Wednesday, November 23, 2016

Wali, Tak Akan Terpengaruh Dunia

Seorang waliyullah itu tidak akan terpengaruh oleh dunia. Seperti apapun megah dan jelitanya dunia, hatinya tidak akan bergeser dari kerinduan dan kecintaan kepada Allah SWT.

Dalam tema ini, Kiai Jamal Jombang bercerita:

Ibnu Rumi adalah seorang waliyullah.
Beliau kelahiran Romawi. Tinggal bersama keluarganya di Iraq.

Kehidupan Ibnu Rumi amat sederhana
Bisa dibilang melarat
Sudah begitu, anaknya buanyak

Suatu ketika, Iraq dilanda kesulitan
Makin sulitlah keluarga Ibnu Rumi memenuhi kebutuhan sehari-hari
Bahkan, hingga 3 hari keluarga ini tidak makan

Suatu pagi, sang istri (sholihah) curhat,
"Wahai suamiku, kita berdua mungkin kuat andai tidak makan seminggu. Tapi bagaimana dengan anak-anak kita?"

"Iya, istriku. Apa pendapatmu?" tanya Ibnu Rumi.
"Sebaiknya engkau pergi ke Suuq al-Bannain  (pasar para pekerja bangunan). Semoga disana engkau dapat pekerjaan.
Andaikan engkau sehari dapat 10 dirham saja, itu sudah cukup untuk kebutuhan keluarga kita."

Ibnu Rumi berangkat menuju pasar pekerja bangunan (anggap saja seperti pangkalan ojek, tp ini pangkalan khusus para pekerja bangunan). Beliau membawa beberapa alat untuk bertukang.

Di tengah perjalanan, beliau melintasi masjid.
Masjid yang sudah rusak dan sepi ditinggal jamaahnya.

Ibnu Rumi pun berbelok menuju masjid.
Ia shalat Sunnah di dalam masjid dan bertekad tidak jadi bekerja pada orang lain.
Ia hanya akan bekerja untuk Allah.

Maka, seharian itu beliau sibuk ibadah di masjid ini
Dzuhur, Ashar dan Maghrib.

Setelah maghrib, ia merasa saatnya untuk pulang.
Namun, beliau bingung dan malu; apa jawabannya andai istri dan keluarganya bertanya tentang hasil pekerjaan hari ini.

Ibnu Rumi lantas memutuskan untuk terus beribadah hingga selesai shalat isya di waktu akhir. Supaya anak dan istrinya sudah tertidur saat ia pulang.
Sehingga ia tidak bingung menjawab pertanyaan mereka.

Maka, usai shalat isyak di akhir  (sekitar jam 11 an malam), beliau pulang.

Tiba di halaman rumah, Ibnu Rumi mendengar suara tawa canda dan kegembiraan dari dalam  rumahnya.

Apa yang terjadi dengan keluargaku?
Dari mana sumber kebahagian mereka?
Bagaimana bisa mereka punya kekuatan untuk bergembira?
Jangan... jangan...

Pikiran Ibnu Rumi berkecamuk, penuh sak sangka.

Tiba di dalam rumah, istrinya menyambut kedatangannya dengan wajah gembira.
"Kang Mas, ayo silakan makan dulu!" suruh istrinya.
"Apa yang terjadi di rumah selama aku pergi?" tanya Ibnu Rumi menyelidik.

"Sore tadi, ada seorang lelaki berpakaian serba hijau. Dia mencari rumah Ibnu Rumi, mengaku sebagai pesuruh juragan Sampeyan.
Dia kesini menitipkan gaji kerja jenengan hari ini sebanyak 1000 dirham dan setumpuk kebutuhan makan sehari-hari. Sekarang makanlah."

"Oh, yaudah...
Aku makan nanti saja, aku masih punya tanggungan shalat sunnah dulu."

Begitulah, seorang wali tidak terpengaruh oleh kenikmatan dunia. Sedikit pun.
Walaupun Walaupun ia sudah kelaparan dan tak makan 3 harian, masih lebih mendahulukan urusan dengan Tuhan nya dibanding perutnya.

Malamnya, Ibnu Rumi  bermimpi bertemu Allah.
"Bagaimana Ibnu Rumi, apakah upah yang kuberikan padamu hari ini cukup?" tanya Allah.
"Cukup, Gusti. Sangat cukup."
"Mintalah yang lain, Ibnu Rumi."
"Tidak Gusti. Itu sudah sangat cukup."
"Mintalah saja, apapun yang kau kehendaki," Allah memaksa.

"Kalau memang harus meminta, aku minta agar bisa segera diambil nyawang saja, Gusti."
"Kenapa?"
"Supaya aku bisa segera berjumpa dengan-Mu."
"Urusan hidup dan mati itu sudah ada ketetapannya, Ibnu Rumi. Tapi, ketahuilah bahwa jatah hidupmu tinggal 9 hari lagi," kata Allah.

Babat, 23 Nopember 2016
Ngaji Hikam dari rekaman Kiai Jamal Jombang, sambil nyetir mobil saat kirim barang ke Gresik.

Khaled
Blogger

Lomba Quite Islam Nusantara

Dalam rangka semarak Cahaya maulid, Admin Instagram Santri Nusantara mengadakan Lomba desain quote ulama Nusantara
Dengan tema "Islam damai, islam rahmatan lil 'aalamin".
.
📜Syarat dan ketentuan lomba desain #QuoteUlamaNusantara:
✏Lomba terbuka untuk umum dan berlaku secara nasional bagi Warga Negara Indonesia. Lomba tidak berlaku bagi orang yang masuk Admin Instagram Santri Nusantara.
✏Desain quote merupakan karya orisinil, dan belum pernah menang dalam lomba sejenis
✏Desain quote harus ada watermark logo ais dan ibs. Logo bisa di download di
-s.id/maulidnabi
✏Peserta boleh mengirimkan desain terbaik maksimal 3 desain
✏"Format Yang Wajib di Kumpulan Dalam Bentuk Png lalu sertakan .Cdr/Psd/ Ai"
✏Karya desain peserta menjadi hak panitia lomba
✏karya desain peserta dikirim ke email AIS aisnusantara@gmail.com
.
💸Biaya pendaftaran FREE
.
👥Dewan Juri:
1. Dodik Aryanto, S.Kom (Indosat)
2. Munawwir Aziz, MA (Penulis Buku Pahlawan Santri)
3. Amidah Sholihat (Sekretaris PW IPPNU Jatim)
.
🏆Juara 1 : Rp 1.000.000,00
Juara 2 : Rp 750.000,00
Juara 3 : Rp 500.000,00
Juara favorit 1 : Rp 300.000,00
Juara favorit 2 : Rp 250.000,00
Juara favorit 3 : Rp 200.000,00
Doorprize Umroh Gratis.
.
📆Durasi lomba:
Deadline Pengumpulan tanggal 5 Desember 2016.
Penjurian dan like session 6-10 Desember 2016.
Pengumuman 12 Desember 2016
Pembagian hadiah dan pengundian kupon door prize umroh gratis 13 Desember 2016 di halaman PWNU Jawa Timur.
.
☎ Informasi lebih lanjut:
🔹 Kang Ahmad : 0895359379686
🔹email: aisnusantara@gmail.com
🔹website : dutaislam.com

#SemarakCahayaMaulid #lomba #lombadesain #lombaquote #QuoteUlamaNusantara #maulidnabi #islamramah #islamdamai #islamnusantara #aswaja #ibs #ahlussunnahwaljamaah #AISNusantara #NahdlatulUlama

Festival Seni Hadroh Se-Nusantara ke VIIIđź“€

🎈Wadah Silaturahim Alumni Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah *WASIAT JAKARTA*🎈
~ Proudly Present ~

📀Festival Seni Hadroh Se-Nusantara ke VIII📀

Alhamdulillah dg bangga kami mempersembahkan acara *Festival Seni Hadroh Se-Nusantara ke VIII*
Yang akan dilaksanakan pada :

📌Mark on your Calendar :
🗓Selasa, 06 Desember 2016
🏫Tempat : Gedung Auditorium Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah, Kranji Paciran Lamongan
⏰Waktu : 09:00 WIB - Selesai

Memperebutkan 🏆piala Bergilir bapak KH. Hasyim Muzadi (Wantimpres RI)

Dengan kejuaraan:
🏅Juara 1 - Tropi, Sertifikat dan uang Pembinaan.
🏅Juara 2 - Tropi, Sertifikat dan uang Pembinaan.
🏅Juara 3 - Tropi, Sertifikat dan uang Pembinaan.
🎖Juara Harapan 1 - Tropi, Sertifikat.
🎖Juara Harapan 2 - Tropi, Sertifikat.
🎖Juara Jingle Terbaik - Tropi, Sertifikat.

Snack, Sertifikat.
💸FREE FOR ALL !!

🗣 Open Registration❗
Pendaftaran dibuka mulai tanggal 22 November 2016 s/d 04 Desember 2016. Bisa melalui link Bit.ly/formulirhadrah8
Atau Kontak person kami
- Jamil 0858-5231-1075
- Syifa 0856-0635-0979

📋 Tecnical Meeting *TM*
Pada Tanggal 04 Desember 2016. Bertempat Di Gedung Asrama Al-Maghriby PP Tabah. Pukul 13:00 Wib.

🎊So, tunggu apa lagi. Datang dan ambil manfaatnya.🎊

Mari Meriahkan dan Menangkan Hadiah Jutaan Rupiah .
Atas Perhatiannya Kami Ucapkan Terimakasih.

#WasiatJakarta
#FestivalHadroh8
#PPTarbiyatutTholabah

Thursday, November 17, 2016

Penipuan Model Baru Pakai My Care Indosat

Hati-hati penipuan terbaru.
Yang model lama, saya bisa membaca tipuannya.
Tapi, ini atas nama penghargaan dari nomor indosat saya, yg dia bilang karena nomor saya aktif sangaaat lama.

Hebatnya, ia tahu sejak kapan nomor saya ini aktif.
Tahu nama lengkap dan tanggal lahir saya, serta alamat lengkap saya.
Padahal, di facebook dan akun2 lain saya sengaja memalsukan identitas pribadi asli saya, selain nama dan pekerjaan.

Dia bilang pakai e cash mandiri.
Nah, saya amat tidak paham dengan istilah ini.

Hebatnya, dia mengakali saya dg sms dari indosat.
Dan benar, memang dari indosat my care.
Rupanya dia daftarkan nomor saya ke my care.

Nah, yang bikin saya menyadari, saya belum pernah daftarkan nomor indosat ini ke My care indosat. Pas saya cek utk daftarkan, ternyata ada pemberitahuan gagal. Indosat bilang, nomor saya sudah didaftarkan.

Iniiii dia.
Apalagi saat dia uda tanya saldo rekening.
Sudah bisa saya pastikan, ini penipuan.

Nomornya : 0816393261

Nikmati Nikmat-Nya, Jalani Episode Kehidupan

Ini salah satu kalimat yang "menyakitkan" saya:

"Orang yang Balik Kampung dari Jakarta adalah Orang yang Kalah Perang!"

Kalimat itu amat menohok hati saya.
Apalagi ketika itu, saya termasuk orang yang memutuskan pulang kampung--setelah belasan tahun hidup di Jabodetabek.
Berpindah-pindah tempat belajar dan bekerja.

Ketika itu saya amat tersinggung.
Apalagi, harus diakui, saya memang masih pengangguran saat awal-awal hidup di kampung. Belum berpenghasilan.
Makan dan tidur masih menumpang (bahkan sampai sekarang).

Aktivitas saya ketika itu, hanya berkisar mengantar istri ngajar di TK, bantu-bantu ngajar TPQ, atau terkadang menggantikan jam mengajar mertua di Kranji. Bahkan, yang rutin justru ngopi ke Babat sambili baca koran di sana.

Hampir-hampir saya mengamini apa yang dikatakan beliau.
Kalau tidak ada kalimat remeh dan enteng Bapak mertua saya:

"Urusan pekerjaan, Abah hanya berdoa; semoga penghasilan yang mendatangi kita. Bukan kita yang mendatangi pekerjaan itu. Alhamdulillah, itu terkabul. Butuh apa-apa cukup sekarang."

Ya, nasib saya jauh lebih baik daripada beliau yang pernah jadi sopir truk bertahun-tahun, jadi kuli orang.

----

Saya tidak bermaksud membuktikan sesuatu pada seseorang.
membuktikan bahwa ucapan beliau yang menohok itu salah.
Tidak. Sama sekali tidak.

Saya hanya berusaha menjalankan setiap episode kehidupan ini dengan langkah terbaik. Menyiapkan semuanya dengan amanah.
Memberikan apa yang saya bisa untuk keluarga.

Saya hanya menyiapkan sungainya,
Dan biarkan air akan mengalirinya.
Deras atau kemericik, biarlah Allah yang menentukan.

Dan, seminggu lalu saya ketemu beliau.
Dan, beliau bilang sambil berbisik di telinga:

"Kamu sekarang lebih hebat!" ujarnya dengan senyum lebar.


Babat, 17 Nopember 2016
@mskholid | Blogger | Penikmat Kopi
There was an error in this gadget

Shorih's books

M. Quraish Shihab menjawab... : 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui
5 of 5 stars true
Tanpa Bermaksud memudah-mudahkan-yang bisa berujung pada kecendrungan serba boleh jika di pahami dan di hayati dengan cara yang benar, sesungguhnya Islam memang satu upaya untuk mendapatkan pemahaman yang benar dalam mengamalkan Islam ad...
Rembulan Tenggelam Di Wajahmu
3 of 5 stars true
Saya membaca buku ini saat Tere Liye belum seterkenal sekarang. Karyanya juga belum sebanyak dan digandrungi sekarang. Saat itu, buku "Rembulan Tenggelam di Wajahmu" masih diterbitkan penerbit lain (bukan Republika) dengan cover warna hi...

goodreads.com