Tuesday, April 7, 2026

• Keringat Bapak dan Sebuah Perjalanan •

Sore itu, udara pesantren terasa lebih sejuk. Saya duduk melingkar bersama para santri kelas sembilan. Di wajah-wajah muda itu, ada binar keingintahuan. Ada harap yang tak sabar ingin diucapkan.

Hingga akhirnya, sebuah tanya memecah keheningan.

"Ustadz, kenapa kelas sembilan gak ada rekreasi?" tanya seorang dari mereka.

Pertanyaan itu seperti magnet. Teman-temannya serempak mengangguk, mengiyakan. Mata mereka menatap saya lekat-lekat. Menunggu jawaban yang mungkin bisa melonggarkan kebijakan.

Saya tersenyum tipis. Menarik napas perlahan.

"Jangankan rekreasi, Nak," jawab saya pelan. "Wisuda saja, kalau tidak ada persetujuan dari wali santri, akan ditiadakan."

Hening merayap turun. Senyum di wajah mereka tertahan. Mereka tak menduga jawaban itu.

"Apa pertimbangannya, Ustadz?" tanya yang lain, lebih hati-hati.

"Biaya."

Satu kata. Singkat, tapi berat. Saya tatap mata mereka satu per satu. Usia belasan tahun memang masa rindu jalan-jalan. Tapi, ada realitas yang harus mereka sentuh sedini mungkin.

"Dunia hari ini sedang tidak baik-baik saja. Ekonomi global tak menentu. Harga BBM dua, tiga bulan ke depan, siapa yang berani jamin? Harga gas LPG pun sama. Laporan Mbak Koki di dapur, gas sudah mulai sulit didapat. Apalagi barang-barang plastik. Semuanya ikut merangkak naik."

Saya beri jeda. Biar kata-kata itu mengendap di dada mereka.

"Harga bahan pokok naik. Pengeluaran di rumah meningkat. Tabungan keluarga mulai tergerus. Sementara... gaji orang tua kalian tetap-tetap saja."

Mereka menunduk. Mendengarkan dengan saksama.

"Lalu, apakah pantas kita meminta mereka mengeluarkan biaya lagi untuk kegiatan sekunder semacam rekreasi? Kelas menengah ke atas saja, sekarang harus berpikir dua kali untuk urusan seperti ini. Apalagi keluarga yang keuangannya pas-pasan."

Saya tak ingin mematahkan semangat mereka. Saya hanya ingin meminjamkan kacamata saya, agar mereka bisa melihat peluh orang tuanya.

Lalu, saya ajak mereka memutar waktu.

"Coba kalian ingat. Tahun 2025 lalu, kita ziarah ke makam Wali di Jawa Tengah. Apa ada satu pun santri yang ditarik bayaran?"

Mereka kompak menggeleng. "Tidak, Ustadz."

"Tahun 2026, kita berangkat ziarah ke Wali Jombang. Lanjut menuju Masjid Syekh Zayed dan berwisata di Solo. Semua wali santri, apa ada yang dimintai iuran?"

"Tidak ada," jawab mereka lagi. Suara mereka kini lebih lembut. Mulai mengerti arah pembicaraan ini.

"Pondok hanya minta orang tua memberikan uang saku untuk kalian. Itu pun kita batasi, maksimal seratus lima puluh ribu per anak. Sekalipun, ya, namanya orang tua... tetap saja ada yang diam-diam mentransfer lebih karena saking sayangnya pada kalian."

Sebagian santri tersenyum kecil. Mereka tahu kebiasaan bapak-ibunya.

"Begitulah cara kami mengelola lembaga ini, Nak. Kalau memang mau rekreasi, usahakan jangan pernah memberatkan wali santri."

Saya tutup obrolan sore itu dengan sebuah prinsip. Prinsip yang selalu menjaga kemudi pesantren ini.

"Tugas pondok adalah mencari jalan. Piye carane tetap bisa berangkat, tanpa harus menarik iuran dari keringat wali santri."

Sore perlahan menua. Obrolan usai. Namun dari sorot mata para santri kelas sembilan itu, saya melihat sesuatu yang baru saja mekar: rasa syukur dan kedewasaan.

PPCQ, 7 April 2026 @ms.kholid

• obrolan dan alur cerita adalah nyata. Dimodifikasi oleh Gemini AI

No comments:
Write komentar

Adv.

IKLAN Hubungi: 0896-2077-5166 (WA) 0852-1871-5073 (Telegram)