Showing posts with label Bisnis. Show all posts
Showing posts with label Bisnis. Show all posts

Monday, January 1, 2024

Jangan Asal Ikut-ikutan Liburan


Musim liburan

Jika melihat orang lain jalan-jalan atau wisata 

Anda pengen sih, boleh saja 

Tapi iri jangan 

Sebab,

Di balik jalan-jalannya, kelilingnya dia ke berbagai tempat wisata 

Pasti ada hal-hal berat yang dilakukannya 

Ada kerja keras dan usaha mencari cuan yang tidak dia ekspos sebelumnya

Jadi,

Daripada sakit hati, sibuk iri dengan liburan orang lain, mending fokus pada pekerjaan Anda. Fokus pada usaha yang Anda geluti. 

Kalau tidak bisa jalan-jalan hari ini, ya jalan-jalan minggu depan. Gak bisa minggu depan, ya bulan depan.

Gak mampu bulan depan, ya tahun depan.

Yang penting, lakukan saat Anda mampu.

Jangan gunakan paylater, apalagi pinjol. ❌️❌️❌️

Guru Bisnis Saya


Guru bisnis saya itu, Abah mertua.

"Mergawe iku, nek iso yo dibagi-bagi. Nek kerjaannya iso digarapno wong, yo bagi ke orang lain. Sampean ngerjakan yang lainnya."

"Sampean kulakan ke pasar Kapasan atau Slompretan, meskipun bisa ngangkut kain sendiri, ya ambil jasa ibu-ibu Madura yang biasa tawarkan jasa angkut di pasar itu. Mergo lapo? Yo, itung-itung berbagi rejeki."

"Banyak tukang parkir di pinggir jalanan pasar, kasih aja. Wong cuma 5 ribu wae kok. Kadang-kadang tambahi, nek pas kulakan e sodok akeh. Nek wonge syukur, dungakno; insya Allah lak tambah luber rejekimu."

"Nek ngurusi penggawean, pasti gak onok lerene. Mesti sampean gak sempat ngulang/ngajar. Mangkane, ojok dituruti terus penggawean iku. Wayahe ngulang, yo tetep ngulang."

=== 

Kebetulan,

Hari ini tahun baru, pada libur.

Sy juga pas nganggur. Ya, daripada nganggur, pakai untuk kerja saja. Cari keringat, buang kalori = bonus cuan. 😍

Hasilnya buat ngajak istri dan si kecil liburan.

Nggeh toh...?

Produksi kaos (khususnya kaos partai, kaos caleg, kaos promosi pabrik, dll) itu memang saya ambil sebagai pekerjaan saya.

Jadi, bukan ngajar sekolah atau ngulang ngaji.

Monday, July 20, 2020

Ready 1,5 Ton Beras Basmati

Ready stok beras basmati asli India.
Dibeli dari gudang bulog.
Importirnya Bulog.
Tinggal kepecahan di bawah 3%

Stok ada 1.5 tob beras basmati.

Thursday, July 16, 2020

jual Beras Basmati Beras Nasi Kebuli

Alhamdulillah, stok terakhir di gudang beras sudah terambil.
Total 2 ton sudah ready beras basmatinya.
Sial produksi kebuli instan paket bumbu lengkap.


Friday, January 25, 2019

Trik Marketing; Positioning

POINT berikutnya setelah diferensiasi—dalam bukunya Hermawan Kartajaya—adalah positioning. Boleh kan saya mencoba bergurau tentang positioning ini dengan memaknai lain. Tapi, saya jamin masih dalam lingkup dunia marketing dan keahlian menjual yang begitu aku kagumi.

Posisioning adalah menempatkan diri. Jadi, agar produk yang Anda jual laku dan dibeli, Anda harus mempososisikan tempat jualan Anda di tempat yang tepat.

Sebelumnya, saya atau mungkin Anda yang belum pernah ke Pondok Indah tidak pernah membayangkan bahwa di lingkungan perumahan yang terkenal sebagai perumahan elit, milik orang-orang berduit itu ada penjual gorengan, nasi goreng, mie ayam, kacang rebus, soto, ketoprak, atau aneka makanan rebusan. Hingga pada suatu ketika ada undangan khataman (baca al-Quran hingga khatam 30 juz) dari salah seorang penghuni perumahan Pondok Indah. Bersama beberapa orang teman, saya ‘menjalani’ undangan tersebut.

Nah, di sela-sela ngaji yang berlangsung selama beberapa hari itu, kami memerlukan makanan atau tepatnya jajanan ‘biasa’ (karena makan dan minum sudah terjamin dari pemilik rumah) yang menjadi cemilan kami. Yach...jajanan sejenis gorengan, kacang rebus, kedelai rebus, jagung rebus, dan sebagainya. Awalnya, kami terbayang akan berjalan jauh mencari dengan asumsi bahwa di lingkungan elit tersebut kami tidak akan menemukan apa yang kami cari. Ternyata, keluar beberapa ratus meter saja, kami sudah menemukan apa yang kami ingini.

Kemudian, penemuan kedua saya alami waktu bekerja di daerah Pondok Pinang—tapi tempatnya lebih dekat dengan Pondok Indah—yang juga dihuni perumahan-perumahan elit dan penghuni golongan atas. Ternyata, di sana juga saya temukan tukang gorengan, tukang jual mie ayam, jual soto ayam, tukang sayur, ketoprak, nasi goreng, gado-gado, dan aneka penganan lainnya.

Saya juga menemukan semacam warteg (saya bilang ‘semacam’ karena pemiliknya bukan orang Tegal, tapi orang Sunda). Warung yang menjual nasi dengan kualitas di bawah rata-rata, rasa standar, dan yang paling penting mengenyangkan. Dan, tahu nggak? Itulah warung langganan saya ketika makan siang. Hehehe.....

Kembali ke bahasan awal,
Kira-kira apa yang Anda simpulkan dari dua contoh “kejadian nyata” di atas? Benar! Mereka, para penjual itu adalah orang yang cerdas dalam hal posisioning. Saya tidak yakin mereka pernah membaca—atau bahkan sekadar melihat—buku tulisan Hermawan Kartajaya.

Mereka mempelajari dengan baik pasar dan melihat bahwa ada peluang pasar yang tidak tersentuh. Di situlah kemudian mereka bermain. Karena pasarnya jelas, dagangan mereka pun laku keras, bahkan bisa jadi mengalahkan padagang kaki lima yang berkeliling dari satu tempat ke tempat lainnya.

Anda yang tidak jeli pasti tidak akan dapat membaca bahwa di balik orang-orang kaya di Perumahan Pondok Indah itu, pastilah ada orang-orang bawahan (sebenarnya tidak bawahan), seperti pembantu, tukang sapu, satpam, sopir, tukang kebun, ataupun tukang bangunan. Pendapatan mereka tentu saja njomplang jika dibandingkan majikan mereka. Dan tentu saja apa yang menjadi konsumsi mereka sehari-hari pun berbeda. Mereka membutuhkan gorengan yang orang kaya mungkin tidak mau beli karena kurang hieginis. Mereka membutuhkan nasi goreng yang berharga 5 ribuan. Tidak seperti yang orang-orang kaya itu beli. Tinggal telepon, langsung diantar. Mereka membutuhkan makanan kelas warteg, yang meski nasinya agak keras asal mengenyangkan perut. Nah, di sinilah pedagang-pedagang ‘kecil’ itu masuk.

Sesungguhnya, itu adalah pasar yang besar. Pendapatan dari penjualan di sana akan mencukupi Anda hidup sebulan bersama istri dan anak-anak. Sekali lagi, asal Anda jeli memosisikan diri dan dagangan Anda. Bahkan mungkin ‘gaji’ Anda mengalahkan gaji orang-orang kantoran yang jadi konsumen Anda—yang terlihat lebih keren itu. Hehehe...

Untuk melebarkan pasar, Anda dapat meningkatkan pelayanan terhadap konsumen. Ada beberapa cara. Yang pertama, istilah pembeli adalah raja masih sangat relevan dan efektif dalam menjaga tingkat penjualan Anda. Yang kedua, Anda dapat meningkatkan kebersihan komoditi yang Anda jual. Ketiga, buat inovasi-inovasi baru yang menarik. Keempat dan berikutnya, Anda bisa kreatif menemukannya dengan melihat macam apa konsumen sasaran Anda.

Sampai jumpa,

Salam...

Ciputat, 21 Februri 2008

Sunday, December 23, 2018

Menjual Sensasi, Ide Wisata Zaman Now

• MENJUAL SENSASI •

Banyak ragam ide untuk membuat destinasi wisata.

Salah satunya yang tersimak dalam acara NAT GEO WILD tadi malam. Fokus acara memang bukan liputan wisata, tapi pada ikan-ikan jumbo yang ada di sebuah danau milik sebuah resort di Thailand.

Pemilik resort menawarkan tempat menginap dari kayu. Gubuk-gubuk, bahasa kita. Letaknya di bawah bukit, dekat sebuah danau besar.

Yang ditawarkan hanyalah sensasi memancing. Di mana para penghobi mancing ditawarkan sebuah sensasi memancing beraneka macam ikan besar yang dicemplungkan di danau tersebut.

Di danau tersebut, tersedia bermacam jenis ikan berukuran besar dari berbagai penjuru dunia. Lele Argentina, Brazil, dll. Kesemuanya berukuran paling tidak 15 kg seekor. Ada pula yang seberat 70 kg--seukuran manusia dewasa.

Hal yang mungkin sulit didapatkan andai memancing di tempat-tempat biasa.

Para wisatawan datang dari berbagai penjuru dunia. Bukan untuk membawa pulang ikan. Atau dibuat bakar-bakaran. Ya, begitu dapat ikan, mereka hanya cukup pegang-pegang, tertawa puas, berfoto, lantas dilepaskan kembali.

Ya, ikan pancingannya DILEPASKAN KEMBALI ke danau.
Dan, mereka para wisatawan sudah amat bahagia.
Lalu, apa yang mereka peroleh?
Hanya sensasi. Yang dijual pun demikian. Sensasi memancing ikan besar nan jumbo.

Surabaya, 23 Desember 2018
Otewe Ziarah ke Batuampar Madura

Adv.

IKLAN Hubungi: 0896-2077-5166 (WA) 0852-1871-5073 (Telegram)