Tuesday, March 18, 2008

Dia Tidak Gila

Dia tidak gila. Dia hanya membutuhkan lingkungan yang lebih baik. Lingkungan yang memanusiakan dirinya dan menganggapnya ada.
Selama ini, lingkungannya, di desa, di tempat ‘rehabilitasinya’, atau bahkan di pondok tempat dia dulu menuntut ilmu dan membesarkan dirinya ikut memperlakukan dia seperti orang gila.
Setelah mengembara ke beberapa kota—ngakunya dengan berjalan kaki, dia sampai di Jakarta. Mungkin kenangan manis di Jakarta sebelum berangkat ke Mesir, membuatnya rindu kembali ke sini. Dengan anak-anak base camp yang baik dan bersikap manis. Pertama kali datang, dia sempat membuat beberapa orang (warga wasiat khususnya) tidak nyaman dengan keberadaannya.
Suatu malam, dia memergoki aku. Dari belakang dia menepuk pundakku. Aku kaget! Ketemu dia di jalan. Selama beberapa hari aku mencari-carinya. Tidak pernah ketemu karena keberadaannya tidak jelas. Pindah dari Kak Millah ke Paramuda (Cak Ud), main ke Pondok Petir. Bahkan katanya sempat ikut ngajar di sana. Namun, itu malah membuat situasi di sana tidak nyaman.
Setelah makan malam, aku ajak dia ke kosanku. Kusuruh dia tinggal bersamaku (sebelumnya aku tinggal di kos sendiri). Di kosan yang berukuran 2.5 x 3 m ini saya sabar mendengarkan ‘petuah-petuahnya’.  saya beri dia ‘pekerjaan’ yang menurut saya itu sangat dibutuhkan. Kenyataan itu akan mengalirkan perasaan bahwa dia ada dan dianggap ada oleh orang lain.
Kebetulan (sesungguhnya bukan kebetulan—meminjam istilahnya Pak Bambang Trim dalam buku Magnet Muhammad) saya sedang dapat proyek terjemah. Aku minta dia bantu menerjemah. Lumayan, walaupun hasilnya masih memerlukan beberapa perbaikan. Dia sangat senang. Begitu percaya diri atas ‘pekerjaan’ barunya. Ternyata masih ada orang yang memercayai dirinya. “Ini dia jati diriku mulai tampak!” teriaknya semangat.
Pekerjaan dan kesibukan tersebut membuatnya tidak ‘terkurung’ di kamar. Dia keluar ketika tiba waktu berjamaah. Ini bagus. Sebelumnya dia banyak keluyuran ke tempat-tempat yang ga terdeteksi. Tentu saja itu mengkhawatirkan karena jiwanya masih labil.
Teman-teman di base camp, keluarga Kak Millah (ada beberapa di antara mereka yang ketakutan dengannya—entah atas dasar apa), keluarga di Cak Ud, atau yang lainnya mungkin akan merasa lebih nyaman dengan situasi seperti ini. Tidak ada lagi celotehan mengganggu darinya.
Percayalah! Dia masih normal. Sehat. Ingatannya pun masih kuat. Bahkan masih secerdas dulu.

Ditulis di el-Ghayo Building, Ciputat

No comments:

There was an error in this gadget

Shorih's books

M. Quraish Shihab menjawab... : 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui
5 of 5 stars true
Tanpa Bermaksud memudah-mudahkan-yang bisa berujung pada kecendrungan serba boleh jika di pahami dan di hayati dengan cara yang benar, sesungguhnya Islam memang satu upaya untuk mendapatkan pemahaman yang benar dalam mengamalkan Islam ad...
Rembulan Tenggelam Di Wajahmu
3 of 5 stars true
Saya membaca buku ini saat Tere Liye belum seterkenal sekarang. Karyanya juga belum sebanyak dan digandrungi sekarang. Saat itu, buku "Rembulan Tenggelam di Wajahmu" masih diterbitkan penerbit lain (bukan Republika) dengan cover warna hi...

goodreads.com