Sunday, January 24, 2010

Apa Benar "1 Jam Mahir Kitab Kuning"?

Malam itu saya refreshing ke Gramedia Matraman. Sebagai ganti dari rencana memancing yang gagal karena hujan.

Di toko itu, mata saya dipaksa melongok sebuah buku. Judulnya "1 Jam Mahir Kitab Kuning". Sebenarnya, saya sama sekali tidak tertarik untuk membukanya atau bahkan mempelajarinya. Tapi, ada hal yang menggelitik saya yang memaksa untuk mengambilnya dari rak buku.
Apa itu? Buku itu ukurannya sangat kecil dan tipis. Kira-kira setengah ukuran A5. Jumlah halamannya pun, tak menggambarkan sebuah buku yang akan mengantar kita benar-benar menguasa/mahiri kitab kuning. Cuma 135 halaman.

Saya membuka-buka isinya. Ternyata, buku itu tak lebih dari buku "Amstilatut Tashrifiyah" yang saya pelajari sewaktu di tingkat Madrasah Ibtidaiyah (setingkat SD). Buku yang juga dipelajari oleh adik-adik saya--yang sekarang melanjutkan di jurusan umum--dan sama sekali tidak mahir kitab kuning (pisss--mungkin sedikit2 bisa kaleee. hehe). Bahkan, buku pegangan untuk pelajaran Shorof saya itu, berukuran lebih besar dan (kalau tidak salah) jumlah halamannya pun lebih banyak dibanding buku di Gramedia itu.

Saya belajar buku shorof itu, menghafal isinya, dan mengulang-ulang bacaannya hampir setiap hari. Karena, setiap hari hampir selalu ada pelajaran yang berkaitan dengan ilmu itu. Namun, lulus dari Madrasah Ibtidaiyah, saya merasa sama sekali "belum tahu" kitab kuning.

Keadaan berlanjut, ketika duduk di Madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP). Saya lebih mendalami lagi buku tersebut dengan ditambah buku-buku nahwu-shorof lainnya. Namun, saya masih saja belum merasa mahir kitab kuning. Membaca kitab kuning masih terasa berat dan susah.

Keadaan itu berlangsung hingga Madrasah Aliyah. Kebetulan saya masuk di jurusan keagamaan (MAK/MAPK). Hampir semua buku utama kami adalah buku-buku berbahasa Arab. Beberapa mata pelajaran pun (gurunya) menyampaikan dengan bahasa Arab. Kala itulah, saya baru merasa agak sedikit "nyambung" (baru sedikit lho, ya...) dengan kitab kuning. Membaca kitab kuning sendiri masih terasa berat.

Keadaan itu membaik dengan drastis kala saya masuk ke LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) di Jakarta. Perguruan tinggi yang semua buku pelajarannya berbahasa Arab. Bahasa pengantarnya pun dengan bahasa Arab. Saat itulah, saya baru benar-benar merasa bisa membaca kitab kuning, tapi masih saja belum merasa mahir.

Mahir mempunyai makna yang sangat dalam sekali. Coba saja buka Kamus Besar Bahasa Indonesia. Mahir artinya SANGAT terlatih, cakap, dan terampil dalam mengerjakan sesuatu.

Terus, bagaimana dengan buku itu?
Apa Anda juga akan sangat terlatih, cakap, dan terampil dalam membaca kitab kuning?
Coba saja!
Anda bisa coba membelinya, lalu beritahu saya keberhasilan Anda.
Saya berharap Anda berhasil.
Tidak seperti saya yang perlu bertahun-tahun--hanya--untuk sekadar bisa membaca kitab kuning.

Salam buku (pinjam istilahnya Pak Bambang Trim).


*Kitab kuning sendiri adalah istilah untuk kitab-kitab berbahasa Arab yang banyak dipelajari di pesantren. Disebut begitu, karena dicetak menggunakan kertas berwarna kuning.

2 comments:

Riyanti said...

wah dl jaman di madrasah diniyah jg gt, tp kagak bs heheehehe...susah bgt..

emange stlh bc itu gmn mnrt kang Shorih?

salam sayank

Anonymous said...

Sebenarnya bisa, kalau emang sudah ada dasar, tapi kalau tidak ada yang susah...

There was an error in this gadget

Shorih's books

M. Quraish Shihab menjawab... : 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui
5 of 5 stars true
Tanpa Bermaksud memudah-mudahkan-yang bisa berujung pada kecendrungan serba boleh jika di pahami dan di hayati dengan cara yang benar, sesungguhnya Islam memang satu upaya untuk mendapatkan pemahaman yang benar dalam mengamalkan Islam ad...
Rembulan Tenggelam Di Wajahmu
3 of 5 stars true
Saya membaca buku ini saat Tere Liye belum seterkenal sekarang. Karyanya juga belum sebanyak dan digandrungi sekarang. Saat itu, buku "Rembulan Tenggelam di Wajahmu" masih diterbitkan penerbit lain (bukan Republika) dengan cover warna hi...

goodreads.com