Sunday, October 1, 2017

Bapak Miskin yang Melahirkan Al-Ghazali

● Bapak Miskin yang Melahirkan Seorang Al-Ghazali ●

Sang Hujjatul Islam, yang karya-karyanya menghiasi keilmuan umat hingga zaman ini, ternyata bukan anak seorang ulama besar. Bukan anak seorang kiai dengan pondok besar--santri membludak.

Beliau "hanya" anak seorang lelaki fakir yang shalih
Pekerjaan bapaknya adalah tukang tenun
Itulah sebabnya, banyak yang mengira bahwa nama الغزالي dibaca dengan tasydid pada huruf "ز" yang dinisbatkan pada bapaknya ghazzal (tukang tenun)
Penisbatan yang dibantah sendiri oleh sang Hujjatul Islam, bahwa namanya yang benar ialah Al-Ghazali (tanpa tasydid pada huruf ز ). __assiyar__

Lalu, apa istimewanya si bapak sehingga melahirkan anak sekaliber Imam Al-Ghazali?

Pertama,
لا يأكل إلا من كسب يده
Sang bapak tidak makan (dan memberi makan keluarganya) selain hasil dari jerih payahnya sendiri.
Jadi, rejeki yang dikonsumsi, tidak seladar halalan thoyyiban
Tapi juga hadil keringat sendiri
Sehingga ia pun tahu hartanya benar-benar bersih dari syubhat

Dalam sebuah hadits disebutkan;
Mencari kayu bakar di hutan, lalu menjualnya di pasar (dengan hasil yang tak seberapa)
Itu jaaaauh lebih baik daripada
Menengadahkan tangan pada orang lain (yang biasanya menghasilkan nominal lumayan)

Kedua,
Senang menghadiri majelis ilmu
Walau fakir (melaratnya lebih parah daripada miskin),
Pak Muhammad ini tidak lantas gila kerja, atau beralasan capek-sibuk dan tidak hadir di pengajian
Beliau rajin hadir di pengajian para alim-ulama

Seringkali beliau menangis tersedu saat mendengar pengajian
Lantas berdoa lirih, supaya kelak punya anak yang alim nan pejuang dakwah

Yang ketiga,
Tak cukup cinta pada alim ulama,
Bapaknya Imam Ghazzli juga berusaha sekuat tenaga melayani kebutuhan mereka
Bahkan, di tengah keterbatasan (dan kemiskinan) selalu berusaha mengeluarkan "sesuatu" dari hartanya untuk mereka. Memberi nafkah materi bagi para gurunya--semampu dia.

*disadur dari mukaddimah kitab yang dicapture


Tritunggal, 30 September 2017
IG-Twitter 》@mskholid
Blog 》@ruanginstalasi

Sunday, September 17, 2017

Anak Peparing Gusti Allah, Hindari Membandingkan-bandingkan

● Peparing Gusti Allah ●
Hindari Membandingkan-bandingkan

Sebagaimana anak, dulur (saudara) adalah peparing Gusti Allah
Sebagaimana kita tak bisa memilih jadi anak siapa
Kita juga gak bisa memilih jadi saudaranya siapa
Pun (bagi orangtua), tak bisa memilih punya anak yang seperti apa

Orangtua hanya bisa berharap (dan berdoa)
Tapi, jelas tidak bisa menentukan
Karena itu, orangtua dituntut untuk bisa selalu  menerima

Apapun kondisi anak yang dilahirkannya
Tak elok baginya selalu memuji-muji anak yang satu
Sementara anak yang lain justru dijelek-jelekkan
Apalagi membanding-bandingkan
Apalagi membandingkannya di depan semua anaknya

Rukun dan tenteramnya keluarga (anak-anak atau dulur dengan dulur)
Amat tergantung pada bagaimana sikap orangtua memperlakukan mereka
Acapkali anak gak akur, bukan karena rebutan harta warisan,
Tapi, karena sikap orangtua yang tidak adil

Anak yang jelek (meski memang jelek kelakuan & akhlaknya), dijelek-jelekkan
Sebaliknya, anak yang baik (meski memang baik kelakuan & akhlaknya) selalu dipuji-puji
Kalaupun ingin memuji, cukup puji di hadapan yang bersangkutan
Kalaupun ingin menasehati, cukup nasehati di hadapan yang bersangkutan

Tidak usah ada kalimat banding membandingkan
Sebab, pada dasarnya tak ada orang yang rela dibandingkan
Apalagi dengan sesama saudara sendiri
Sikap membandingkan seperti itu kerap membuat hubungan antar saudara retak

Coba saja,
Andai seorang suami membanding-bandingkan istrinya dengan saudara perempuannya si istri
Walaupun pembandingan itu benar, bisa terjadi kiamat kecil di rumah tangga mereka

----

Memang tidak mudah jadi orangtua
Ibarat kuburan, ia bisa kelihatan tenang dan nyaman
Karena si kuburan mau dengan legowo menerima siapa pun yang datang
Orang baik diterima, orang kelakuan buruk juga diterima

Kuburan tidak pernah (dan tidak perlu berisik) tiap menerima "anak-anaknya"
Toh, tiap anak-anak itu akan menerima balasan amalnya sendiri-sendiri
Kuburan hanya perlu selalu mengingatkan dan menasihati
Cukup dengan kalimat lirih dan tanda-tanda, tanpa berisik-tanpa bikin heboh

Kranji, 17 September 2017
Disarikan daei ceramah #KH Ahmad #Syaerozi - Babat

Friday, September 15, 2017

Tiru Cara Pinternya Dokter Mengobati

● Tiru Cara Pinternya Dokter Mengobati ●

Tugasnya orang pinter itu menyembuhkan (dan mengobati)
Seperti halnya dokter yang mengobati penyakit fisik,
Orang pinter agama punya tugas mengobati penyakit spiritual
Penyakit hati dan akhlak

Namun, orang mengobati juga tidak asal benar obatnya
Caranya mengobati juga harus benar dan tepat
Tirulah cara pak dokter yang mengobati pasiennya

Saat mau menyuntik, dokter mesti "melorot" celana pasiennya
Nah, sebelum celana pasien "diplorot", dokter akan menyuruh pasien masuk ruangan
Lalu pintu atau korden jendela ditutup
Barulah si pasien "diplorot" dan disuntik

Usai disuntik, dokter tidak serta merta menyuruh pasien keluar ruangan
Ia disuruh merapikam diri dan pakaiannya
Diminta sedikit berdandan, supaya nampak rapi
Supaya tidak kelihatan bekas habis "diplorot"

Itulah contoh cara yang cerdas dan pinter dalam mengobati

Coba bayangkan,
Andai si doker itu mengobatinya rame-rame
Bayangkan dia langsung "melorot" pasien2nya di ruang tunggu
Semua pasien disuruh melorot celananya, lalu si dokter bergiliran menyuntik pasien satu persatu. Apa yang terjadi?
Ya, meskipun niatnya baik (mengobati), tak akan ada orang yang mau berobat padanya

》》》
Begitu pula dengan orang alim, seorang ulama
Dia tidak cukup sekadar pinter keilmuannya
Tapi juga harus pinter & cerdas soal cara mengobati pasien (orang yang sakit)
Seperti halnya cara dokter memperlakukan pasiennya

Kalau niat ngobati orang, jangan pakai rame-rame
Jangan diomong-omongkan di depan khalayak ramai
Jangan dengan suara keras yang bisa didengar orang lain
Meskipun si sakit mengakui kesalahannya, secara naluriah dia tidak akan terima "diobati" dengan cara seperti itu

Drajat, 15 September 2017
@mskholid
@ruanginstalasi

Wednesday, September 13, 2017

Sejarah Umat Islam, karya Buya Hamka, Buku Buruan

● Buku Buruan ●

Buku Sejarah Umat Islam, karya Buya Hamka ini sudah menjadi incaran saya sejak lama
Bahkan sejak saya masih tinggal di Jakarta
Namun, stok terbitan selalu kosong--pun di toko-toko besar
Sempat nemu cetakan lama di seputaran Kwitang, pas gak ada duit

Hari ini sebelum pulang via Stasiun Senen,
Saya mampir dulu ke toko buku langganan--toko "Saudara" Bang Buyung di Kwitang
Sebenarnya tak sengaja nyari buku ini
Saya hanya mau nyari pengganti dua buku saya yang hilang

Entah dipinjam orang (kemungkinan paling besar) atau keselip (kemungkinan kecil, soalnya dua buku ini tebal dan termasuk bacaan kesayangan saya);
Sejarah Hidup Muhammad saw (file pdf banyak tersedia di internet), dan
Abu Bakar, keduanya karya Muhammad Husein Haikal

Rupanya tak sengaja saya sedang berjodoh dengan karya Buya Hamka
Buku beliau saya temukan di toko ini
Kali ini sudah diterbitkan oleh Gema Insani Press
Cetakan 1 : Pebruari 2016
Dan edisi yang saya beli, sudah cetakan 3; Juni 2017

"Kita akan selamanya jadi orang alim, selama mau terus belajar."
(Sebuah kutipan--lupa dari siapa)

Stasiun Senen, 13 September 2017
@mskholid

Saturday, September 9, 2017

Angkot Pengantar Menuju Pelabuhan Kaliadem Muara Angke

"Angkot" Pengantar Menuju Pelabuhan

Turun dari taksi atau angkot yang mengantarkan ke terminal atau pelabuhan, kita mesti jalan kaki menuju pelabuhan Kaliadem
Gak jauh sih, tapi aksesnya itu yang melewati pasar ikan
Sehingga jalanan becek dan berbau amis
Kalau yang terbiasa oke-oke saja

Kebetulan teman seperjuangan saya ini gak betah bau amis-amis
Jadi, saya memilih naik odong-odong
Tossa yang dimodifikasi dengan tempat duduk yang panjang

Ongkosnya murah
Tapi, mahal kalau dibandingkan dengan standard di kampung
Dengan jarak tempuh yang sekitar 1 km saja, bayar 5.000 / orang
Anggap saja bagi-bagi rejeki untuk anak muda yang eksis bekerja ini 👇

------

Sambil menunggu rombongan Wasiat Jakarta yang berangkat dari Ciputat
Saya tinggal dulu ngopi kapal api hitam
Kenapa hitam?
Ya mungkin efek kena api, jadinya gosong dan hitam
Hehehehe...

Muara Angke, 9 September 2017

#ResepsiCakHuda
#PulauTidung 
There was an error in this gadget

Shorih's books

M. Quraish Shihab menjawab... : 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui
5 of 5 stars true
Tanpa Bermaksud memudah-mudahkan-yang bisa berujung pada kecendrungan serba boleh jika di pahami dan di hayati dengan cara yang benar, sesungguhnya Islam memang satu upaya untuk mendapatkan pemahaman yang benar dalam mengamalkan Islam ad...
Rembulan Tenggelam Di Wajahmu
3 of 5 stars true
Saya membaca buku ini saat Tere Liye belum seterkenal sekarang. Karyanya juga belum sebanyak dan digandrungi sekarang. Saat itu, buku "Rembulan Tenggelam di Wajahmu" masih diterbitkan penerbit lain (bukan Republika) dengan cover warna hi...

goodreads.com