Monday, March 31, 2008

Menjadi Pelamar (Editor) yang Diperhitungkan

Melamar kerja ibarat menjual diri (tepatnya menjual kemampuan diri). Sekarang ini, peluang kerja yang tersedia tidak sebanding dengan para pemburunya. Untuk menembusnya banyak syarat yang mesti kita miliki. Syarat paling utama adalah diferensiasi (pembeda) pelamar.
Diferensiasi yang saya maksudkan di sini adalah kemampuan lebih pelamar. Kemampuan lebih (di atas rata-rata pelamar lain) akan menjadi pertimbangan terpenting perusahaan.
Untuk saat ini, saya mencoba menyebutkan beberapa ‘kemampuan lain’ yang sangat dianjurkan bagi Anda yang berminat melamar menjadi editor. Nilai tambah berikut ini bisa jadi merupakan faktor utama perusahaan menerima Anda dan menolak pelamar lain.

1. Menguasai program Lay Out (tata letak)
Saat ini program lay out yang paling banyak digunakan adalah Adobe InDesign CS. Program ini merupakan pengembangan dari Adobe Page Maker 7.0. Program yang berfungsi untuk mengatur halaman dan peletakan tulisan buku/majalah ini adalah syarat wajib bagi desainer. Namun, perlu Anda ketahui bahwa bergerak di bidang penerbitan atau percetakan adalah pekerjaan yang selalu dituntut dengan deadline waktu dan serba pingin cepat. Kerap kali sang desainer overload pekerjaan. Keadaan seperti inilah yang membuat sebuah penerbit kerap membutuhkan desainer freelance (dari luar). Masalahnya, mengambil pekerja dari luar itu biayanya kerap lebih mahal. Menjawab permasalahan tersebut, perusahaan biasanya akan mencari orang yang bisa menjalankan peran tersebut tanpa mengambil dari luar. Dan, peran ini bisa dijalankan oleh editor sekaligus. Inilah yang saya alami di penerbit tempat saya bekerja. Dari empat buku yang diterbitkan, 2 di antaranya merupakan hasil lay out saya.
Program di atas tergolong mudah dipelajari. Saat ini banyak sekali buku-buku yang akan memandu Anda. Atau kalau mau lebih mudah Anda bisa menyetel CD tutorial Pro Active. CD tutorial berbahasa Indonesia ini mengajarkan cara-cara praktis dan mudah dipahami. Dan, yang terpenting Anda bisa langsung mempraktikkannya tanpa memerlukan kursus dengan biaya mahal.

2. Menguasai Program Pendukung Lay Out
Melay-out buku (apalagi majalah) tidak sekadar mengatur tulisan saja. Anda juga perlu menyisipkan gambar, memperbaiki gambar, memberi bagan, skema, dan lain sebagainya. Untuk yang ini, Anda memerlukan program Photoshop atau Corel Draw. Jangan khawatir, Anda tidak perlu menguasai secara menyeluruh. Dasar-dasarnya saja sudah cukup membantu.
Anda tahu, 2 editor (saya dan teman saya) di penerbit tempat saya bekerja, berhasil menyisihkan lebih dari 25 pelamar editor lainnya. Dan, kami berdua menguasai (standar minimal) program Photoshop dan Corel Draw.

3. Menguasai Bahasa Asing
Dunia editing dan perbukuan adalah dunia bahasa. Menguasai bahasa Indonesia dengan baik dan benar itu pasti. Akan lebih pasti lagi jika Anda juga menguasai bahasa asing. Bahasa Inggris-lah yang utama. Namun, untuk bekerja di penerbit buku-buku Islam, Anda mesti pula menguasai bahasa Arab. Penerbit buku-buku Islam kerap menerbitkan buku-buku terjemahan dari Timur Tengah. Dalam menggarap buku-buku terjemahan, editor tidak sekadar mengedit bahasanya sesuai tatabahasa Indonesia yang baik dan benar saja, tapi juga harus memeriksa kesesuaian terjemahan dengan bahasa aslinya.
Mungkin, saya diterima di penerbit Cicero, salah satu sebabnya karena saya menguasai bahasa Arab. Apalabi sebelumnya saya sudah pernah bekerja sebagai penerjemah buku-buku berbahasa Arab. Padahal, saya tidak banyak menguasai bahasa Inggris.

4. Mengenal Dunia Perbukuan
Yang saya maksudkan di sini adalah mengenal buku-buku laris dan best seller, penulis buku-buku best seller, tema-tema buku yang diminati, dan lain sebagainya. Boleh tidak percaya, hal-hal itulah yang banyak ditanyakan pada saya waktu wawancara dulu. Bukan teknis editing.

5. Memahami Editing
Tentu saja ini syarat pertama. Untuk menjadi editor, tidak harus lulusan jurusan bahasa Indonesia atau sastra-nya. Semua orang yang bisa membaca—dan menulis menurut saya—bisa menjadi editor. Ilmu editing bisa dipelajari. Banyak buku-buku yang bisa Anda rujuk. Di antaranya adalah: Memahami Copyediting (Bambang Trim) dan Copyediting & Proofreading for Dummies (Suzanne Gilad).

5 comments:

Eva Rosmatia said...

kan kalo di novel gitu editor tulisan, cover beda lagi. Nah buat jadi editor tulisan, kita juga harus nguasain corel, adobe gitu?
Berat ga sih ka jadi editor?

MS Kholid said...

ya, berat sih enggak. terutama bagi yang hobi dan senang membaca--tentu saja seorang editor kudu orang yang bertipe senang dan menikmati membaca.
memang gak harus menguasai program2 khusus pegangan para desainer itu, tapi setidaknya ngerti kreasi seperti apa yang mungkin diperbuat oleh program tsb. sehingga kita bisa memberi masukan buat desainer, karena yang lebih tau gambaran isi buku kan seorang editor. jadi desainer tinggal mencoba menggambarkan isinya lewat cover.

Nanda Novita Sari said...

Saya dr kecil pingin banget jd editor atau pekerjaan2 yg brhubungan baca-tulis gt dech, sy jg klo baca buku g tau knp suka detail bgt lihat penulisanX jd lama bgt bacaX,hehe. Mnrt anda itu bakat editor bkn sich?

anan restu said...

editor itu dibagi gak sih ? misalnya kayak yang ngurusin bagian novel sendiri, buku terjemahan sendiri. atau harus bisa semua? karena jujur, suka banget baca. tapi ya gitu masih pilih-pilih bahan bacaan.

Anonymous said...

saya melamar sebagai editor dan diminta untuk memberikan portofolio (contoh tulisan berupa hasil editan dan cerpen). saya kurang mengerti untuk melampirkan contoh tulisan hasil editan maksudnya seperti apa. apakah saya menulis artikel yang saya edit sendiri atau saya mengedit artikel orang lain?

There was an error in this gadget

Shorih's books

M. Quraish Shihab menjawab... : 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui
5 of 5 stars true
Tanpa Bermaksud memudah-mudahkan-yang bisa berujung pada kecendrungan serba boleh jika di pahami dan di hayati dengan cara yang benar, sesungguhnya Islam memang satu upaya untuk mendapatkan pemahaman yang benar dalam mengamalkan Islam ad...
Rembulan Tenggelam Di Wajahmu
3 of 5 stars true
Saya membaca buku ini saat Tere Liye belum seterkenal sekarang. Karyanya juga belum sebanyak dan digandrungi sekarang. Saat itu, buku "Rembulan Tenggelam di Wajahmu" masih diterbitkan penerbit lain (bukan Republika) dengan cover warna hi...

goodreads.com