Saturday, February 11, 2017

Penggalian Kembali Sumur Zamzam

Penggalian Kembali Sumur Zamzam

Cerita tentang keberadaan sumur Zamzam di Mekah, dikenal oleh hampir semua masyarakat Arab zaman itu. Namun, keberadaannya tidak diketahui selama puluhan (atau ratusan) tahun. Orang Arab meyakini sumurnya ada, lewat cerita turun temurun. Tapi, dimana gerangan sumur peninggalan zaman Nabi Ismail as itu berada, tidak ada tanda-tanda.

Jelang kelahiran manusia Agung
Makhluk terbaik jagat raya,
Allah memberikan sekian peristiwa besar
Salah satunya ialah ditemukannya kembali sumur Zamzam

Suatu malam, kakek Nabi, Abdul Muthollib tertidur di hijir Ismail
Beliau mimpi bertemu seorang laki-laki.

"Galilah thoybah!" perintah lelaki dalam mimpi.
"Apa itu thoybah?" Kakek Nabi bertanya.
Orang itu pergi tanpa jawaban.

Besok malam, Sang Kakek tidur di tempat yang sama.
Ia kembali bermimpi bertemu lelaki yang sama.

"Galilah barrah?" perintah lelaki.
"Apa itu barrah?" mbah Abdul Muthollib masih belum paham.
Namun, lelaki dalam mimpi itu kembali pergi tanpa jawaban.

Malam ketiga, Mbah Muthollib kembali tidur di tempat yang sama.
Lelaki itu pun datang kembali.

"Galilah madhnunah!" pintanya.
"Apa itu madhnunah?" si Mbah tetap belum mengerti.
Dan, lagi-lagi sang lelaki pergi tanpa jawaban.

Malam berikutnya,
Abdul Muthollib kembali tidur di tempat yang sama.
Ia pun kembali bermimpi berjumpa si lelaki.

"Galilah Zamzam!"
"Apa itu Zamzam?"

"Sumur yang tak akan kering airnya, tiada banding dalamnya.
Dengan air itu, nanti gunakan untuk memberi air minum jamaah haji.
Carilah letaknya di tempat antara ... dan darah.
Di tempat diamnya gagak yang di sayapnya ada bulu putih.
Di sana biasanya unta-unta berkumpul." petunjuk dari lelaki di dalam mimpi.

Setelah jelas petunjuk yang diberikan, Abdul Muthollib mengajak anaknya, al-Harits, dengan membawa perlengkapan seperlunya. Menuju tempat yang ditunjukkan. Ia mulai menggali.

Ketika nampak sumurnya, Abdul Muthollib gembira bukan main. Dia berteriak kencang. Membaca takbir.
"Allahu Akbar!!!"

Penduduk Mekah mendengar teriakan kerasnya.
Berbondong-bondong mereka mendatangi TKP.
Mereka menyadari, itulah sumur Zamzam yang selama ini ceritanya berseliweran di benak mereka. Telah ditemukan.

"Wahai Abdul Muthollib, itu adalah sumur moyang kita, Ismail. Engkau harus berbagi dengan kami." Orang-orang Quraisy menuntut hak yang sama atas sumur legendaris itu.

"Enak saja. Sumur ini telah diamanahkan padaku.
Dan akulah yang mendapatkan kekhususan terhadapnya," jawab Abdul Muthollib tidak mau menyerah.

"Kau harus bersikap adil pada kami. Tak akan kami biarkan kau menguasainya sendirian," mereka tetap ngotot untuk memperoleh hak terhadap sumur Zamzam.

Zaman itu, air termasuk barang yang amat berharga.
Apalagi sumur Zamzam yang sudah terkenal segar-tawar airnya.
Pun tak habis sumbernya.

"Baiklah, kalau begitu, terserah keadilan macam apa yang kalian mau. Aku akan terima," jawab si Mbah.

"Kita minta dukun dari Bani Sa'd bin Hudzaim memutuskan." Mereka memutuskan.

Ketika itu, sang dukun tinggal cukup jauh dari Mekah.
Ada di perbatasan kota Syam.
Mereka lalu bersepakat untuk bersama-sama pergi. Meminta petunjuk dari sang dukun.

Mbah Abdul Muthollib ditemani keluarga Bani Abdi Manaf, beserta perwakilan tiap-tiap Bani dari suku Quraisy segera berangkat. Menuju kediaman dukun dari Syam.
Mereka membawa perbekalan secukupnya.
Melintasi padang pasir.

Di tengah perjalanan, Abdul Muthollib kehilangan bekalnya.
Begitu pula beberapa orang dari rombongan mereka.
Hingga akhirnya bekal air minum rombongan habis.
Sementara, mereka terdampar di tengah-tengah padang pasir.
Seakan tiada harapan untuk hidup.

Abdul Muthollib mengajak rombongan yang dalam keputusasaan itu berhenti.
Beliau memberi usulan,

"Apa tidak sebaiknya setiap orang menggali lubang untuk persiapan kuburnya masing-masing. Sehingga, begitu ada yang mati kehausan bisa langsung dimasukkan ke liang kubur."

"Cerdas juga usulmu," semua rombongan sepakat dengan usul itu.
Mereka segera menggali kubur masing-masing.
Lalu, duduk di samping lubang, menunggu ajal menjemput.
Sementara unta mereka, juga ikut duduk di samping tuannya.

Setelah sekian lama "menunggu" mati, Abdul Muthollib merasa kegiatan seperti itu tiada berguna.

"Kita harus tetap berjalan, dan berusaha. Barangkali Allah akan memberikan air di suatu tempat nanti. Ayo kita jalan!" teriaknya memberi semangat jamaah.

Mereka lantas bangkit dari duduk. Hendak melanjutkan perjalanan.

Syahdan,
Saat unta milik Abdul Muthollib bangkit, muncratlah air yang jernih, segar, dan tawar dari bekas duduknya sang unta.
Semua bergembira. Terselamatkan dari ancaman kematian.

"Allahu Akbar.
Allahu Akbar," teriak Abdul Muthollib.

Melihat keajaiban tersebut, para pemuka Quraisy itu sepakat untuk kembali ke Mekah dan menyerahkan urusan pengelolaan sumur Zamzam kepada Abdul Muthollib dan keturunannya.

"Demi Allah, Dia yang telah memberikan air ini, dan menyelamatkan kita semua, memang telah memilihmu untuk mengurus pengelolaan sumur Zamzam.
Kami tidak akan merecokinya lagi." kata mereka.

11 Pebruari 2017
@mskholid



@mskholid @ruanginstalasi Blogger | Wirausaha

No comments:

There was an error in this gadget

Shorih's books

M. Quraish Shihab menjawab... : 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui
5 of 5 stars true
Tanpa Bermaksud memudah-mudahkan-yang bisa berujung pada kecendrungan serba boleh jika di pahami dan di hayati dengan cara yang benar, sesungguhnya Islam memang satu upaya untuk mendapatkan pemahaman yang benar dalam mengamalkan Islam ad...
Rembulan Tenggelam Di Wajahmu
3 of 5 stars true
Saya membaca buku ini saat Tere Liye belum seterkenal sekarang. Karyanya juga belum sebanyak dan digandrungi sekarang. Saat itu, buku "Rembulan Tenggelam di Wajahmu" masih diterbitkan penerbit lain (bukan Republika) dengan cover warna hi...

goodreads.com