jadikan itu lentera. Tiru jalannya."

Itulah alasan terbesar saya. Mengapa sastra punya ruang di tengah ketatnya jadwal pesantren. Sastra melembutkan hati yang kaku. Mengajarkan empati sebelum menghakimi.

"Tapi ingat," suara saya sedikit meninggi, mengembalikan fokus mereka. "Membaca cerpen ini bukan sekadar untuk hiburan. Bukan sekadar dibaca, tamat, lalu tidur."

Saya mengambil spidol, bersiap menulis di papan tulis.

"Tugas kalian bukan sekadar membaca. Tapi merenung. Setelah selesai, ambil buku tulis kalian. Lakukan refleksi. Tuliskan hikmah apa yang kalian petik. Pelajaran apa yang menampar hati kalian dari cerita ini."

Malam itu, ruang ngaji tidak diisi dengan suara lantunan makna gandul khas pesantren. Ruang itu diisi oleh kesenyapan yang khusyuk. Suara helaan napas yang terbawa emosi cerita, dan bunyi gesekan mata pena di atas kertas.

Mereka sedang mengaji. Mengaji kehidupan.

PPCQ, 

6 April 2025

@ms.kholid

Gaji Pengasuh Bayi dan Realita Jas Putih


Ruang kelas petang itu terasa hangat. Angin berhembus pelan dari jendela-jendela kayu yang terbuka. Di hadapan saya, deretan santri duduk bersila. Mata mereka menatap penuh tanya. Ini waktunya kami bertukar wawasan. Membuka jendela dunia yang mungkin belum pernah mereka intip sebelumnya.

Saya membuka obrolan dengan sebuah cerita yang sedang ramai diperbincangkan.

"Pekan lalu, linimasa media sosial ramai," kata saya memulai. "Ada seorang ibu mencari babysitter premium untuk anaknya. Gajinya fantastis, 8,5 juta per bulan."

Beberapa santri terbelalak. Angka yang besar untuk ukuran pengasuh anak.

"Tapi, bukan nominal itu yang membuat heboh," lanjut saya. "Kalian tahu siapa yang meramaikan kolom komentar? Siapa yang berminat melamar?"

Mereka menggeleng.

"Banyak dari kalangan dokter dan perawat profesional."

Kelas mendadak riuh rendah. Kasak-kusuk kecil terdengar. Wajah-wajah muda itu menyimpan keheranan yang tak bisa disembunyikan.

"Lho, kok bisa, Ustadz?" celetuk salah seorang santri. "Bukannya gaji dokter itu sudah sangat besar? Kan jasnya putih, kerjanya di rumah sakit megah."

Saya tersenyum. Kepolosan mereka adalah kanvas yang tepat untuk melukiskan realita.

"Kenyataannya tidak selalu seindah sinetron, Nak. Gaji dokter umum di banyak tempat itu berkisar antara lima sampai delapan juta setiap bulannya. Tergantung tempat dan seberapa padat jadwal praktiknya."

Hening sejenak. Saya membiarkan mereka mencerna fakta itu.

"Seorang mentor finansial saya pernah bilang sesuatu yang cukup menohok," saya melanjutkan, menyandarkan punggung sejenak. "Menurut beliau, jika dihubungkan dengan penghasilan kelak, jurusan kedokteran itu bisa jadi salah satu scam atau ilusi terbesar di dunia pendidikan kita."

Dahi mereka berkerut. Kata scam mungkin terdengar kasar. Tapi mari kita hitung pakai logika. Saya berjalan ke papan tulis, mengambil spidol hitam.

"Mari kita hitung kasar. Anggaplah kalian masuk kedokteran jalur mandiri. Uang pangkalnya saja bisa tembus 300 sampai 500 juta. Kita ambil angka maksimal, 500 juta." Saya menuliskannya di papan.

"Biaya per semester anggap 30 juta. Kalau lulus normal delapan semester, total 240 juta. Belum kos dan makan. Katakanlah tiga juta per bulan selama empat tahun. Total 144 juta. Lalu ada biaya ujian praktik, alat-alat, dan lain-lain, sebut saja 100 juta."

Saya menarik garis panjang di bawah deretan angka itu.

"Totalnya hampir satu miliar. Sembilan ratus delapan puluh empat juta rupiah."

Santri-santri terdiam. Mulut mereka sedikit terbuka. Satu miliar adalah angka yang mengawang-awang bagi sebagian besar dari mereka.

"Jika setelah lulus kalian bekerja menjadi dokter dengan gaji 8 juta per bulan, butuh berapa lama untuk balik modal?" saya melempar tanya.

Mereka mulai menghitung di luar kepala.

"Seratus dua puluh lima bulan, Nak," jawab saya memecah keheningan. "Kalian harus bekerja sepuluh tahun lebih, tanpa makan, tanpa jajan, hanya untuk mengembalikan modal kuliah. Kenapa? Karena negara kita memang belum sepenuhnya fokus pada peningkatan kesejahteraan tenaga kesehatan."

Saya meletakkan spidol. Menatap mereka dengan sorot mata yang melembut.

"Tentu, ini adalah pandangan kacamata finansial. Pandangan dari seorang pengusaha kaya tentang bagaimana menghitung nilai investasi pendidikan."

Saya berjalan mendekati mereka.

"Ustadz tidak sedang melarang kalian menjadi dokter. Sama sekali tidak. Profesi dokter itu mulia. Menyelamatkan nyawa itu pahalanya tak terputus."

Saya memberi jeda. Memastikan kalimat terakhir ini masuk ke dalam relung hati mereka.

"Tapi, wawasan ini penting Ustadz bagikan. Agar kelak, saat kalian memilih jurusan, kalian tidak hanya mengejar gengsi atau tertipu ilusi. Kalau kalian ingin jadi dokter, jadilah karena panggilan jiwa untuk mengabdi, bukan karena mengejar tumpukan materi. Karena jika murni mencari kaya, hitungannya tidak akan pernah masuk."

Sore itu ditutup dengan tatapan yang berbeda dari para santri. Ada pemahaman baru yang tumbuh. Bahwa hidup membutuhkan perhitungan yang matang, namun pengabdian membutuhkan hati yang lapang.

PPCQ, 7 April 2026

@ms.kholid


Adv.

IKLAN Hubungi: 0896-2077-5166 (WA) 0852-1871-5073 (Telegram)