Tuesday, September 3, 2013

Antusiasme Lomba Agustusan

Barusan istri saya "laporan", di rumah dia mengadakan lomba-lomba khas Agustusan. Khusus untuk santri-santri TPQ yang kami rintis sekitar dua minggu yang lalu. Hari ini lomba kepruk kendil. Kemarin, katanya, lari kelerang. Besok masih ada jadwal lomba-lomba yang lain lagi. Mereka tampak senang dan menikmati momen-momen istimewa tersebut.

Ini mengingatkan saat saya masih tinggal di kampung. Saya—bersama adik-adik—suka mengadakan lomba-lomba Agustusan sendiri. Pesertanya, anak-anak tetagga. Ada lomba makan kerupuk, kepruk kendil, lari dan kelereng. Hadiahnya sederhana saja. Cukup dengan permen dan makanan ringan yang kami beli di warung sebelah rumah. Anak-anak tetangga selalu berkumpul ramai di halaman belakang rumah kakek.



Istri saya juga cerita, anak-anak sekarang antusias sekali datang ke TPQ. Tidak seperti hari-hari awal. Diajak ngaji pada ogah-ogahan. Saat ini, jam masuk TPQ adalah saat-saat yang paling mereka nantikan. Ada banyak kegiatan yang kami siapkan untuk mereka. Semuanya untuk bersenang-senang.

Ya, sejak awal, saya berniat menjadikan TPQ ini sarana “bermain” anak-anak. Kepada salah satu wali santri, saya katakan, mungkin tidak fokus memperbaiki bacaan Al-Quran anak-anak terlebih dulu. Kami akan berusaha menjadikan anak-anak senang dulu berangkat ke TPQ. Berusaha membuat mereka merasakan bahwa belajar (berangkat sekolah) adalah sesuatu yang istimewa—yang tidak boleh dilewatkan begitu saja.

Selama di Bekasi, saya merenungkan berbagai kegiatan yang hendak lakukan bareng anak-anak. Saya belajar cara mendongeng, merencanakan mengajar mereka membuat aneka mainan tradisional dengan bahan murah (“sampah”) di sekitar kita. Bersyukur sekali, saya mengalami masa kecil tidak dengan mainan hasil beli di toko. Tapi mainan karya tangan sendiri.


No comments:

There was an error in this gadget

Shorih's books

M. Quraish Shihab menjawab... : 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui
5 of 5 stars true
Tanpa Bermaksud memudah-mudahkan-yang bisa berujung pada kecendrungan serba boleh jika di pahami dan di hayati dengan cara yang benar, sesungguhnya Islam memang satu upaya untuk mendapatkan pemahaman yang benar dalam mengamalkan Islam ad...
Rembulan Tenggelam Di Wajahmu
3 of 5 stars true
Saya membaca buku ini saat Tere Liye belum seterkenal sekarang. Karyanya juga belum sebanyak dan digandrungi sekarang. Saat itu, buku "Rembulan Tenggelam di Wajahmu" masih diterbitkan penerbit lain (bukan Republika) dengan cover warna hi...

goodreads.com