Thursday, June 23, 2016

Ngrasani Itu Manis Laksana Madu

Suatu ketika, Nabi Isa as bertemu setan.
Nampak di tangan kanan setan, tergenggam madu. Sementara di tangan kirinya, tergenggam abu.

Nabi Isa penasaran.
Beliau pun mencoba mengorek informasi.

"Hei setan, kenapa kamu menggenggam madu di tangan kanan dan abu di tangan kiri?"

Setan menjawab,
"Owh, Nabi Isa...
Madu ini untuk melaburi mulut orang yang suka ghibah (membicarakan kesalahan orang lain.)"

"Terus, kalau abu itu untuk apa?"

"Kalau abu, untuk melaburi wajah anak yatim. Supaya orang-orang tidak suka pada mereka."

~~~

Membicarakan kesalahan orang lain (atau sesuatu yang kita anggap salah dari orang lain), itu ennnnaaaak sekali. Manis seperti madu. Makanya, banyak orang yang merasa asyik dan kuat duduk lama-lama ketika melakukannya.

Dan, ternyata trend membicarakan "aib" (atau yang dianggap aib) orang lain juga merambah pada sebagian pemateri ceramah di masjid-masjid. Seakan-akan tak ada materi lain yang lebih bagus untuk dikaji dibandingkan soal "aib" itu.

Penceramahnya bahagia.
Jamaah yang menyimak juga nampak bahagia. Efeknya, timbullah ujub. Merasa lebih baik dari orang lain. Merasa ibadahnya lebih diterima dibanding orang lain. Pun memandang amaliah orang lain dengan pandangan meremehkan.
Naudzubillah min dzalik...

Kantor MA Tabah
23 Juni 2016
@mskholid
@ruanginstalasi

*cerita tentang setan dan Nabi Isa saya dengar dari ngaji Kitab Hikam bareng Kiai Jamal Jombang via rekaman mp3.

No comments:
Write komentar

Adv.

IKLAN Hubungi: 0896-2077-5166 (WA) 0852-1871-5073 (Telegram)