Friday, April 29, 2016

Mencari Keberkahan Hidup



Khotbah I
الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ جَعَلَ التّقْوَى خَيْرَ الزَّادِ وَاللِّبَاسِ وَأَمَرَنَا أَنْ تَزَوَّدَ بِهَا لِيوْم الحِسَاب اَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا محَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ المَوْصُوْفُ بِأَكْمَلِ صِفَاتِ الأَشْخَاصِ.
اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أجمعين وسَلّمْ تَسليمًا كَثِيرًا ، أَمَّا بَعْدُ ،
فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِىْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
.
Hadirin, jamaah Jum’at rahimakumullah
Wonten eng kesempatan meniko, khatib mengajak diri pribadi lan mugi-mugi berkenan dumateng jamaah sedoyo. Anggen kitho netepi taqwa dumateng Allah SWT, dengan sebenar-benarnya takwa. Yakni dengan cara sekuat tenaga ngelampahi sedoyo perintahipun Gusti Allah lan nilar sedoyo larangane pun Allah. Amergi, mboten wonten bekal kangge mati, ingkang luweh ageng ngungkuli bekal berupa taqwa kepada Allah SWT.
Hadirin, jamaah Jum’at ingkang dimuliakan Allah

Gesang kulo sedoyo ing dunyo meniko, selain bertujuan mencari ridho Allah, juga mados keberkahan ingkang sak katah-katahipun. Keberkahan
-lah ingkang dados sebab gesang kulo lan panjenengan menjadi bahagia. Wonten ing pesantren, bolak-balik poro kiai, poro guru, selalu mengingatkan kita akan pentingnya mencari berkah. Mondok, mboten sekedar mados kepintaran. Lan mboten sekedar mados rangking setunggal. Sebab, kathah tiyang pinter, namun mboten berkah. Akibatnya, pinter minteri wong. Ilmu lan kepintaranipun menjadi malapetaka bagi dirinya, keluarga lan masyarakat.

Berkah niki mboten selalu tergantung pada kathah lan sekedik e harta yang kita miliki. Berkah niku mboten tergantung mewah lan megahnya rumah yang kita tinggali. Wonten sebuah hadits ingkang sering dijadikan doa, terutami kangge sepasang pengantin:
بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا

Yang Artinya: “Semoga Allah memberi keberkahan untukmu, memberi keberkahan atasmu, dan menghimpun yang terserak di antara kalian berdua.” (HR At-Turmudzi)

Me
nurut ilmu Nahwu kalimat “laka بَارَكَ اللهُ لَكَ, digunakan kangge perkawes-perkawes ingkang sifatnya menguntungkan atau menyenangkan. Sementara kangge perkawes2 ingkang mboten menyenangkan, coro ilmu Nahwu menggunakan kata “alaikaوَبَارَكَ عَلَيْكَ.
Ternyata, bahasa laka dan alaika digunakan oleh Rasulullah saw wonten ing hadits meniko supados sepasang pengantin niku mendapat keberkahan; baik ketika memperoleh hal-hal yang enak maupun yang tidak enak. Sebagian orang salah memahami bahwa keberkahan niku hanya wonten ing sesuatu yang enak secara fisik mawon. Padahal bisa jadi, yang tidak enak itulah yang sebenarnya menjadi sumber keberkahan.
Allah SWT berfirman wonten ing surat An-Nisa’ ayat 19:
«فَعَسى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئاً وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْراً كَثِيراً»
" (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang amat banyak."
Hadirin, jamaah jumat rahimakumullah...
Misalnya, seseorang menjadi anggota DPR. Secara lahiriah, naik jabatan niki adalah sesuatu yang mengenakkan, sesuatu yang menyenangkan. Namun, ternyata banyak orang yang justru masuk penjara setelah menjadi anggota DPR. Peristiwa macam niki menjadi bukti bahwa perkara ingkang tampaknya enak, berupa jabatan tinggi yang dihormati banyak orang, ternyata malah membawa bencana diri sendiri dan keluarga.
Contoh lain, tiyang ingkang sakit. Secara zahir, tampaknya merupakan perkara yang tidak mengenakkan. Namun, bisa jadi gara-gara sakit nikulah tiyang tersebut mendapat keberkahan mergi saget mengistirahatkan tubuhnya, ugi saget mengisi waktunya lebih banyak bersama keluarganya. Sesuatu ingkang mungkin sangat sulit diperlolehnya gara-gara kesibukan bekerja.
Hal ini menunjukkan bahwa antara yang menguntungkan dan tidak menguntungkan, sama-sama punya peluang memperoleh keberkahan.

Hadirin jamaah jumat ingkang minulyo,

Bertambahnya sesuatu juga belum tentu membawa kebaikan jika tidak bisa mendekatkan diri kepada Allah. Orang yang berumur panjang belum tentu lebih berkah dibanding orang yang mati muda. Orang yang tampaknya kaya raya dan rezekinya berlimpah, belum tentu juga lebih barokah daripada orang yang tampaknya hidupnya pas-pasan. Demikian pula, orang yang tambah ilmunya, belum tentu juga mendapatkan keberkahan jika ilmu tersebut hanya menjadi kebanggaan diri
sendiri. Bukan untuk diajarkan kepada orang lain atau untuk menambah keimanan kepada Allah SWT.
مَنِ ازْدَادَ عِلمًا وَلَمْ يَزْدَدْ هُدىً لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللهِ إِلّا بُعْدًا
Artinya: “Barangsiapa bertambah ilmunya, tapi tidak bertambah hidayahnya, maka sesungguhnya dia hanyalah menambah jauh jarak dari Allah SWT.”

Kita ambil contoh kisah Qorun, ingkang disebut-sebut sebagai orang terkaya di dunia. Sebelum menjadi kaya raya, Qorun adalah seorang ahli ibadah. Dia amat rajin mengaji bersama Nabi Musa as. Namun, begitu menjadi seorang yang kaya raya, Qorun menjadi sombong. Ia menolak membayar zakat. Bahkan berbuat durhaka dengan memfitnah Nabi Musa AS berbuat zina. Naudzubillah min dzalik.
Jama’ah Jum’ah ingkang dimuliakan Allah,

Pengertian sederhana dari berkah ialah kebahagiaan. Tiyang ingkang berbahagia niku biasanya diukur hanya dari segi fisiknya. Namun, dalam pandangan agama Islam, tanda-tanda kebahagiaan tidak identik dengan sesuatu yang tampak secara dhahir. Bisa jadi tampilan lahiriah
seseorang terlihat bahagia, namun batin mereka menderita.
ومِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً
"Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. (QS: al-Rum 21)
Salah satu tanda kekuasaan Allah inggih meniko; Allah menciptakan istri ingkang saget menentramkan jiwa dan menciptakan kasih sayang dalam keluarganya. Kebahagian rumah tangga mboten tergantung pada kecantikan istri.  Ugi mboten terletak pada harta kekayaan suami. Mboten pula tergantung pada banyaknya anak lan istri yang dipunyai.
Misalnya, apa mesti kalau punya istri cantik dijamin bahagia? Bisa jadi iya, tetapi mungkin saja tambah pusing. Kita lihat berita para artis di TV, betapa banyak pasangan artis cantik dan rupawan, namun justru berakhir pada perceraian. Ini bukti bahwa mereka tidak bahagia. Sekali lagi, inilah bukti yang meyakinkan bahwa sesuatu yang nampaknya menarik belum tentu menjamin rasa bahagia. Standar untuk menilai kebahagiaan keluarga tidak dilihat dari harta dan kemewahan apa yang dimiliki, tetapi apakah suami-istri tersebut memiliki akhlak yang baik. Jika suami istri saling menghormati, saling memuliakan, insya Allah kehidupan mereka akan bahagia dan penuh barokah.

Keberkahan bisa kita raih dengan senantiasa mendekatkan diri kita kepada Allah SWT seraya terus menghiasi diri kaleyan sifat-sifat terpuji, seperti syukur, teriman, gemar bersedekah, berbakti kepada kedua orangtua, rukun sesama tetangga lan sak lintu2nipun.
قال الله تعالى في القرآن الكريم : (يا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْناكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثى وَجَعَلْناكُمْ شُعُوباً وَقَبائِلَ لِتَعارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقاكُمْ).
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.


Khotbah II
اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ.
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، وَأَحُثُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحًمُوْنَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ اْلقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَاأَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ، وَقاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمُ وَصَدَقَ رَسُوْلُهُ النَّبِيُّ الْكَرِيْمُ وَنَحْنُ عَلَى ذلِكَ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ وَالشَّاكِرِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْياَءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَقَاضِيَ الْحَاجَاتِ. رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار.

عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ  وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Saturday, April 23, 2016

Antara Akhi, Kang, Bro dan Saudara

Antara Akhi, Kang, Bro dan Saudara

Panggilan akrab antar santri itu "Kang". Pak Kiai, saat memanggil santrinya yang senior juga pakai kata "Kang" ini.

Kang (mungkin) singkatan dari Kangmas. Sebuah panggilan ala Jawa untuk seorang kakak atau orang yang dinilai lebih senior.

Akhir-akhir ini, saya juga menemukan kata panggilan akrab menggunakan kata:
"Akh..." (singkatan Akhi)
"Ukh..." (singkatan Ukhti)
"Bro..." (singkatan Brother)
"Sis..." (singkatan Sister).

Lalu,
Manakah yang lebih sunnah di antara semua kata panggilan itu?

Apakah Akhi dan Ukhti, karena ia pakai kata berbahasa Arab? (Yang merupakan bahasanya Kanjeng Nabi saw.)

Ataukah Kang, yang lebih sunnah karena konteks situasi muslim di nusantara.
Atau pula Bro dan Sis, yang lebih sunnah bagi muslim Barat berbahasa Inggris?

Perlu dipahami bersama adalah bahwa;

Yang sunnah itu sesungguhnya bukanlah memakai kata apa yg kita gunakan. Arab, Jawa, Batak, Papua, Barat, China, dll.

Tapi, bentuk penghormatan dan pemuliaan kita terhadap sesama lah yang menjadikan panggilan itu bernilai sunnah (dalam arti fikih maupun dalam pengertian ittiba' sunnah).

Maka, setiap orang harus bisa menempatkan diri. Ia sedang bicara dengan siapa. Sedang komunikasi dengan saudara muslim dari mana?

Kalau komunikasi dengan teman2 santri NU, panggilan "Kang" lebih diterima dan mengakrabkan.

Kalau bicara sama teman2 dari PKS, panggilan "Akhi" dan "Ukhti" akan lebih mendekatkan ruhiyah anda bersama mereka.

Begitu pula, kasusnya ketika anda keluar negeri dan bertemu muslim dari Amerika. Memakai panggilan "My Brother" akan mengeratkan tali persaudaraan walau tak pernah kenal sebelumnya.

Yang jadi masalah adalah;
Anggapan bahwa seseorang belum dianggap telah "berhijrah" atau "berislam kaffah", kalau belum pakai panggilan tertentu dalam kesehariannya.

Kata seperti ini, berlaku pula pada contoh kata lain seperti:
Antum, Ente, Sampean, Jenengan, Anda, dll.
Tidak serta merta yang berbahasa Arab menjadi lebih nyunnah dan lebih kaffah daripada yang tidak berbahasa Arab.

Wallahu a'lam

Babat, 23 April 2016
@ruanginstalasi
@mskholid

Thursday, April 21, 2016

Shalawatan di Base Camp Malam Jumat

Tradisi Solawat, dzibaan dan doa bersama sudah selayaknya kita lestarikan secara istiqomah serta mengharap syafaat baginda Rosulallah SAW.

Mengundang  saudara sedulur semua dlm kegiatan Dzibaan di bescem Wasiat.

Malam ini

Kamis, 21 April 2016
Pukul 19:30 (ba'da isya).

Semoga apa yg kita lakukan senantiasa mendapatkan Ridlo-Nya.

Wednesday, April 20, 2016

Inspirasi Menulis Indah Lewat Tulisan Guru

Inspirasi Menulis Indah Lewat Tulisan Guru

Menulis tentang hal ini, saya sulit membahasakan pengertian tulisan yang saya maksudkan.
Kalau dalam bahasa Arab, mudah sekali. Untuk menunjukkan pengertian tentang indahnya tulisan (huruf-huruf) kita menggunakan kata khat.

Namun, di bahasa Indonesia, sepertinya tetap pakai kata tulisan.
Padahal, kata indahnya tulisan bisa bermakna indahnya susunan kalimat dan kata-kata yang dirangkai penulis.
Bisa juga bermakna indahnya goresan dan lengkok2 hurufnya.

Nah, yang dimaksud dalam tulisan ini adalah makna kedua.

Saya teringat dengan nasihat Romo Kiai Faqih Langitan; tentang tulisan guru.
Seorang guru ketika mengajar harus memberi contoh dengan tulisan (khat) yg indah di papan.
Sebab, murid akan meniru gaya tulisan gurunya.

Bila tulisan guru di papan bagus, minimal tulisan muridnya juga sedikit di bawahnya. Mereka ikut niru gaya menulis yang indah itu.

Sebagaimana pepatah; Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari.

Lha, sebaliknya, jika tulisan gurunya saja hampir tidak bisa dibaca, apalagi tulisan muridnya.
Bisa jadi, murid yang sebelumnya biasa nulis bagus, gara2 melihat tulisan guru yang berombak naik turun, jadi ikut-ikutan jelek.

Di daftar guru sekolah, saya ingat beberapa nama guru yang tulisannya di papan, amat memesona.
Ada Kiai Sjafi Ali (khat arab dan latinnya sama2 wow), Pak Amin (guru Bhs Indonesia, Aisy Ilfiyah), Pak K'Amin Tabah (penulis ijazah), ada pula Almarhum Bapak Ahmad Fadlol.
*kalau punya referensi nama lain yang diingat, tuliskan di komentar ya. Nanti saya edit.

Guru-guru yang punya tulisan bagus, minimal telah memberi kesan & inpirasi pada murid-muridnya lewat indahnya tulisan itu. Sehingga mereka tergerak untuk terus menerus memperbaiki Khat nya.

Sebagai guru muda, saya sendiri sangat ingin bisa menulis yang bagus di papan. Tapi tulisan/khat indah itu ternyata membutuhkan kesabaran ekstra. Harus sedikit lebih pelan dan hati2. Jauh lebih mudah pakai khat gaya latin yang bersambung. Asal bisa dibaca. Hehehe

Apalagi, sudah zamannya teknologi, yang karenanya kita hampir tidak pernah menggunakan pulpen atau kapur untuk menulis. Semua sudah tergantikan oleh tuts komputer dan keyboard laptop.

Dengan komputer pula, semua orang bahkan bisa dengan mudah menghasilkan khat/tulisan seperti tulisan Alquran. Bisa punya kualitas font beribu macam ragamnya.

Maka, aktivitas menulis indah pada zaman sekarang adalah hal istimewa menurut saya.
Guru yang terus istiqomah menulis indah pun bisa disebut sebagai guru yang istimewa.

~~~

Babat, 20 April 2016
@mskholid @ruanginstalasi

Friday, April 15, 2016

Tembelek Lanthung Atasi Wong Ngoceh2

Tembelek Lanthung, Mengatasi Orang "Ngoceh-ngoceh"

Sebenarnya saran ini sudah pernah saya dengarkan berulang kali lewat ceramah Almukarram Kiai Abd. Ghofur. Namun, baru sempat saya tuliskan.

Bila ada orang yang ngoceh-ngoceh gak karuwan, jangan dituruti. Sebab, kalau dituruti, akan makin menjadi-jadi polahnya.

Misalnya,
Hari ini ngoceh minta pulang. Minta diantar ke sebuah pohon besar di pinggir desa.
Jika dituruti, ngocehnya berhenti.

Maka,
Pasti besok lagi dia ngoceh lagi minta diantar ke kuburan.
Jika dituruti, ngocehnya berhenti lagi.

Pasti,
Besok lagi ngoceh juga.
Entah minta diantar ke mana lagi?
Asal gak minta diantar ke rumah Pak Lurah. Nanti, orang2 akan nuduh Pak Lurah punya peregangan.

Itu cara setan untuk mengadu domba manusia. Cara setan agar manusia saling membenci, dan tidak rukun.

Lha terus gimana caranya, Kiai?
Kiai Ghofur punya jawabnya.

"Suapin saja dengan tembelek Lanthung. Dan toletkan di hidungnya. Pasti warassss...!!!"

Hahaha...
Saya tertawa saat mendengar solusi mudah ini. Tembelek Lanthung memang terkenal paling berbau. Paling gak enak basinnya. :-D

Apabila setelah ditolet tembelek lanthung kok masih ngoceh, kata beliau, ancam saja.
"Kalau masih ngoceh, saya ceburkan ke jamban kapok kau...!!!"

Jumat Barokah
Perbanyak Shalawat Nabi

Babat, 15 April 2016
@mskholid
@ruanginstalasi

Tuesday, April 12, 2016

Hina Nabi, Bencana Paceklik 7 Tahun

Dulu, ada suku yang amaaat benci pada Baginda Rasulullah saw. Suku Muhdhor, namanya.

Saking bencinya, mereka mengolok-olok Baginda dengan kalimat yang menyakitkan.

Keceplosan,
Baginda Rasulullah saw berdoa untuk mereka:

"Ya Allah, jadikan tahun-tahun suku itu seperti tahun-tahun kaumnya Nabi Yusuf as."

Maka, Bani Muhdhor pun mengalami masa paceklik yang panjang. Tujuh tahun gagal panen. Tujuh tahun tanaman tidak berbuah. Hujan tak jua turun. Hewan2 ternak kurus dan kelaparan. Mereka hidup dalam keputusasaan.

Seperti yang terjadi pada kaumnya Nabi Yusuf as ketika itu.

Setelah sekian lama, sang ketua suku sadar akan kesalahannya. Ia tergerak untuk meminta maaf pada Baginda Rasulullah saw.

Dia bersama rombongan sesepuh Bani Muhdhor menghadap Baginda Nabi saw. Meminta maaf atas kesalahan dan memohon doa agar terbebas dari paceklik yang menimpa bertahun-tahun itu.

Rasulullah saw langsung menerima permintaan maaf mereka dan mendoakan untuk suku Muhdhor.
Seketika itu, hujan deras mengguyur wilayah mereka. Dan, bebaslah kaum itu dari cengkeraman musim paceklik berkepanjangan.

Mereka lalu berombongan masuk Islam semua.

Seorang penyair kenamaan bernama Labid bin Rabiah melukiskan kejadian ini lewat sebuah syair indah.

Friday, April 8, 2016

Mengolah Besi

Mengolah Besi

Beberapa waktu lalu, saya mengantar Adek ke toko pancing. Beli seperangkat alat pancing dan kailnya.

Harga sebuah kail pancing dari besi itu Rp.300 rupiah. Itu berarti, 1500 dapat 5 pcs kail. Saya timang-timang, beratnya paling sekitar 1 gram saja.

Saya jadi teringat dengan tetangga desa yang pengepul besi tua. Pernah saya tanyakan, harga jual besi tua per kg berkisar 3000 - 5000.

Kalau dihitung-hitung, 1 kg besi yang harganya 5.000 rupiah itu bisa dapat ratusan atau bahkan ribuan kail pancing.

Saya melirik arloji saya.
Lha, ini dalemannya juga dari besi nich, gumam saya.

Andaikan arloji saya ini merk terkenal dari Swiss yg harganya puluhan juta, bisa jadi besi yang 1 gram di dalamnya bernilai jutaan pula.

Bahkan, andaikan besi itu diolah jadi barang yang sama bentuknya, harganya pun bisa berbeda.

Contohnya,
Besi yang dibuat jadi keris oleh Empu Gandring, andaikan zaman sekarang masih ada, pasti harganya tak terkira.

Besi yang dibuat jadi pedang, pun harganya bisa berbeda. Pedang samurai akan jauh lebih mahal dibanding pedang aksesoris.

Begitu pula dengan besi yang sama2 dibuat jadi sabit. Atau, sama2 celuritnya.
Podo celurit e. Tapi hargane iso bedho.

Saya lalu menengok pada diri sendiri.

Oh iya, kita bisa meningkatkan nilai jual diri dengan mengolah diri kita. Yakni dengan cara bagaimana meningkatkan nilai manfaat bagi orang sekitar.

RSML, 08 April 2016

Wednesday, April 6, 2016

Istiqomah Khataman di Masjid Tiap Jumat, Sunnah

" من ختم القرآن ، فله دعاء مستجاب "
رواه الطبراني

Membaca hadits di atas malam ini, saya teringat dengan tradisi di masjid kampung. Setiap hari Jumat mereka menggelar Khataman Quran. Dimulai setelah jamaah Subuh, hingga setelah Ashar.

Para jamaah bergiliran membaca ayat-ayat Alquran. Biasanya 1 surat, 1 juz, atau 1 maqra', tergantung situasi.
Sementara jamaah lainnya menunggu giliran membaca sambil menyimak bacaan temannya.

Begitu seterusnya aktivitas ini berlangsung hingga 30 juz dikhatamkan.

Setelah khatam, dilanjutkan dengan doa Khatmil Quran dan doa-doa kebaikan lainnya.
Dilanjut makan-makan.

Begitulah tradisi yang sampai hari ini terus dipelihara oleh kalangan muslim di kampung (saya).

~~~

Biasanya dari kalangan tertentu akan mempertanyakan; adakah amaliah ini sunnah?
Adakah dilakukan pada zaman Rasulullah saw?

Kalau kita cek di kitab hadis, saya sendiri tidak yakin ada kebiasan yg persis seperti itu di hari jumat pada zaman Baginda Nabi. Lha wong Quran saja belum dibukukan kok. Mana bisa mereka membaca Alquran?

Lha, terus kebiasaan itu sunnah apa tidak?

Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw menegaskan bahwa apabila sekelompok orang melakukan tadarus (mengaji, mempelajari, mengkaji) Alquran di masjid, maka malaikat akan menyelimutkan barokah, rahmat, utk mereka.

Itu artinya, mereka yg istiqomah tadarus tiap jumat, masuk dalam apa yg disebut Rasulullah saw. di atas.

Pasti timbul pertanyaan lagi.
Tapi, kenapa harus hari Jumat?
Kok gak hari lainnya.

Jawabnya, karena ada sekian banyak hadits yang menyebutkan keutamaan hari Jumat dibanding hari lainnya.
Malah, ada sebuah waktu sepanjang hari Jumat itu. Dimana siapa yang berdoa dan pas dengan waktu tersebut, pasti akan terkabul hajatnya.

Sunnah lagi tho??? :)

Kembali ke hadits paling atas.
Saya husnudhon; bisa jadi Allah memberikan barokah, ketentraman, dan kemakmuran pada sebuah desa karena keistiqomahan mereka khataman Quran setiap seminggu sekali.

Bukankah setiap orang yang khatam Quran punya "jatah" doa mustajab?

Babat, 06 April 2016
@mskholid
@ruanginstalasi

Istri Hobi Masak, Suami Hobi Makan Serial Pasangan Cocok [2]

Istri Hobi Masak, Suami Hobi Makan
Serial Pasangan Cocok [2]

Alhamdulillah, saya mendapat pasangan hidup yang benar-benar klop dan cocok. Sesuai dengan saya.
Istri saya, adalah seorang cheff terhebat di dapur rumah kami.
Ia suka bereksperiment aneka jenis makanan.
Bahkan, tiap hari bacaannya blog resep dan masakan.

Kerap kali, di pagi hari, ia akan bertanya;
"Minta dimasakin menu apa, sayang?"
"Apa saja," jawab saya sekenanya.
Ya, sebab semuanya pasti enak dan lezat.

Namun,
Ada satu kelemahan istri saya ini.
Walaupun gemar sekali memasak--enak & lezat,
Dia gak suka makan.
Dia bukan tipe orang yang lahap menyantap makanan.

Seringkali masakan yang sudah jadi, dibiarkannya di meja tanpa tersentuh. Baru ketika benar-benar lapar, akan dimakannya.

Nah,
Di sinilah letak kecocokan saya dengan istri.
Saya tipe orang yang lahap makan.
Tipe orang yang menikmati setiap makanan.

Terkadang saat mendapati makanan tidak enak, saya tidak lantas mencaci makanan itu. Yang saya lakukan hanyalah berusaha agar makanan itu segera habis. Niatnya, sekadar biar tidak mubadzir dan memenuhi hak tubuh terhadap makanan.

Bahkan,
Ibu dan saudara-saudara saya, kerap kali ikut tumbuh nafsu makannya gara-gara melihat saya yang amat lahap menyantap makanan. Padahal, menunya biasa saja.

Jadinya, mereka yang awalnya ogah makan, jadi terdorong pengen ikut makan.

Babat, 06 April 2016
@ruanginstalasi
@mskholid

Serial Pasangan yang Cocok [1]

Serial Pasangan yang Cocok [1]

اللهم ارزقني زوجة تناسبني
"Ya Allah, anugerahkan kepadaku istri yang sesuai denganku."

Serial tulisan ini terinspirasi dari salah seorang ustadz saya. Musyrif yang rela menempati kamar sempit bergabung satu asrama bersama para muridnya.

Sekitar 14 tahun lalu, ketika itu saya duduk di kelas akhir madrasah aliyah. 1 atau 2 bulan lagi lulus dari tingkat SMA ini.

Mungkin sebagai bekal kami sebelum lulus,
Salah seorang guru kami, mengajarkan doa tersebut.
Semenjak itu, seusai shalat saya tak pernah lupa menyelipkan doa ini dalam tengadah tangan.

Doa itu berbeda dengan doa istikharah anak zaman sekarang yang terkesan memaksa Allah.
Bagaimana tidak, lha coba simak saja doanya.

"Ya Allah, apabila ia jodohku, maka dekatkanlah denganku.
Apabila ia bukan jodohku, maka jadikanlah ia jodohku, Ya Allah...
Dan, jika dia baik bagiku, segerakanlah ia menjadi pasanganku.
Dan, jika dia tidak baik bagiku, jadikanlah ia baik bagiku."

Kesannya memaksa sekali.
Ketika sudah punya pandangan terhadap seseorang, seakan-akan harus dia yang jadi pasangan anda.
Padahal, belum tentu menurut Allah dia yang terbaik.

Pasangan yang cocok dan serasi itu saling melengkapi.
Saling meng-klop-kan.
Jadi, suami istri tidak mesti sama dalam suatu hal.
Bahkan bisa jadi, harus ada banyak perbedaan.
Karakter, misalnya.

Nah, guru saya itu mengajarkan doa rejeki pasangan yang cocok. Bukan pasangan dengan kriteria tertentu. Bukan doa dengan nama khusus; si A, si B, si C. Bukan pasangan yang cantik/tampan. Bukan pasangan yang kaya. Bukan pasangan pintar. dan lain sebagainya.
Tapi pasangan yang cocok.

Keluarga adalah laiknya sebuah perusahaan.
Ia punya visi, misi, dan tujuan tertentu.
Untuk mencapai tujuan2 tersebut, kita butuh orang-ornag yang benar-benar cocok dan klop bekerja sama.

Kalau pinjam bahasanya Pak SBY dulu (pas proses memilih menteri) yang chemistry-nya pas.

Nah, bila dalam team di perusahaan tidak ada kecocokan dan rasa saling membutuhkan antaranggota, bisakah tujuan-tujuan itu tercapai?

Babat, 06 April 2016
There was an error in this gadget

Shorih's books

M. Quraish Shihab menjawab... : 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui
5 of 5 stars true
Tanpa Bermaksud memudah-mudahkan-yang bisa berujung pada kecendrungan serba boleh jika di pahami dan di hayati dengan cara yang benar, sesungguhnya Islam memang satu upaya untuk mendapatkan pemahaman yang benar dalam mengamalkan Islam ad...
Rembulan Tenggelam Di Wajahmu
3 of 5 stars true
Saya membaca buku ini saat Tere Liye belum seterkenal sekarang. Karyanya juga belum sebanyak dan digandrungi sekarang. Saat itu, buku "Rembulan Tenggelam di Wajahmu" masih diterbitkan penerbit lain (bukan Republika) dengan cover warna hi...

goodreads.com