Friday, October 16, 2026

Khutbah Jumat: Menyiapkan Warisan Kebaikan yang Pahalanya Terus Mengalir

Khutbah Jumat: Menyiapkan Warisan Kebaikan yang Pahalanya Terus Mengalir

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلىَ عَبْدِهِ الْكِتَابَ تَبْصِرَةً لِأُوْلِي الْأَلْبَابِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ رَبُّ الْأَرْبَابِ، الَّذِي خَضَعَتْ لِعَظَمَتِهِ الرِّقَابُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ إِلى خَيْرِ أُمَّةٍ بِأَفْضَلِ كِتَابٍ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْأَنْجَابِ.

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْأَحْبَابُ، أُوْصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فقد فاز المتقون، فقال تعالى فِي كِتَابِهِ الكريم: إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

Ma’asyiral Muslimin, jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT ingkang tasik memberikan kita nikmat sehat, nikmat iman, lan kesempatan untuk melangkahkan kaki ke masjid ini guna menunaikan salah satu kewajiban kita sebagai muslim; yaitu shalat Jumat. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Agung Muhammad SAW, beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya yang setia meneladani sunnahnya hingga akhir zaman.

Mengawali khutbah ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi lan mugi-mugi sumerambah dateng sedoyo jamaah: monggo kita senantiasa berusaha meningkatkan takwaan kepada Allah SWT, dengan cara ngelampahi sekuat tenaga perintah-perintah ipun Allah lan nilar (utawi nebihi) sedoyo larangan-larangan-Nya. Amergi, Takwa itulah yang akan menjadi parameter kemuliaan seseorang di hadapan Allah SWT. إن أكرمكم عند الله أتقاكم

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah...

Kita sedoyo sadar bahwa hidup di dunia meniko ada batasnya. Cepat utawi lambat, setiap dari kita pasti bakal menemui kematian. Namun, ingkang perlu kita semua tahu; bahwa kematian jasad kita bukanlah akhir dari segalanya? Berakhirnya usia di dunia mboten berarti terputusnya pula seluruh catatan pahala kita.

Jasad kita boleh saja terkubur di dalam tanah, suara kita mungkin tidak lagi terdengar, bahkan nama kita perlahan dilupakan orang. Ananging, jejak-jejak kebaikan ingkang pernah kita lampahi, pernah kita tanam semasa hidup akan terus dicatat oleh Allah SWT—selama manfaatnya masih dipun raosaken oleh orang lain. Allah SWT berfirman wonten Al-Qur’an Surat Yasin ayat 12:

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

Artinya: “Sesungguhnya Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kami (pulalah) yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan). Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata (Lauh Mahfuz).”

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan makna kata "Aatsarahum" (bekas-bekas atau jejak yang ditinggalkan). Beliau menerangkan bahwa jika seseorang memulai atau mencontohkan suatu kebaikan semasa hidupnya, lalu kebaikan itu ditiru dan dilanjutkan oleh orang lain setelah ia wafat, maka ia akan terus mendapatkan aliran pahalanya—tanpa mengurangi pahala orang yang mengerjakannya sedikit pun.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Pertanyaan penting berikutnya ialah: Investasi akhirat nopo ingkang saget kita siapkan mulai hari ini supaya pahalanya terus mengalir meski kita sudah tiada?

Rasulullah SAW sampun paring bocoran lan panduan ingkang sangat jelas lewat sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لِابْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ

Artinya: “Sungguh, di antara amal dan kebaikan seorang mukmin yang akan terus menyertainya setelah kematiannya adalah: ilmu yang ia ajarkan dan sebarkan, anak saleh yang ia tinggalkan, mushaf Al-Qur’an yang ia wariskan, masjid yang ia bangun, rumah singgah yang ia bangun untuk para musafir, air yang dia alirkan, dan sedekah yang ia keluarkan dari hartanya saat ia masih sehat dan hidup. Semua itu akan menyertainya setelah ia wafat.”

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Monggo kitho renungkan pesan Nabi tersebut untuk konteks zaman sekarang:

  1. عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ  Menyebarkan Ilmu yang Bermanfaat: Ini tidak hanya berlaku bagi ustadz atau guru. Di era digital saat meniko, ketika kita membagikan konten dakwah yang positif, mengajarkan keterampilan kerja kepada orang lain, utawa menulis hal-hal positif di media sosial yang menginspirasi orang lain berbuat baik, sedoyo meniko mboten sekadar kangge viral utawi monetisasi, tetapi saget dados tabungan pahala jariyah. Sak wangsulipun, hati-hati ampun ngantos kita mewariskan postingan-postingan yang buruk, fitnah, atau bahkan menginsipirasi orang lain berbuat jahat lan maksiat.
  2. وَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ  Mendidik Anak yang Saleh dan Salehah: Harta ingkang kita tinggalkan, bisa habis dibagi sebagai warisan. Tetapi iman, akhlak lan perilaku baik yang kita tanamkan pada anak-anak kita akan menjelma menjadi kiriman pahala yang menerangi alam kubur kita.
  3. وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ  Mewakafkan Mushaf Al-Qur’an dan Buku Agama: Menyumbangkan Al-Qur’an ke masjid, pesantren, atau TPQ. Maka, setiap huruf yang dibaca oleh para santri dan jamaah akan mengalirkan pahala kangge kita.
  4. أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ  Terlibat dalam Pembangunan Masjid dan Fasilitas Umum: Meski hanya menyumbang satu sak semen, beberapa lembar rupiah di kotak amal, atau tenaga untuk merawat rumah ibadah, shelter musafir, panti asuhan, maupun rumah sakit.
  5. أَوْ بَيْتًا لِابْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ  Mengalirkan Air dan Menjaga Lingkungan: Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam sebuah syairnya menambahkan bahwa termasuk amal jariyah inggih menggali sumur dan menanam pepohonan. Dalam konteks kehidupan sekarang, kitho saget aplikasikan dalam bentuk patungan membuat sumur bor kangge daerah yang kekeringan, menyediakan air minum gratis, utawi menanam pohon yang buahnya dimakan makhluk hidup serta rindangnya meneduhkan lingkungan.
  6. أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ  Bersedekah Selagi Sehat: Baginda Rasulullah saw mewasiatkan sedekah meniko jangan nunggu tua, jangan nungu sakit keras, utawi menjelang ajal baru bersedekah. Sedekah terbaik menturut Kanjeng Rasulullah saw ialah saat kita masih sehat, masih cinta pada harta, namun rela menyisihkannya demi kebaikan sesama.

Hadirin ingkang dipun dirahmati Allah,

Saking daftar kebaikan ingkang disebutkan baginda Rasulullah saw, dapat disimpulkan bahwa: setiap kebaikan yang manfaatnya berumur panjang, maka pahalanya pun berumur panjang. Senyum dan teladan baik yang kita ajarkan di tengah keluarga, pohon ingkang kita tanam, hingga fasilitas kecil yang kita perbaiki di lingkungan RT kita, sedoyo meniko saget dados saksi lan penolong kita kelak di pengadilan akhirat.

Keranten meniko, mumpung nyawa masih dikandung badan, mumpung Allah tasik memberi kita waktu lan rezeki, monggo diupayakan menanam benih kebaikan sekuat lan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Jangan biarkan kita meninggalkan dunia ini tanpa meninggalkan jejak kebaikan lan manfaat bagi sesama.

Mugi-mugi Allah SWT senantiasa paring taufik dan kekuatan kangge kita untuk senantiasa berbuat baik, menjadikan kita hamba-hamba yang bermanfaat, dan mengumpulkan kita kelak di surga-Nya bersama orang-orang yang saleh. Amin ya Rabbal 'Alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَأُذُنٌ بِخَبَرٍ.

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اِتَّقُوا اللّٰهَ تَعَالَى، وَذَرُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمُعَةِ وَالْجَمَاعَةِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى وَلَمْ يَزَلْ قَائِلًا عَلِيْمًا: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَارِنَا آخِرَهَا، وَخَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيْمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ فِيْهِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

 

Thursday, October 15, 2026

Download Kitab Masterclass Muqaddimah Qonun Asasi KH Hasyim Asy'ari

"Nggarap opo seh, Ya?" tanya istri melihat saya yang nggetu di depan laptop sepekan lebih terakhir.

"Yo, mergawe," jawab saya.

"Mergawe opo?"

"Nulis..." 

Beberapa kali istri menanyakan kesibukan saya yang serius di depan laptop, kalau sedang di kamar. 

Yupz, saya sedang proses nggarap buku ebook "Masterclass Muqaddimah Qonun Asasi" ini. Penyusunan buku digarap khsusus bagi santri yang hendak mempersiapkan diri mengikuti lomba baca kitab tersebut. 

Karena itu konsepnya, disusun sebagai berikut:

• Teks Arab 

• Makna Jawa 

• Penjelasan Kontekstual 

• Perkiraan tanya jawab masalah nahwu, Shorof, dan pemahamannya 

Sehingga, buku ini menjadi komprehensif bagi calon peserta. 

Kitab Muqaddimah Qonun Asasi sendiri tidak terlalu tebal. Sehingga sekitar seminggu juga cukup untuk dipelajari sebagai persiapan mengikuti perlombaan. 

Semoga bermanfaat...! 

Unduhan kitabnya ada di lynk.id milik saya. Free, gratis. Sengaja saya taruh di lynk.id untuk mengetahui seberapa banyak kitab ini diunduh. 

✓ https://lynk.id/ms.kholid/r6qq1qqmre8r/checkout

Friday, October 9, 2026

Jadwal Haji Maju ke 2033: Kenapa Saya Pilih Nabung Emas Daripada Rupiah


Gara-gara kemarin ada info percepatan berangkat haji dari Kementerian Agama, saya jadi iseng-iseng mengecek perkiraan jadwal keberangkatan.

Ternyata, jadwalnya agak maju! Beberapa tahun lalu saat saya cek, jadwalnya baru di tahun 2036. Sekarang maju 3 tahun menjadi tahun 2033. Alhamdulillah.

Artinya, masih ada waktu 7 tahun lagi untuk menabung sebagai alokasi pelunasan biaya haji. Nah, untuk urusan tabungan jangka panjang seperti ini, saya punya satu catatan penting: sebaiknya menabunglah dalam bentuk emas, jangan menabung Rupiah.

Kenapa begitu? Karena nantinya uang Rupiah yang kita pegang hari ini akan terasa tidak bernilai lagi di masa depan.

Jika kita mencermati tren ekonomi di negara ini, sepertinya sangat sulit berharap nilai tukar Rupiah bisa menguat lagi hingga di bawah Rp15.000 per 1 Dolar AS. Ingat, semua operasional haji itu pada akhirnya diukur dengan Dolar. Biaya untuk membayar pesawat dan menyewa hotel di Tanah Suci dibayar menggunakan Dolar (atau mata uang yang dipatok kuat padanya), bukan pakai Rupiah.

Mari kita bandingkan dua kemungkinan simulasi kasar yang sangat masuk akal terjadi dalam 7 tahun ke depan:

Simulasi 1: Pelemahan Nilai Tukar Rupiah

 * Tahun 2026: 1 Dolar = Rp17.800

 * Tahun 2033: 1 Dolar bisa-bisa sudah merangkak naik hingga Rp25.000.

Simulasi 2: Kenaikan Harga Emas

 * Tahun 2026: Emas 1 gram = Rp2.600.000

 * Tahun 2033: Emas 1 gram bisa mencapai Rp5.000.000

Dari simulasi kedua ini, logikanya sangat sederhana. Jika uang Rupiah sebesar Rp50.000.000 Anda belikan emas hari ini, pada tahun 2033 nanti emas tersebut berpotensi bisa dijual senilai Rp100.000.000 (naik hampir dua kali lipat mengikuti inflasi dan nilai tukar).

Namun, jika Rp50 juta tersebut hanya ditabung biasa di bank, di tahun 2033 nominalnya mungkin akan tetap Rp50 juta (bahkan berkurang dipotong biaya admin), sementara daya belinya sudah merosot tajam.

Sebagai ilustrasi tambahan di blog ini, Anda bisa mencoba sendiri simulasi interaktif di bawah ini untuk melihat perbandingan jika kita memegang emas vs memegang uang tunai selama 7 tahun ke depan:

Mempersiapkan dana pelunasan haji bukan hanya soal berapa banyak yang bisa kita kumpulkan hari ini, tetapi juga soal bagaimana kita menjaga nilainya agar tidak tergerus zaman.

Jadi, untuk persiapan finansial Anda, Anda pilih simulasi yang mana?

✍️ Ditulis oleh: Moh. Shorih Al-Kholid

Wednesday, September 30, 2026

Haul Ke-21 Mengenang Kiai Baqir Adelan: Sang Guru Multi-Talenta dan Beratnya Meniru Istiqomah Beliau

 

• Haul Ke-21 Mengenang Kiai Baqir Adelan: Sang Guru Multi-Talenta dan Beratnya Meniru Istiqomah Beliau • 

Hari ini, bertepatan dengan haul ke-21, guru kami, Kiai kami, Almaghfurlah KH. Muhammad Baqir Adelan. Beliau adalah salah satu pengasuh Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah, Kranji, Paciran—pondok pesantren tertua di Kabupaten Lamongan. 

Mengenang beliau di hari haul ini rasanya bukan sekadar membangkitkan memori, tapi juga membuat kami menertawakan diri sendiri. Betapa kecilnya peran yang sudah kami lakukan jika dibanding dengan apa yang telah beliau kerjakan. 

Saya dan teman-teman sesama alumni—terutama teman-teman Gus dan putra kiai yang dulu sama-sama nyantri di Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah—kerapkali menertawakan diri sendiri jika mengingat kehebatan kiprah beliau.

Semasa hidup, Kiai Baqir adalah sosok yang multi-talenta. Jika diingat-ingat, setidaknya ada 7 keistimewaan beliau yang sampai sekarang bikin saya sebagai santrinya geleng-geleng kepala karena begitu sulit ditiru:

1. Alim dalam Berbagai Disiplin Ilmu

Penguasaan kitab kuning beliau sangat luar biasa. Ada satu kenangan yang tak terlupakan tentang kedalaman ilmu beliau. Dulu, sewaktu saya masih kuliah di LIPIA Jakarta, Kiai Baqir berpesan, 

"Jangan lupa setiap liburan datang ke sini, ke pondok, cerita ke saya." 

Suatu ketika, saya sowan dan ditemui langsung oleh beliau di kursi ruang tengah ndalem (masuk lewat pintu samping barat). 

Beliau bertanya, "Oleh apa (Dapat ilmu apa) di LIPIA?" 

Saya pun bercerita banyak hal, termasuk betapa kuatnya dorongan di LIPIA untuk memelihara jenggot dan larangan isbal (bercelana di bawah mata kaki). Di lingkungan NU, hal itu dipandang sebagai sunah biasa, tapi di sana ditekankan dengan sangat kuat. Saya sampaikan dalil-dalil pemahaman yang saya dapatkan. 

Kiai Baqir tersenyum. Lantas menanggapi dengan menjabarkan dalil-dalil lain yang lebih luas, lengkap dengan syarah (penjelasan) dari para ulama ahli hadis dan berbagai pandangan dari ragam kitab yang beliau kuasai. Beliau membuka wawasan saya betapa luasnya samudra ilmu agama.

2. Istiqomah Mengimami Jamaah

Di sela kesibukannya, beliau sangat menjaga salat berjamaah lima waktu bersama para santri. Zuhur, Asar, Maghrib, Isyak, dan Subuh. Semuanya hampir selalu ada bersama beliau di masjid pondok. 

Hebatnya lagi, beliau tak segan ke gotak'an untuk membangunkan salat subuh. 

Seingat saya setiap bakda sholat, selalu ada wirid atau Hizib yang dibaca. Seperti Hizb Nawawi, Wirdul Lathif, atau Ratibul Haddad. Hanya bakda Zuhur yang wiridan biasa. 

3. Istiqomah Ngaji Kitab

Pagi beliau ngaji kitab Tafsir Jalalain, sore ngaji Al-Jami' As-Shaghir, dan bakda isya lanjut lagi Tafsir Jalalain. Kalaupun ada undangan keluar, beliau tetap menyempatkan ngaji terlebih dulu--walaupun hanya 10 atau 15 menit agar "syarat istikamahnya" tertunaikan.

4. Jago Ceramah Tanpa Mengorbankan Pondok

Beliau sering diundang ceramah oleh masyarakat untuk mengisi berbagai kegiatan keagamaan. 

Luar biasanya, semua itu dilakukan tanpa mengganggu aktivitas rutin beliau di pondok sebagai pengasuh, baik sebagai imam jamaah maupun mengaji kitab.

5. Kepedulian Sosial yang Tinggi

Bilamana ada warga Desa Kranji, masyarakat sekitar, para guru, atau bahkan alumni yang beliau kenal meninggal dunia, beliau hampir selalu menyempatkan waktu untuk hadir bertakziah langsung ke rumah duka keluarga yang ditinggalkan.

6. Aktif Berjuang di Organisasi dan Politik

Beliau aktif di organisasi keagamaan; menjadi pengurus PWNU Jawa Timur dan menjadi Syuriyah PCNU Lamongan. 

Bahkan, di dunia politik. Saat awal berdirinya PKB dari rahim NU, beliau juga ikut bahu membahu proses perkembangan PKB di Lamongan--Paciran khususnya. 

Bahkan, cerita dari orang dekatnya, beliau sampai rela mengeluarkan uang pribadi untuk membeli atribut partai kala itu.

7. Seorang Businessman

Di balik sosoknya sebagai kiai, beliau juga seorang pengusaha. Beliau memiliki usaha penggergajian kayu, pembuatan mebel dari kayu jati, hingga pembuatan kapal untuk nelayan.

Kiai, guru, tokoh masyarakat, organisatoris, politisi, dan pengusaha—semua berpadu di dalam diri beliau.

Mengingat sosok beliau hari ini membuat saya sadar betul betapa sulitnya meniru jejak itu. 

Hari ini, ketika saya diamanahi menjadi pembina di asrama Pondok Pesantren Cahaya Qur'an, saya merasakan langsung betapa beratnya mengombinasikan urusan santri dengan urusan duniawi. Membagi waktu istiqomah jadi imam jamaah 5 waktu dengan mengurusi usaha konveksi yang saya kelola sering kali membuat saya kewalahan. Kadang, ada saja yang terpaksa harus dikalahkan.

Belum lagi ketika istri saya ada jadwal mengisi ceramah di desa, kecamatan, atau kabupaten sebelah. Tentu, saya yang harus mengantar. Hal itu pasti menguras waktu dan tenaga, yang ujung-ujungnya sering kali membuat saya "bolos" mengimami jamaah di pondok pesantren.

Tapi, meski tertatih-tatih, ada satu kebiasaan Kiai Baqir yang terus saya pegang erat dan tiru sampai hari ini. Sepadat apa pun jadwalnya, kami tetap usahakan masuk ngaji kitab walau cuma 5, 10, atau 15 menit. Sebagai syarat menggugurkan kewajiban dan menjaga istiqomah seperti yang beliau contohkan.

Menjadi seperti Almaghfurlah Kiai Baqir Adlan seutuhnya mungkin nyaris mustahil. Beliau terlalu istimewa. Tapi setidaknya, spirit beliau dalam menjaga istiqomah, merawat santri, berbaur dengan masyarakat, dan mandiri secara ekonomi adalah teladan terbaik yang pernah saya saksikan langsung.

Ila ruhi Almaghfurlah KH. Muhammad Baqir Adelan, Al-Fatihah...


Babat, 29 September 2026

M. Shorih Kholid 

@ms.kholid

Thursday, September 24, 2026

Ustadz Moh. Shorih Al-Kholid Luncurkan Buku "Alon-alon Belajar Pegon", Solusi Cerdas Kuasai Aksara Warisan Nusantara

Dunia literasi pesantren dan madrasah kembali diperkaya dengan hadirnya karya terbaru dari Ustadz Moh. Shorih Al-Kholid bertajuk Alon-Alon Belajar Pegon: Cara Cerdas & Lancar Menguasai Aksara Pegon. Buku panduan ini dirancang khusus sebagai fondasi awal bagi santri, siswa pemula, pelajar, serta guru dan pengajar TPQ maupun madrasah. Kehadiran buku ini mengusung semangat bahwa belajar aksara Pegon dapat dilakukan dengan mudah, menyenangkan, dan penuh makna.

Karya ini bukanlah sekadar modul teoretis, melainkan disusun berdasarkan pengalaman lima tahun praktik pembelajaran langsung di sekolah, madrasah, dan TPQ yang telah teruji dan terbukti. Materi di dalam buku dirancang secara sistematis, bertahap, dan praktis. Ruang lingkup pembelajarannya mencakup pengenalan huruf vokal dasar, konsonan majemuk unik khas Nusantara, hingga praktik kelancaran merangkai kalimat dan dasar-dasar maknani kitab.

Pendekatan utama yang ditawarkan oleh Ustadz Shorih dalam buku ini menitikberatkan pada pembiasaan (habituation) dan penalaran bahasa. Dengan metode ini, para santri diharapkan dapat menulis secara lancar tanpa merasa terbebani oleh hafalan yang kaku. Meskipun demikian, buku ini dirancang agar tidak berdiri sendiri; sebagai prasyarat utama, para pembelajar diwajibkan telah mempelajari dan menguasai dasar-dasar penulisan huruf Hijaiyah, seperti melalui pembelajaran Imla' atau BTQ.

Lebih dari sekadar instrumen penguasaan aksara, Alon-alon Belajar Pegon juga berfungsi sebagai sarana pembentukan karakter. Buku ini secara khusus dilengkapi dengan kisah-kisah pendek inspiratif yang disediakan sebagai bahan bacaan siswa. Kisah-kisah tersebut sekaligus menjadi media berharga bagi para pendidik untuk menanamkan pesan moral, akhlak mulia, serta membangun karakter yang kuat pada anak didik di tengah proses pembelajaran.

Dengan membawa slogan "Alon-alon... Pasti bisa!", buku ini diproyeksikan menjadi fondasi yang kuat bagi para generasi muda. Penguasaan Pegon melalui buku ini diharapkan menjadi langkah awal yang bermakna menuju pemahaman kitab kuning dan penjelajahan khazanah ilmu Islam yang lebih dalam.

Terobosan Baru Belajar Sejarah Islam: Ustadz Moh. Shorih Al-Kholid, MA. Rilis Buku "1000+ Soal Jawab Sirah Nabawiyah Tingkat Dasar

LAMONGAN — Dunia literasi dan pendidikan Islam kembali diramaikan dengan kehadiran sebuah karya inovatif yang sangat dinantikan oleh para pendidik, pelajar, dan orang tua. Ustadz Moh. Shorih Al-Kholid, MA., seorang pendidik dan penggiat dakwah, secara resmi menerbitkan buku terbarunya yang bertajuk "1000+ Soal Jawab Sirah Nabawiyah Tingkat Dasar; Panduan Cerdas Cermat Sejarah Nabi Saw".


Berbeda dengan buku sejarah Islam pada umumnya yang disajikan dalam bentuk narasi panjang, karya ini menawarkan pendekatan yang jauh lebih interaktif dan segar. Melalui format tanya jawab (Q&A) dan pilihan ganda, buku ini merangkum lebih dari 1.000 pertanyaan komprehensif seputar perjalanan hidup manusia paling mulia, Rasulullah Muhammad saw.

Buku ini disusun secara sistematis mencakup berbagai fase penting kehidupan Nabi, mulai dari nasab dan masa kelahiran, masa kecil dan remaja, ujian dakwah di Makkah, peristiwa hijrah, fase perjuangan dan peperangan di Madinah, hingga detik-detik kewafatan beliau.

"Mempelajari Sirah Nabawiyah adalah kewajiban dan kunci untuk menumbuhkan rasa cinta generasi muda kepada nabinya. Namun, kita menyadari bahwa terkadang anak-anak butuh metode yang lebih menantang dan menyenangkan. Buku ini hadir untuk mengisi ruang tersebut, menjadikannya semacam 'bank soal' yang aplikatif," ungkap Ustadz Moh. Shorih Al-Kholid, MA.

Lebih lanjut, buku ini sangat direkomendasikan dan menjadi "senjata wajib" bagi para guru Pendidikan Agama Islam (PAI), pembina ekstrakurikuler, dan pelatih Olimpiade atau Lomba Cerdas Cermat (LCC) tingkat dasar (MI/SD dan MTs/SMP). Selain itu, format tanya jawabnya juga sangat cocok digunakan oleh orang tua di rumah untuk mengadakan sesi kuis sejarah Islam yang menyenangkan bersama keluarga.

Dengan bahasa yang lugas, terstruktur, dan validitas referensi yang merujuk pada kitab-kitab Sirah klasik yang muktamad, buku "1000+ Soal Jawab Sirah Nabawiyah Tingkat Dasar" ini menjadi literatur praktis yang mengedukasi sekaligus menguji ketangkasan ingatan pembacanya.

Bagi Anda yang berprofesi sebagai guru, pembina pesantren, atau orang tua yang ingin menghadiahkan bacaan berkualitas untuk putra-putrinya, buku ini sudah dapat dipesan secara online.

Mari jadikan momen belajar sejarah Nabi menjadi lebih seru dan berbobot! Untuk pemesanan dan pembelian buku "1000+ Soal Jawab Sirah Nabawiyah Tingkat Dasar; Panduan Cerdas Cermat Sejarah Nabi Saw", silakan langsung melakukan checkout secara aman melalui tautan resmi berikut:

🛒 Pesan Sekarang di sini:

http://lynk.id/ms.kholid/1n5d9l3o0lnm/checkout

Segera miliki mahakarya ini dan jadikan generasi muda kita sebagai generasi yang cerdas dan mencintai Rasulullah saw.!

Menyambut Bulan Maulid, Ustadz Moh. Shorih Al-Kholid, MA. Luncurkan Buku "33 Kisah Populer Sirah Nabawiyah"


LAMONGAN — Momentum bulan mulia Rabiul Awwal 1448 Hijriah yang identik dengan peringatan kelahiran Nabi Muhammad saw. terasa semakin istimewa dengan hadirnya literatur sejarah Islam terbaru. Ustadz Moh. Shorih Al-Kholid, MA., resmi merilis karya terbarunya yang berjudul "33 Kisah Populer Sirah Nabawiyah".

Buku ini hadir sebagai oase bagi umat Islam yang ingin mengenal lebih dekat sosok teladan utama, Rasulullah saw. Melalui 33 kisah yang dikurasi secara khusus, penulis menghadirkan narasi-narasi sejarah yang paling menginspirasi, sarat hikmah, dan disusun dengan gaya bahasa yang mudah dipahami oleh berbagai kalangan usia.

Karya ini tidak hanya menyajikan urutan kronologi sejarah semata, tetapi juga mengemas nilai-nilai tauhid, keteladanan akhlak, dan semangat perjuangan dalam bentuk penceritaan yang renyah. Kehadiran buku ini sangat sejalan dengan dedikasi panjang Ustadz Moh. Shorih Al-Kholid di dunia pendidikan, khususnya komitmen beliau dalam pembinaan karakter santri dan pelajar di lingkungan Pondok Pesantren Cahaya Quran serta SMP Cahaya Quran.

Setiap kisah di dalam buku "33 Kisah Populer Sirah Nabawiyah" dipetik dari referensi-referensi otoritatif (muktamad) sejarah Islam klasik. Pembaca diajak menyelami kepingan perjalanan hidup Nabi; mulai dari keajaiban masa kecil, ujian berat dalam berdakwah di Makkah, strategi dan ketangguhan di medan juang, hingga momen-momen penuh haru di Madinah.

“Bulan Rabiul Awwal adalah waktu yang paling tepat untuk merefleksikan kembali kecintaan kita kepada Baginda Nabi. Buku ini disusun dengan harapan agar kisah-kisah agung beliau tidak hanya dihafal sebagai sejarah masa lalu, melainkan benar-benar hidup dan menginspirasi langkah keseharian umat, terutama generasi muda kita saat ini,” ungkap penulis.

Pemilihan waktu penerbitan pada bulan Rabiul Awwal 1448 H ini diharapkan dapat menjadi penyemarak majelis-majelis ilmu dan peringatan Maulid Nabi di berbagai daerah. Buku ini diproyeksikan menjadi bahan bacaan pendamping yang sangat ideal bagi institusi pendidikan formal, pesantren, majelis taklim, maupun perpustakaan keluarga yang mendambakan bacaan bermutu seputar keteladanan manusia paling mulia.

Peluncuran Buku Terbaru: Masterclass Safinatun Naja Karya Ustadz Moh. Shorih Al-Kholid, M.A.

Lamongan — Dunia pendidikan pesantren dan literasi kitab kuning kembali diperkaya dengan hadirnya sebuah karya inovatif terbaru. Ustadz Moh. Shorih Al-Kholid, M.A. secara resmi meluncurkan buku terbarunya yang berjudul "Masterclass Safinatun Naja — Eksplorasi Kitab Safinatun Naja, Makna Pegon, Penjelasan Kontekstual, dan Bedah Nahwu Shorof".

Buku komprehensif ini dirancang khusus untuk menjembatani tradisi keilmuan pesantren klasik dengan metode pembelajaran modern. Tidak hanya menyajikan terjemahan dan makna ala pesantren (Pegon) yang akurat, buku ini juga membedah kedalaman tata bahasa Arab (Nahwu dan Shorof) serta memberikan penjelasan kontekstual yang relevan dengan dinamika kehidupan kontemporer.

Menjawab Kebutuhan Pembelajaran Modern dan Ajang Kompetisi

Kehadiran buku Masterclass Safinatun Naja ini menjadi angin segar bagi para santri, pengajar, maupun pegiat kajian Islam. Selain sangat ideal dijadikan panduan mandiri (self-study), modul ini juga dipersiapkan secara matang untuk membimbing para santri dalam menghadapi ajang bergengsi seperti Musabaqah Baca Kitab Kuning (MBKK).

Dengan pendekatan analitis yang tajam—mulai dari penilaian aspek Nahwu-Shorof, pemahaman maksud teks (Fahmul Maudluiyyah), hingga simulasi tanya-jawab ala dewan juri (Munaqosyah)—buku ini diharapkan mampu melahirkan generasi santri yang tidak hanya mahir membaca teks gundul, tetapi juga paham secara mendalam dan komprehensif.

Dedikasi untuk Umat dan Tradisi Salaf

Sebagai seorang akademisi dan praktisi pendidikan yang aktif mendedikasikan diri dalam pengembangan lembaga Islam, Ustadz Moh. Shorih Al-Kholid, M.A. berharap karya ini dapat menjadi amal jariyah serta lentera ilmu bagi para penuntut ilmu di berbagai penjuru.

Buku Masterclass Safinatun Naja kini hadir sebagai referensi wajib bagi siapa saja yang ingin mendalami mazhab Syafi'i secara mendasar, terstruktur, dan aplikatif. Informasi pemesanan dan ketersediaan buku dapat diakses melalui jejaring lembaga dan mitra distribusi resmi terkait.

Adv.

IKLAN Hubungi: 0896-2077-5166 (WA) 0852-1871-5073 (Telegram)