
Thursday, December 20, 2018

Untung, Zina Haram
• Untung, Zina Haram •
Sepatutnya kita bersyukur Agama mengharamkan zina. Coba bayangkan; andai zina diwajibkan.
Betapa susahnya hidup manusia.
Bukankah untuk bisa berzina, butuh dana yang tidak sedikit.
Untuk bisa berzina secara nyaman dan menyenangkan, pasti butuh bayar duit jutaan sekali berzina.
Kalau dananya minim, ya dapatnya minimalis pula.
Kalaupun ada yang mau gratisan, pastinya jauh dari angan-angan atau keinginan.
Kalaupun ada gratisan yang sedikit mendekati angan-angan, bisa jadi sambil meremehkan kita.
Alhmdulillah, zina haram.
Sudah begitu, yang meninggalkan zina, dapat pahala pula.
Betapa baiknya Tuhan pada manusia.
Sepatutnya kita bersyukur Agama mengharamkan zina. Coba bayangkan; andai zina diwajibkan.
Betapa susahnya hidup manusia.
Bukankah untuk bisa berzina, butuh dana yang tidak sedikit.
Untuk bisa berzina secara nyaman dan menyenangkan, pasti butuh bayar duit jutaan sekali berzina.
Kalau dananya minim, ya dapatnya minimalis pula.
Kalaupun ada yang mau gratisan, pastinya jauh dari angan-angan atau keinginan.
Kalaupun ada gratisan yang sedikit mendekati angan-angan, bisa jadi sambil meremehkan kita.
Alhmdulillah, zina haram.
Sudah begitu, yang meninggalkan zina, dapat pahala pula.
Betapa baiknya Tuhan pada manusia.
Tuesday, December 18, 2018

Imam yang Ngeden Bacaannya
• Imam yang Ngeden Bacaannya •
Suatu hari, dalam perjalanan ke Jogja (hari Jumat), saya bersama dua santri terpaksa Jumatan di jalan. Daerah Alas Roban.
Jumatan di sebuah masjid kecil.
Yang ikut jumatan, hanya 16 orang.
Khutbahnya gak karuan. Entah apa yang dibahas.
Saat shalat, bacaannya berat.
Susah sekali sepertinya bagi dia baca ayat-ayat.
Jangan tanya tajwidnya. Apalagi makharijul hurufnya.
Intinya, jaaaauh dari standard bacaan yang benar.
Dalam hati, saya bergumam; Ya Allah, betapa beratnya dia baca firman-Mu. Seperti orang sambil ngeden saat hendak melahirkan.
Usai jumatan, dua santri saya mengulang shalatnya dengan shalat Dzuhur. Memang secara fiqih, jumatan tersebut tidak sah.
Tapi, saya gak mengulang shalat.
Santri saya bertanya;
"Gus, kok mboten ngulangi shalat?"
"Iya, saya sengaja. Saya ingin menunjukkan pada Allah bahwa saya ikhlas diimami orang seperti itu. Saya ingin menyatakan kepada Allah bahwa meskipun secara standard fikih itu tidak benar, tapi yang namanya kebaikan dan sujud pada Allah pasti benar di sisi Allah.
Apapun bentuknya. Siapapun orangnya."
Karena itu,
Saya gak pernah pilih-pilih imam.
Saya persilakan siapapun jadi imam saya.
Orang jenggoten.
Celana cingkrang.
Sarungan.
Pakai jubah.
Pakai sorban.
Saya ikhlas dan bersedia jadi makmum mereka. Walaupun bacaannya salah, saya tidak pernah menyesal.
Memang, ada hadits :
"Yang jadi imam adalah yang paling kompeten dalam Alquran."
Tapi ingat, ada juga hadits:
"Shalatlah di belakang orang Yang mengucapkan la ilaaha illallah."
Juga ada riwayat:
"Shalatlah di belakang baarr (pelaku kebaikan) & fajir (pelaku keburukan)."
Saya ingin Allah menyaksikan; saya pernah mengamalkan semua hadits tersebut.
~ dari cerita Gus Baha'
Suatu hari, dalam perjalanan ke Jogja (hari Jumat), saya bersama dua santri terpaksa Jumatan di jalan. Daerah Alas Roban.
Jumatan di sebuah masjid kecil.
Yang ikut jumatan, hanya 16 orang.
Khutbahnya gak karuan. Entah apa yang dibahas.
Saat shalat, bacaannya berat.
Susah sekali sepertinya bagi dia baca ayat-ayat.
Jangan tanya tajwidnya. Apalagi makharijul hurufnya.
Intinya, jaaaauh dari standard bacaan yang benar.
Dalam hati, saya bergumam; Ya Allah, betapa beratnya dia baca firman-Mu. Seperti orang sambil ngeden saat hendak melahirkan.
Usai jumatan, dua santri saya mengulang shalatnya dengan shalat Dzuhur. Memang secara fiqih, jumatan tersebut tidak sah.
Tapi, saya gak mengulang shalat.
Santri saya bertanya;
"Gus, kok mboten ngulangi shalat?"
"Iya, saya sengaja. Saya ingin menunjukkan pada Allah bahwa saya ikhlas diimami orang seperti itu. Saya ingin menyatakan kepada Allah bahwa meskipun secara standard fikih itu tidak benar, tapi yang namanya kebaikan dan sujud pada Allah pasti benar di sisi Allah.
Apapun bentuknya. Siapapun orangnya."
Karena itu,
Saya gak pernah pilih-pilih imam.
Saya persilakan siapapun jadi imam saya.
Orang jenggoten.
Celana cingkrang.
Sarungan.
Pakai jubah.
Pakai sorban.
Saya ikhlas dan bersedia jadi makmum mereka. Walaupun bacaannya salah, saya tidak pernah menyesal.
Memang, ada hadits :
"Yang jadi imam adalah yang paling kompeten dalam Alquran."
Tapi ingat, ada juga hadits:
"Shalatlah di belakang orang Yang mengucapkan la ilaaha illallah."
Juga ada riwayat:
"Shalatlah di belakang baarr (pelaku kebaikan) & fajir (pelaku keburukan)."
Saya ingin Allah menyaksikan; saya pernah mengamalkan semua hadits tersebut.
~ dari cerita Gus Baha'
Wednesday, December 12, 2018

Daun "Penyembuh" Sakit Gigi
Suatu ketika Nabi Musa as sakit gigi. Tidak ke tabib atau dokter. Tapi, sebagai Kalimullah--beliau langsung periksanya ke Allah. Minta petunjuk obat atas sakit yang dideritanya.
Allah SWT memberikan petunjuk obatnya. Yaitu selembar daun yang terletak di sebuah tempat.
Nabi Musa mengambil daun tersebut dan mengunyahnya. Sakit yang disebut lebih menyakitkan dibanding sakit hati ini seketika sirna.
Nabi Musa bersyukur.
Lain waktu, gigi Nabi Musa as kembali sakit. Dengan amat percaya diri, Nabi Musa inisiatif mengunyah daun yang sama--seperti yang diberitahukan Allah beberapa waktu sebelumnya.
Tuesday, December 11, 2018

Siapa Calon DPD RI yang Paling Banyak Bannernya?
Saingannya 34 orang--dan daerah pemilihannya se-Jawa Timur. Tidak seperti caleg DPR Pusat yang hanya dua kabupaten.
Ini se-Jawa Timur.
Saking luasnya jangkauan, tak banyak masyarakat tingkat akar yang mengenal calon DPD-nya.
Pun tak tahu harus memilih siapa.
Pertama soal banner--alat peraga kampanye yang paling diandalkan calon.
Sepanjang 'jalan-jalan' saya di wilayah jalan besar Lamongan-Gresik, ada dua nama yang bannernya paling banyak menghiasi pinggir jalan.
Yang pertama (dan yang paling banyak) ialah:
Bapak La Nyalla Mattaliti
Mantan Ketum PSSI yang sempat nyalon jadi bakal calon Gubernur Jawa Timur tahun ini.
Waktu itu, sempat bikin geger politik nasional saat gagal maju jadi calon gubernur dan berasalan kurangnya uang mahar.
Sempat jadi kawan akrab Prabowo, kini mendekat-dekat ke kubu Jokowi.
Banner Bapak ini paling banyak menghiasi jalan-jalan raya Lamongan - Gresik.
Sepertinya, beliau memang sudah nekat jadi anggota DPD saja. Daripada nyalon gubernur gak keturutan.
Saya coba cek data beliau di portal infopemilu.
Ternyata, beliau adalah nama yang paling banyak mendapatkan surat dukungan sebagai syarat maju menjadi anggota DPD RI Jawa Timur.
Jumlah dukungannya: 19.720
Fantastis.
Jauh mengungguli calon-calon lain yang rata-rata berkisar 5.000 - 6000 dukungan.
Hebatnya lagi,
Dukungan itu tersebar di 38 Kabupaten/Kota di Jawa Timur.
Artinya, tersebar di seluruh Kabupaten/Kota Jawa Timur.
(lihat screenshoot)
Calon DPD RI kedua terbanyak Bannernya ialah:
Bapak Shonhaji Zainuddin, SE, MM.
Saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Lamongan 2014-2019
Sudah 2 periode ini beiau jadi anggota legislatif dari PAN.
Entah apa yang mendasari pria asal Pringgoboyo Maduran ini memutuskan maju sebagai calon DPD RI.
Kalaupun legislatif tingkat kabupaten terlalu rendah, biasanya orang itu kalau mau naik kelas, ya standarnya di DPRD tingkat Provinsi.
Babat, 11 Desember 2018
@mskholid

Kaos Caleg Gus Sahul - Pondok Kranji
• Kaos Caleg •
Ini Kaos pesanan salah satu
Caleg DPRD LAMONGAN
Dari Dapil 4
(Paciran, Brondong, Laren, Solokuro)
Nama lengkap beliau;
H.M. SAHLUL KHULUQ, M.Hi.
Gus Sahul, kami biasa memanggil beliau.
Putra Almaghfurlah KH Moh. Baqir Adelan - PP Tabah Kranji.
Beliau ikhtiar berjuang untuk kebaikan lewat jalur politik mewakili keluarga ndalem. Partainya nomor urut 10 - PPP (Partai Persatuan Pembangunan) Yang berlambang ka'bah.
Dengan nomor urutnya #4.
Jadi...
Dapil 4
Nomor urut 4
Pilihan tepat. 😂
----
Ini bukan kampanye caleg
Tapi, kampanye orderan #KaosCaleg 😂😂😂
Friday, December 7, 2018

PIL
• PIL •
Seminggu ini tenggorokan saya sakit. Radang tenggorokan. Flu, pilek, dan batuk pun ikut menyerang. Saya banyak memakai masker dalam aktivitas sehari-hari. Termasuk saat tidur di kamar.
Seperti kasus-kasus batuk & pilek yang beberapa kali pernah saya alami sebelumnya, saya selalu sembuh saat berobat di Klinik Islam - Babat milik dr. W.
Sebelumnya,
Saya pernah sekitar sebulan batuk gak selesai-selesai, padahal sudah mencoba berobat ke 3 dokter dan mantri di sekitar Pucuk--tempat tinggal saya. Semuanya gak ada yang cocok. Baru ketika ada yang menyarankan ke dr. W Babat, ternyata 2 hari minum pil langsung cocok dan sembuh.
Saya pernah sekitar sebulan batuk gak selesai-selesai, padahal sudah mencoba berobat ke 3 dokter dan mantri di sekitar Pucuk--tempat tinggal saya. Semuanya gak ada yang cocok. Baru ketika ada yang menyarankan ke dr. W Babat, ternyata 2 hari minum pil langsung cocok dan sembuh.
Dalam rangka mencari obat, minggu kemarin saya dengan penuh keyakinan berangkat ke Babat. Sendirian. Malam itu, ternyata yang bertugas ialah dr. W sendiri. Bukan dokter penggantinya. Saya sih cocok kedua-duanya. Pengalaman sebelumnya, selalu sembuh siapa pun yang menangani.
Saya makin manteb saja.
Lha wong yang memeriksa dan memberi resep masternya sendiri.
Pulang penuh keyakinan. Dengan obat tersebut, akan sembuh dalam waktu dekat. Saya memang paling rajin urusan minum obat
Lha wong yang memeriksa dan memberi resep masternya sendiri.
Pulang penuh keyakinan. Dengan obat tersebut, akan sembuh dalam waktu dekat. Saya memang paling rajin urusan minum obat
Namun, takdir berkata lain.
Saat obat terakhir resep tersebut saya minum, batuk, flu, dan pilek saya belum mereda. Hanya sedikit berkurang.
Saat obat terakhir resep tersebut saya minum, batuk, flu, dan pilek saya belum mereda. Hanya sedikit berkurang.
Saya periksa lagi ke klinik yang sama.
Kali ini yang menangani, dokter pengganti dr. W.
Saya bilang saja riwayat pengobatan dalam beberapa terakhir.
"Wah, bakterinya makin tinggi itu Mas. Urusan pilek dan flu begini, jenis bakteri ini yang paling tinggi," kata Pak Dokter.
Kali ini yang menangani, dokter pengganti dr. W.
Saya bilang saja riwayat pengobatan dalam beberapa terakhir.
"Wah, bakterinya makin tinggi itu Mas. Urusan pilek dan flu begini, jenis bakteri ini yang paling tinggi," kata Pak Dokter.
"Oh, ya...?" ujar saya.
"Saya kasih obat yang agak bagusan ya?" tawar beliau.
"Iya, dok!" kata saya. Wong pengen ndang waras.
"Saya kasih obat yang agak bagusan ya?" tawar beliau.
"Iya, dok!" kata saya. Wong pengen ndang waras.
Saya bergegas pulang dan mengonsumsi obat dari dokter dengan rutin.
Ini adalah pil terakhir dari paket tersebut.
Dan Alhamdulillah, berakhir pula penyakit saya.
Ini adalah pil terakhir dari paket tersebut.
Dan Alhamdulillah, berakhir pula penyakit saya.
Lewat kejadian ini seakan ditegur Allah bahwa yang bikin sembuh itu bukan dokter. Bukan PIL. Tapi Allah SWT.
Walaupun racikan obatnya sudah tepat dan sesuai, tetap saja yang menjadi penguasa hanyalah Allah.
Walaupun racikan obatnya sudah tepat dan sesuai, tetap saja yang menjadi penguasa hanyalah Allah.
Wednesday, December 5, 2018

Sukses Jihad, Selesaikan Sendiri Urusan Pribadi
SUKSES JIHAD
Selesaikan Sendiri Urusan Pribadi Masing-masing
Selesaikan Sendiri Urusan Pribadi Masing-masing
---------
Apa anggaran paling banyak menyerap biaya dalam setiap kegiatan?
Hampir selalu urusan konsumsi dan akomodasi
Hampir selalu urusan konsumsi dan akomodasi
Coba saja hitung,
Misalnya untuk kegiatan REUNI Alumni 212 Monas 2018 kemarin
Peserta 8 JUTA Orang
Misalnya untuk kegiatan REUNI Alumni 212 Monas 2018 kemarin
Peserta 8 JUTA Orang
Andai anggaran konsumsi makan sekali per orang Rp.10.000,-
Maka, 8.000.000 bungkus x Rp.10.000 = 80 MILIAR
Butuh 80 miliar hanya untuk konsumsi saja
Maka, 8.000.000 bungkus x Rp.10.000 = 80 MILIAR
Butuh 80 miliar hanya untuk konsumsi saja
Lalu, jika ada tambahan biaya akomodasi/transportasi 10 ribu tiap peserta, maka anggarannya juga 80 miliar.
Butuh 80 miliar lagi.
Total sementara 160 Miliar; untuk dua pos anggaran (konsumsi dan akomodasi).
Butuh 80 miliar lagi.
Total sementara 160 Miliar; untuk dua pos anggaran (konsumsi dan akomodasi).
Untungnya, peserta Reuni Alumni 212 Monas tidak disediakan konsumsi dan atau dibayar. Semua bergerak atas kehendak pribadi dan menyelesaikan urusannya sendiri-sendiri.
Bahkan, banyak yang sambil membawa bekal berlebih--untuk persiapan berbagi dengan peserta lainnya.
Bahkan, banyak yang sambil membawa bekal berlebih--untuk persiapan berbagi dengan peserta lainnya.
Atau misalnya,
Kegiatan Istighotsah Akbar PWNU Jatim di Gelora Delta Sidoarjo, Oktober lalu
Kita anggap peserta 50 ribu orang saja (saya belum ngerti jumlah pasti peserta. Tapi, untuk kapasitas tribun Gelora Delta sebanyak 35.000 peserta)
Kegiatan Istighotsah Akbar PWNU Jatim di Gelora Delta Sidoarjo, Oktober lalu
Kita anggap peserta 50 ribu orang saja (saya belum ngerti jumlah pasti peserta. Tapi, untuk kapasitas tribun Gelora Delta sebanyak 35.000 peserta)
Jika anggaran konsumsi dan transportasi 20.000,
Maka 50.000 x 20.000 = 1.000.000.000 (1 miliar)
Sudah luar biasa kebutuhannya
1 miliar hanya untuk beresin urusan perut masing-masing
Belum urusan-urusan lainnya yang lebih esensial
Maka 50.000 x 20.000 = 1.000.000.000 (1 miliar)
Sudah luar biasa kebutuhannya
1 miliar hanya untuk beresin urusan perut masing-masing
Belum urusan-urusan lainnya yang lebih esensial
Atau kegiatan lain.
Misalnya pengajian, tabligh akbar, dkk. hampir semuanya menyerap anggaran paling banyak lewat pos konsumsi.
Misalnya pengajian, tabligh akbar, dkk. hampir semuanya menyerap anggaran paling banyak lewat pos konsumsi.
Maka,
Sejak dulu, para sahabat ketika berjihad, mereka sudah menyelesaikan sendiri urusan pribadi masing-masing (kebutuhan makan dan minum).
Meskipun misalnya, komando pusat menyediakan, mereka tidak terlalu jagakno dari sana.
Sehingga kebutuhan-kebutuhan paling penting saat jihad, bisa terpenuhi.
Sejak dulu, para sahabat ketika berjihad, mereka sudah menyelesaikan sendiri urusan pribadi masing-masing (kebutuhan makan dan minum).
Meskipun misalnya, komando pusat menyediakan, mereka tidak terlalu jagakno dari sana.
Sehingga kebutuhan-kebutuhan paling penting saat jihad, bisa terpenuhi.
Kisah berat terjadi saat para sahabat harus berperang, padahal kondisi masyarakat paceklik. Banyak yang gagal panen. Sementara harus tetap berperang. Para sahabat yang berkecukupan lantas berlomba menafkahkan hartanya
Dana/donasi tersebut memang ada.
Tapi, digunakan untuk perlengkapan perang yang harus ada
Mulai kuda, unta, atau persenjataan
Bukan untuk memenuhi kebutuhan makanan pasukan
Tidak ada cerita misalnya, beberapa ekor kuda/unta disembelih tiap hari untuk kebutuhan makan para mujahid
Tapi, digunakan untuk perlengkapan perang yang harus ada
Mulai kuda, unta, atau persenjataan
Bukan untuk memenuhi kebutuhan makanan pasukan
Tidak ada cerita misalnya, beberapa ekor kuda/unta disembelih tiap hari untuk kebutuhan makan para mujahid
Para sahabat peserta perang, membawa bekal sendiri-sendiri
Bahkan ada yang hanya membawa 3 butir kurma
Ketika lapar, kurma tidak digigit atau ditelan
Tapi, cukup di-emut, sampai hilang rasa lapar dan tenaga pulih
Begitu setiap hari hingga kurmanya tidak pernah habis
Bahkan ada yang hanya membawa 3 butir kurma
Ketika lapar, kurma tidak digigit atau ditelan
Tapi, cukup di-emut, sampai hilang rasa lapar dan tenaga pulih
Begitu setiap hari hingga kurmanya tidak pernah habis
Yang kedua,
Jika urusan perut masing-masing ini jagakno panitia, maka akan rawan kecewa. Rawan tidak sesuai selera.
Sehingga kerap menjadi bahan caci maki--minimal gerutuan.
Padahal, pos anggarannya sudah teramat besar.
Jika urusan perut masing-masing ini jagakno panitia, maka akan rawan kecewa. Rawan tidak sesuai selera.
Sehingga kerap menjadi bahan caci maki--minimal gerutuan.
Padahal, pos anggarannya sudah teramat besar.
Babat, 5 Desember 2018
@mskholid
@mskholid
~ Inspirasi dari ngaji Gus Baha' - Narukan
Subscribe to:
Comments (Atom)
Adv.
IKLAN
Hubungi: 0896-2077-5166 (WA) 0852-1871-5073 (Telegram)


