Sunday, March 23, 2008

Kenangan Islamic Book Fair

“Boleh Mas, Majalah Gontor-nya. Sepuluh ribu tiga. Boleh Mas, masuk. Lihat-lihat dulu, baca-baca dulu…”

Inilah kalimat yang SELALU dan takpernah henti dikatakan sang pramuniaga stan Majalah Gontor pada waktu Islamic Book Fair 1—9 Maret 2008 yang lalu. Dari pagi hingga malam—ketika pameran ditutup—selalu terlontar. Kami (saya dan beberapa teman Cicero Publishing) tiada henti memperhatikannya. Kebetulan stan kami berhadapan.

Dan, yang mengherankan: dia mengatakan itu kepada setiap pengunjung yang melintas di depan stan Majalah Gontor dengan semangat yang tidak berbeda antara pada pagi, siang, hingga malam hari. Sama keras dan bersemangatnya. Dia tetap mengumbar senyum dengan nada suara lembut.

Saya sempat komentar padanya:
“Kalau di IBF ini ada penganugrahan pramuniaga terbaik, pasti Mas yang jadi juaranya.” Bahkan sebelum berpisah (karena pameran IBF telah selesai), Mbak Eka, penanggung jawab stan Cicero sempat komentar: “Pameran yang akan datang, akan kita sewa dia…”

Dtulis di Lab. MA Kranji, 23 Maret 2008

No comments:

There was an error in this gadget

Shorih's books

M. Quraish Shihab menjawab... : 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui
5 of 5 stars true
Tanpa Bermaksud memudah-mudahkan-yang bisa berujung pada kecendrungan serba boleh jika di pahami dan di hayati dengan cara yang benar, sesungguhnya Islam memang satu upaya untuk mendapatkan pemahaman yang benar dalam mengamalkan Islam ad...
Rembulan Tenggelam Di Wajahmu
3 of 5 stars true
Saya membaca buku ini saat Tere Liye belum seterkenal sekarang. Karyanya juga belum sebanyak dan digandrungi sekarang. Saat itu, buku "Rembulan Tenggelam di Wajahmu" masih diterbitkan penerbit lain (bukan Republika) dengan cover warna hi...

goodreads.com