Saturday, June 12, 2010

Noda di Laga Pembuka [catatan Piala Dunia 2010 - 1]


Hari pertama dibuka dengan pertandingan antara tuan rumah, Afrika Selatan, melawan Meksiko. Sebelum pertandingan, para pengamat banyak yang menjagokan Meksiko akan mampu mengalahkan lawannya--meskipun bermain di bawah sorak sorai puluhan ribu pendukung tuan rumah.

Prediksi terbukti. Sejak awal pertandingan, Meksiko yang beberapa hari sebelumnya berhasil mengalahkan juara bertahan, Italia (2-1), dalam laga pemanasan, langsung menggebrak. Mereka terus mengurung pertahanan Afsel yang sangat rapat. Kualitas individu pemain Meksiko yang rata-rata di atas kualitas pemain Afsel tampak terlihat jelas. Pemain Meksiko dengan begitu nyamannya memainkan bola dari kaki ke kaki menguasai sisi permainan Afsel. Namun, ketatnya pertahanan Afsel membuat tak satu pun gol tercipta dari kaki pemain Meksiko. Sementara pemain Afsel hanya sesekali melakukan serangan balik. Itu pun tak terlalu membahayakan.

Beberapa peluang emas dari Meksiko, berhasil digagalkan pemain belakang Afsel, kiper, ataupun melenceng di samping gawang. Satu peluang emas datang lewat tendangan penjuru. Tendangan penjuru Gerardo Torrado (Meksiko), berhasil disundul oleh Guillermo Franco dan mengarah ke Carlos Vela yang berdiri bebas. Ia mengontrol dengan dadanya, lalu melesakkan bola ke gawang dengan mudahnya.

Carlos Vela langsung berlari melakukan selebrasi.
Tapi, wasit meniup peluitnya. Bukan pertanda gol. Tapi, pertanda anulir gol, karena dianggap offside. Wasit (hakim garis) menilai Carlos Vela telah berada di posisi ofside saat menerima umpan dari Guillermo Franco. Padahal, dalam tayangan ulang (bahkan tanpa tanyangan ulang pun) penonton akan tahu bahwa gol itu sah. Carlos Vela tak berada dalam posisi ofside. Dia bebas tak terkawal, mengontrol bola dengan baik, dan menendang masuk bola ke gawang dengan sempurna.

Dia tidak offside, karena pada saat bersamaan sudah ada Piennar yang berdiri tepat di bawah mistar gawang Afsel. Dia bahkan sudah ada di sana sebelum tendangan penjuru diambil.
Benar-benar tak bisa dipercaya. Saya tak menemukan alasan apa pun, kenapa gol itu dianulir selain faktor tuan rumah. Sebelumnya, saya dengan jelas ada dua keputusan wasit yang terlihat jelas membela tuan rumah.

Babak kedua, pertandingan berjalan lebih menarik karena Afsel sudah mulai bernai "melawan". Mereka memeragakan permainan cepat, dengan serangan balik yang cepat. Pemain Meksiko yang keasikan menyerang akhirnya harus menerima kenyataan pahit, mereka kebobolan lewat umpan jauh yang kemudian diteruskan dengan tendangan keras pemain Afsel.

Skor berubah 1-0 untuk Afsel.
Para pemain lalu berdiri berjajar di pinggir lapangan. Bergoyang waka-waka, seperti yang digoyangkan Syakira.

Sejujurnya, saya juga tak suka dengan gol itu. Andai gol di babak pertama tak dianulir, saya mungkin akan merasa senang melihat gol itu. tapi, kecurangan itu membuat kekesalan.
Kabar baiknya, di babak kedua wasit bertindak lebih adil. Mungkin dia sudah melakukan evaluasi saat jeda pertandaingan dan berusaha memperbaikinya di babak berikutnya.

Meksiko akhirnya berhasil membalas. Skor pun bertahan 1-1 hingga pertandingan berakhir.

Sangat menyakitkan melihat pertandingan pembuka dinodai dengan keputusan wasit yang tak fair. Tapi, inilah uniknya sepak bola, kata Sepp Bletter yang bersikukuh tak mau memasukkan "intervensi" teknologi dalam pertandingan sepak bola. Ia ingin sepak bola berjalan secara alami. Yang penuh dengan emosi, termasuk kesalahan wasit dalam mengambil keputusan di lapangan.

"Biarlah itu menjadi bahan cerita indah dalam sepak bola,' kata Bletter.[*]

No comments:

There was an error in this gadget

Shorih's books

M. Quraish Shihab menjawab... : 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui
5 of 5 stars true
Tanpa Bermaksud memudah-mudahkan-yang bisa berujung pada kecendrungan serba boleh jika di pahami dan di hayati dengan cara yang benar, sesungguhnya Islam memang satu upaya untuk mendapatkan pemahaman yang benar dalam mengamalkan Islam ad...
Rembulan Tenggelam Di Wajahmu
3 of 5 stars true
Saya membaca buku ini saat Tere Liye belum seterkenal sekarang. Karyanya juga belum sebanyak dan digandrungi sekarang. Saat itu, buku "Rembulan Tenggelam di Wajahmu" masih diterbitkan penerbit lain (bukan Republika) dengan cover warna hi...

goodreads.com