Thursday, July 17, 2008

Jangan Belajar dari Guru yang Lapar

Kalau mencari seorang pelatih, pilihlah seorang yang sudah tidak "membutuhkan" kemenangan atau penghargaan bagi dirinya. Artinya, dia sudah kenyang kemenangan sehingga yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana menjadikan Anda sebagai seorang yang pemenang, bukan menjadikan Anda sebagai sasaran untuk memenuhi dahaganya akan kemenangan.

Akhir-akhir ini saya sering ikutan main badminton di lapangan milik RT yang letaknya tepat di dekat kosan saya. Sebaga orang yang baru (belajar), saya tentu membutuhkan latihan-latihan guna meningkatkan kemampuan. Pada mereka (orang-orang tua) yang saya anggap sebagai senior, tempat saya belajar, saya menemukan perlakuan yang berbeda dalam permainan.

Orang yang matang permainannya biasanya memberi bola-bola mudah kepada saya dan kesempatan untuk "mengendalikan" permainan. Mereka memberikan bola-bola tinggi untuk melatih kemampuan semesh saya, lalu mengembalikannya (dan itu berarti mengajarkan pada saya bagaimana cara mengembalikan smesh). Lalu, ketika mereka melakukan smesh, pukulannya tidak terlalu keras dan di diarahkan ke tempat yang mudah dijangkau. Sehingga, ada kemungkinan bagi saya untuk mengembalikan smesh tersebut. Dan, percaya atau tidak, hal ini perlahan-lahan memupuk rasa percaya diri saya.

Katika saya perhatikan, orang-orang dengan tipe karakter seperti itu adalah orang-orang yang mempunyai kemampuan lebih baik dari yang lainnya.

Keadaan berbeda terjadi pada orang yang masih haus kemenangan, lapar penghargaan. Orang seperti suka sekali menantang bermain SP (spesial). Dalam istilah kami, SP adalah aturan di mana yang kalah bermain harus membayar shuttle cock yang digunakan. Jadi, kalau biasanya sekali main menghabiskan 2 cock (@ 4000) kami cukup membayar 2 ribu dalam permainan ganda, maka jika SP, maka kita harus membayar 4 ribu. Itu jika baru 2 cock, bagaimana jika habis 4 cock atau lebih.

Seperti itulah orang-orang yang "kehausan" itu memperlakukan kami.

Dan, hal yang hampir sama, kita dapati tidak hanya pada bidang olahraga, tapi juga pada permainan atau bahkan dunia pendidikan. Di mana hubungan antara seorang guru dan murid sangat memungkinkan terjadinya kasus yang sama. Begitu juga dalam kehidupan sehari-hari.

Termasuk yang seperti apakah kita?

No comments:

There was an error in this gadget

Shorih's books

M. Quraish Shihab menjawab... : 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui
5 of 5 stars true
Tanpa Bermaksud memudah-mudahkan-yang bisa berujung pada kecendrungan serba boleh jika di pahami dan di hayati dengan cara yang benar, sesungguhnya Islam memang satu upaya untuk mendapatkan pemahaman yang benar dalam mengamalkan Islam ad...
Rembulan Tenggelam Di Wajahmu
3 of 5 stars true
Saya membaca buku ini saat Tere Liye belum seterkenal sekarang. Karyanya juga belum sebanyak dan digandrungi sekarang. Saat itu, buku "Rembulan Tenggelam di Wajahmu" masih diterbitkan penerbit lain (bukan Republika) dengan cover warna hi...

goodreads.com