Monday, January 14, 2008

Malam Minggu Kemana?

Hari sabtu.
Nanti malam, berarti malam minggu. Tidak seperti yang lain menikmati malam mingguan—dengan seseorang mungkin—, malam itu bagi saya berjalan biasa seperti malam-malam lainnya. Yang berbeda hanyalah besok tidak ada jam masuk kerja. Itu artinya, saya tidak perlu tidur lebih awal agar energi tersimpan. Saya juga dapat memenuhi kegemaran nonton bola hingga dini hari.

Merasa jenuh dengan aktifitas sehari-hari, saya mencoba nyari kegiatan untuk malam ini. Kebetulan, kemarin ada tugas untuk belanja beberapa buku referensi untuk penerbit tempat saya bekerja. Setelah shalat Asar, saya meluncur ke arah Gramedia Pondok Indah.

Sedikit cerita, kegiatan ke toko buku—seringnya Gunung Agung di kawasan Kwitang Senen—sudah menjadi kebiasaan rutin saya sejak belajar di LIPIA. Biasanya saya berangkat Sabtu pagi—kebetulan Sabtu dan Ahad jadwal kuliah libur—dan pulang malam harinya. Di dalam toko, saya hanya baca-baca dan memperhatikan perkembangan buku. Termasuk juga buku-buku best seller. Namun, sejak pindah ke Ciputat dan ikut kerja freelance di sebuah tim terjemah—Arab-Indonesia—kebiasaan itu jadi jarang saya lakukan.

Bagi saya, menyentuh lembaran-lembaran buku dan memilah jejeran pakaian merupakan sarana paling efektif memusnahkan kejenuhan. Makanya, saya termasuk paling tahan kalau diajak lama-lama di toko buku atau toko pakaian—Ramayana, Cahaya atau yang lainnya—asalkan tidak ada kegiatan lain yang mesti dirampungkan. Untuk pakaian, selain menyesuaikan model, bahan dan warna, hal utama yang sering jadi pertimbangan adalah harga. Tau sendiri kan kenapa? Untuk buku, biasanya saya melihatnya di toko buku besar, tapi membelinya di toko emperan di kawasan Kwitang Senen. Maklum, buku di toko itu—banyak orang menyebutnya toko Buyung, entah itu nama pemiliknya atau nama siapa karena papan depan toko tertulis toko Bersaudara—semuanya didiskon 30% pas, tanpa tawar-menawar. Sayangnya, tidak semua buku dijual di sana. Yang dijual hanyalah buku-buku agama. Itu pun tidak semua buku—dari penerbit-penerbit besar, khususnya—ditemukan di sana. Walaupun harga lebih murah, bukunya sama asli kok..!

Tulisannya kok jadi melebar ya? Baiklah saya sudahi saja untuk tulisan judul ini, jika terlalu banyak ntar bosen bacanya. Mengenai pengalaman di Gramedia pondok Indah, biar nanti saya teruskan di judul lainnya.

No comments:

There was an error in this gadget

Shorih's books

M. Quraish Shihab menjawab... : 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui
5 of 5 stars true
Tanpa Bermaksud memudah-mudahkan-yang bisa berujung pada kecendrungan serba boleh jika di pahami dan di hayati dengan cara yang benar, sesungguhnya Islam memang satu upaya untuk mendapatkan pemahaman yang benar dalam mengamalkan Islam ad...
Rembulan Tenggelam Di Wajahmu
3 of 5 stars true
Saya membaca buku ini saat Tere Liye belum seterkenal sekarang. Karyanya juga belum sebanyak dan digandrungi sekarang. Saat itu, buku "Rembulan Tenggelam di Wajahmu" masih diterbitkan penerbit lain (bukan Republika) dengan cover warna hi...

goodreads.com