Wednesday, November 18, 2015

Dia Bilang, Maulid itu Sama Haramnya dengan Masjid Dhirar

Sebentar lagi, bulan Rabiul Awal tiba. Artinya, perdebatan soal peringatan maulid Nabi akan kembali marak di dunia medsos.

Tragisnya, yang berdebat dan menyatakan pendapat itu kebanyakan bukan orang-orang berilmu agama mumpuni. Bukan orang yang menghabiskan waktunya bertahun-tahun menimba ilmu agama.

Sekadar baca 5 - 10 menit hasil browsing internet, sudah berani menyatakan kafir, bidah, syirik, dan lain sebagainya. (Baca catatan saya: Kalau Anda Malas Belajar Agama, Jangan Bicara atas Nama Agama).

Konsekwensi dari menyebut sebuah perbuatan itu sunnah, sama beratnya dengan menyebut suatu perbuatan itu bidah atau syirik.
Jangan sampai karena keterbatasan ilmu, kita jadi terjerumus ke dalam golongan yang mengharamkan perkara yg dihalalkan Allah, dan sebaliknya, menghalalkan perkara yang diharamkan Allah.

Perbedaan itu sebuah hal yang wajar dalam memahami teks agama.
Karena masing2 kita memang berbeda kualitas dan kecenderungan.
~ beda pikniknya
~ beda kitab rujukannya
~ beda tempat mondoknya
~ beda latar belakang keluarganya
~ beda gurunya
~ beda madzhabnya
~ beda kecenderungannya

Tak ada masalah, soal perbedaan itu.
Tapi, perbedaan itu menjadi masalah ketika atas nama kebenaran (yang diyakini sendiri) Anda lalu menyebut orang lain kafir, orang lain syirik, orang lain bidah, orang lain tidak Islam.

Bahkan menyebut orang lain dungu, sesat....
Terlebih, seperti dalam buku yg saya capture ini disebut:
"Haramnya peringatan maulid Nabi itu sama saja dengan Haramnya Masjid Dhirar."

Astaghfirullah...

Drajat, 18 Nopember 2015

#gegerkukejentit

No comments:

There was an error in this gadget

Shorih's books

M. Quraish Shihab menjawab... : 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui
5 of 5 stars true
Tanpa Bermaksud memudah-mudahkan-yang bisa berujung pada kecendrungan serba boleh jika di pahami dan di hayati dengan cara yang benar, sesungguhnya Islam memang satu upaya untuk mendapatkan pemahaman yang benar dalam mengamalkan Islam ad...
Rembulan Tenggelam Di Wajahmu
3 of 5 stars true
Saya membaca buku ini saat Tere Liye belum seterkenal sekarang. Karyanya juga belum sebanyak dan digandrungi sekarang. Saat itu, buku "Rembulan Tenggelam di Wajahmu" masih diterbitkan penerbit lain (bukan Republika) dengan cover warna hi...

goodreads.com