Wednesday, December 12, 2012

#Social Innovation Challenge; Satu Siswa, Satu Tambulampot

***

Dua orang mahasiswa baru, berbincang di halaman kampus.
“Kamu lulusan sekolah mana,” tanya yang satu.
“Aku dari SMU 212 Jakarta,” jawab yang kedua.
“Oooh, sekolah penghasil jeruk santang itu, ya?”
“Iya, doong. Kamu dari sekolah mana?”
“SMU 121 Bandung.”
“Aku tahu. Itu sekolah penghasil jambu yang terkenal manis dan enak!”
 ***


Indonesia adalah pasar sangat menggiurkan dunia. Beraneka barang diimpor ke dalam negeri. Mulai barang elektronik, pecah belah, otomotif, konveksi, hingga buah-buahan. Di supermarket, bahkan pasar-pasar tradisional mudah sekali ditemukan buah-buahan impor. Salah satu sebabnya, tak ada pasokan buah yang kualitas dan kuantitasnya terjamin—hal yang bisa terpenuhi dari barang impor. Kita pun seakan kelimpungan menghadapi serbuan buah impor.

Di sisi lain, institusi pendidikan—dalam hal ini sekolah—punya potensi besar yang belum termanfaatkan. Banyak sekolah tak sanggup memberikan pendidikan maksimal. Tak bisa mengadakan berbagai pelatihan pengembangan SDM sekolah. Tak mampu memberikan kesejahteraan yang cukup bagi gurunya. Tak sanggup menyiapkan perpustakaan yang representatif untuk siswanya. Kendala klasiknya, biaya.

Tambulampot (tanaman buah dalam pot) adalah metode alternatif para penduduk kota untuk menikmati pemandangan hijaunya daun, di rumah/di sekolah. Keterbatasan halaman/ruang terbuka yang dimiliki rumah/sekolah mengakibatkan sulitnya menanam pohon buah langsung di tanah halaman rumah/sekolah. Suasana kota yang semakin panas, ditambah polusi asap yang tidak diimbangi pepohonan hijau, memerlukan ide kreatif agar udara tetap segar dan lingkungan nyaman. Tak cukup dengan pepohonan hijau, tambulampot juga memberikan benefit lain bagi sekolah dan siswa.

Ide berjudul “Satu Siswa, Satu Tambulampot” ini mencoba memberikan solusi terhadap salah satu permasalahan yang membelit bangsa ini. Memenuhi kebutuhan buah dalam negeri lewat sekolah dan memenuhi kebutuhan internal sekolah dari sisi ekonomi. 

B. Tujuan Kegiatan

Kegiatan menanam tambulampot (tanaman buah dalam pot) di sekolah ini bertujuan:
-          Mengurangi ketergantungan dari buah-buahan impor
-          Memenuhi kebutuhan buah-buahan yang sehat dan alami dari dalam negeri
-          Menciptakan lingkungan hijau yang sehat, segar, dan alami
-          Menjadikan sekolah sebagai basis pembangunan lewat produksi buah-buahan
-          Meningkatkan ekonomi lembaga pendidikan (sekolah)
-          Sebagai media praktik ilmu alam yang diperoleh di bangku sekolah
-          Memberikan tambahan uang saku bagi siswa

C. Bentuk Kegiatan

Kegiatan ini berbentuk penanaman tambulampot di sekolah-sekolah. Tambulampot dijejer rapi di halaman sekolah dan bisa berfungsi sebagai penghias. Setiap siswa diberikan tanggung jawab untuk menanam minimal 1 (satu) pohon buah sesuai keinginan masing-masing. Siswa dipersilakan memilih buah yang lazim dan mudah untuk dipelihara dalam tambulampot; seperti jeruk, belimbing, jambu air, atau yang lainnya. Atau misalnya diseragamkan sesuai tingkatan kelas; siswa kelas 1 (jeruk), kelas 2 (jambu air), dan kelas 3 (belimbing), dan lain semisalnya.

Sekolah (lewat program Social Innovation Challenge) menyediakan pot dan bibit buah. Tiap 10 (sepuluh) siswa didampingi oleh satu orang guru yang bertindak sebagai pendamping. Setiap hari, mereka merawat dan mencatat perkembangan tanaman masing-masing. Guru memberikan bimbingan cara membuat pupuk kompos dari sampah organik. Bahan pembuatan pupuk organik dikumpulkan siswa dari sampah rumah masing-masing. 

Saat panen, pihak sekolah bisa mengadakan bazaar buah yang dibuka untuk para wali murid dan masyarakat umum. Bila hasil buahnya melimpah, bisa disalurkan ke supermarket atau pasar induk. Keuntungan hasil panen, dibagi prosentasi untuk siswa dan sekolah—sesuai kebijakan di sekolah masing-masing. Ini bisa menambah penghasilan bagi siswa dan memperbaiki ekonomi sekolah tanpa harus menunggu uluran bantuan dari pemerintah.

Ketika siswa lulus, tanaman bisa diwariskan kepada angkatan berikutnya, atau dihibahkan ke sekolah lain yang membutuhkan. Untuk tahap lanjut, siswa dan guru bisa mempraktikkan ilmu tambulampot ini di rumah masing-masing, lalu berbagi wawasannya itu kepada masyarakat sekitar rumahnya. 

D. Peserta

Peserta kegiatan ini adalah seluruh siswa yang dianggap mampu. Misalnya, untuk tingkat SD/MI siswa yang kira-kira bisa diberi tanggungjawab adalah kelas 5-6. Untuk kelas di bawahnya, bisa dimulai dengan pot plastik (polybag) dan menanam cabe atau tomat. Tiap guru juga diharapkan ikut berperan aktif dalam program ini. 

E. Kebutuhan

Untuk menyukseskan program ini, kebutuhan yang diperlukan antara lain:
-     - Pembimbing (penyuluh) yang memahami dengan baik tambulampot, pupuk organik, dan hal-hal yang berkaitan dengan tumbuhan.
-          - Pot ukuran sedang (bisa diganti dengan kaleng atau ember bekas)
-       -   Bibit cangkokan buah yang berkualitas; bisa bekerjasama dengan Kementerian Pertanian dan Perikanan atau Institut Pertanian Bogor

F. Penutup

Sangat simpel, dan mudah ide ini diterapkan. Yang menentukan adalah kemauan kita untuk memulai. Hal kecil dan sederhana ini bisa mengubah masa depan bangsa. Insya Allah…
Salam Sukses Mulia,

No comments:

There was an error in this gadget

Shorih's books

M. Quraish Shihab menjawab... : 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui
5 of 5 stars true
Tanpa Bermaksud memudah-mudahkan-yang bisa berujung pada kecendrungan serba boleh jika di pahami dan di hayati dengan cara yang benar, sesungguhnya Islam memang satu upaya untuk mendapatkan pemahaman yang benar dalam mengamalkan Islam ad...
Rembulan Tenggelam Di Wajahmu
3 of 5 stars true
Saya membaca buku ini saat Tere Liye belum seterkenal sekarang. Karyanya juga belum sebanyak dan digandrungi sekarang. Saat itu, buku "Rembulan Tenggelam di Wajahmu" masih diterbitkan penerbit lain (bukan Republika) dengan cover warna hi...

goodreads.com