Wednesday, May 21, 2008

50 Tahun Bapak: Rumah; “Kawah Candradimuka” Saya (2)

Tulisan ini ditulis dalam rangka ULANG TAHUN Bapak yang ke-50. Banyak hal yang menjadi kenangan saya dengan Bapak. Semoga tulisan ini menjadi saksi betapa cinta saya kepada Bapak begitu besar. Tulisan ini akan saya buat berseri.

Masa kecil saya, lebih banyak saya habiskan di rumah. Bapak menjadikan rumah ini sebagai tempat menggodok saya sebelum melepas di kemudian hari. Saya dilarang bermain jauh keluar desa, dilarang bermain sampai malam, dan dilarang bermain dengan anak-anak yang ‘nakal’.

Saya kerap kali iri melihat teman-teman yang begitu bebas bisa ke sana kemari (meski pulangnya juga dimarahi orangtuanya, hehehe). Sekolah pun saya tidak pernah jauh. Sejak kecil, lepas dari TK di desa saya dan sempat mencicipi kelas 1 MI, Bapak memasukkan saya ke sebuah sekolah yang terletak di desa tetangga. Di sekolah itulah, Bapak mengajar. Sekolah itu lebih besar, lebih banyak muridnya, dan tentu saja lebih baik secara kualitas daripada sekolah di desa saya.

Saya menghabiskan sekolah saya di tempat itu hingga lulus MAK. Saat lulus MTs, sekali lagi, saya iri melihat teman-teman saya yang meneruskan sekolah tingkat SMU-nya di sekolah-sekolah ‘besar’ di beberapa kota di Jawa Timur. Ada yang di Surabaya, Kediri, Jombang, Gresik, dan lain-lain. Tapi, Bapak tetap bertahan dengan tidak ikut-ikutan menyekolahkan saya keluar.

Walaupun begitu, Bapak pernah menyuruh saya untuk mencoba mendaftar di SMAN 1 Gresik. Sekolah ini merupakan sekolah favorit di kota Gresik. Sayang sekali, NEM saya tidak mampu menembus karena banyak pendaftar yang memiliki NEM lebih tinggi. Namun, saya sekarang bersyukur dulu tidak masuk ke sekolah tersebut. Mungkin cerita hidup saya akan berubah jika saya diterima di sekolah tersebut. Tapi, saya justru sangat bersyukur tidak diterima di sekolah itu. Saya malah berpikir apa jadinya saya sekarang? Padahal waktu itu saya masih belum siap dengan pergaulan ‘bebas’ di sana.

Nah, selepas lulus MAK itulah, Bapak saya mulai ‘melepas’ saya. Saya justru paling kuliah jauh. Ke Jakarta. Sedangkan teman-teman saya yang dulunya sekolah di kota-kota lain (di Jawa Timur), meneruskan kuliahnya juga di kota-kota di Jawa Timur. Di Jakarta inilah, saya baru mengakui bagaimana manfaat didikan Bapak. Saya akui saya benar-benar sudah siap menghadapi tantangan di Jakarta yang--kata banyak orang--tantangannya jauh lebih besar daripada di kota-kota lainnya.

“Kawah Candradimuka” yang dibangun Bapak di rumah, alhamdulillah sejauh ini berhasil!!

No comments:

There was an error in this gadget

Shorih's books

M. Quraish Shihab menjawab... : 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui
5 of 5 stars true
Tanpa Bermaksud memudah-mudahkan-yang bisa berujung pada kecendrungan serba boleh jika di pahami dan di hayati dengan cara yang benar, sesungguhnya Islam memang satu upaya untuk mendapatkan pemahaman yang benar dalam mengamalkan Islam ad...
Rembulan Tenggelam Di Wajahmu
3 of 5 stars true
Saya membaca buku ini saat Tere Liye belum seterkenal sekarang. Karyanya juga belum sebanyak dan digandrungi sekarang. Saat itu, buku "Rembulan Tenggelam di Wajahmu" masih diterbitkan penerbit lain (bukan Republika) dengan cover warna hi...

goodreads.com