Tuesday, January 13, 2009

Mimpiku di Palestina

Dua hari terakhir ini aku bermimpi di Palestina.

Mimpi pertama, aku ikut berperang melawan tentara Israel dengan menggunakan senjata tradisional. Aku menyebut senjata itu tulup. Senjata yang berupa batang bambu yang dipotong kedua sisi ruasnya, sehingga terbuka kedua sisinya. Lalu, dibuatlah potongan dari kayu seperti anak panah sebagai 'peluru'. Di bagian ujungnya dibuat lancip dan diberi racun. Peluru itu kemudian dimasukkan ke dalam potongan bambu, lalu ditiup dengan diarahkan musuh—tentara Irael.

Dalam mimpi itu, anak-anak Palestina itu justru mengajariku membuat senjata tulup itu. Padahal, di alam nyata, aku tak yakin senjata itu ada di sana. Sayangnya, belum sempat kami berburu tentara Israel yang menyerang Ghaza, aku keburu terbangun.

Mimpi kedua, aku bersenjata lebih canggih. Sebuah pistol. Sayangnya, pistol yang sudah sangat tua dan berkarat itu susah sekali digunakan. Sekali waktu aku berhasil menembakkan pelurunya, sayangnya tentara Israel terlalu jauh jaraknya. Peluru pistol itu tidak menjangkaunya. Mereka juga berada di atas sebuah (bangunan) benteng yang tinggi. Aku tidak berhasil membunuhnya.

Para teroris itu, posisinya strategis (tempat yang tinggi) dan bersenjata sangat canggih. Kulihat samar-samar dalam kegelapan, senjata mereka dilengkapi sinar berwarna biru untuk membidik sasaran. Mereka berhasil menembak atasanku dalam kesatuan itu. Kulihat ia mengerang kesakitan di belakangku sambil memegangi lukanya.
Setelah berkali-kali mencoba mengulangi tembakan menggunakan pistol dan tak berhasil, aku mengadukan masalahku pada atasan yang terluka itu. Dia langsung mempersilakanku untuk menggunakan senjatanya. Aku mengagumi senjatanya. Meski tak secanggih senjata tentara Israel, kukira. Namun, kulihat senjata itu disertai pula dengan sinar berwarna merah untuk membidik sasaran—persis milik tentara Israel.

Dengan keyakinan tinggi—sebelumnya aku tidak pernah memegang senjata dan tidak bisa mengoperasikannya—aku mencoba senjata itu. Senjata yang selama ini hanya ada dalam alam bayanganku dan menjadi objek lamunan bahwa aku adalah seorang penembak ulung. Ya, aku adalah seorang sniper andal. Hal itu benar-benar tertanam dalam diriku. Bahkan, dalam alam nyataku.

Dan, ternyata keyakinan itu nyata dalam mimpiku. Tiga tembakanku berhasil membunuh tiga tentara Israel yang posisinya di atas bangunan tinggi. Sementara aku hanya berlindung di balik tumpukan jerami. Tiga orang tentara Israel tewas dan tiga kali pula aku terkena tembakan mereka meskipun hanya menggores bagian punggungku. Percaya tidak, aku sama sekali tidak merasakan sakitnya. Aku mencoba meraba punggungku; tidak ada darah yang menetes. Sama sekali tidak.

Aku makin bersemangat berburu mangsa. Tiga orang tentara di atas sudah tewas. Berganti dengan tentara lainnya. Aku mencoba mengarahkan sinar merah ke salah satu dari mereka. Sayangnya, lagi-lagi aku keburu bangun. [KHO]

No comments:

There was an error in this gadget

Shorih's books

M. Quraish Shihab menjawab... : 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui
5 of 5 stars true
Tanpa Bermaksud memudah-mudahkan-yang bisa berujung pada kecendrungan serba boleh jika di pahami dan di hayati dengan cara yang benar, sesungguhnya Islam memang satu upaya untuk mendapatkan pemahaman yang benar dalam mengamalkan Islam ad...
Rembulan Tenggelam Di Wajahmu
3 of 5 stars true
Saya membaca buku ini saat Tere Liye belum seterkenal sekarang. Karyanya juga belum sebanyak dan digandrungi sekarang. Saat itu, buku "Rembulan Tenggelam di Wajahmu" masih diterbitkan penerbit lain (bukan Republika) dengan cover warna hi...

goodreads.com