Tuesday, December 30, 2008

Dia Ngajar Elektro

Mendengar ini, teman-teman sekelas waktu di MAK dulu pasti akan tertawa. Bahkan orang-orang yang mengenalnya juga akan tertawa.

Teman sekelas saya waktu di Madrasah Aliyah Keagamaan (ingat Keagamaan) ini sekarang mengajar bidang studi Teknik Elektro di sebuah SMK di desa tetangga. Padahal, sekolahnya agama. Kuliahnya juga ngambil tarbiyah. Pendidikan Agama Islam lagi. Dulu, di pondok juga rajin mengaji kitab kuning. Cukup pandai maknani kitab gundul. Lha sekarang, lulus dari pondok ngajarnya Elektro! Hehehe....

Sungguh, kita memang tidak pernah tahu masa depan kita. Termasuk dengan ilmu kita. Kita punya beberapa ilmu. Namun, kita tidak pernah tahu ilmu yang mana yang dibutuhkan masyarakat! Seringnya seperti itu. Dan salah satu kasusnya, ya teman saya ini.

Semenjak kecil, dia memang senang otak-atik barang-barang elektro. Baik di Aliyah ataupun di pondok, tiap kali ada perlengkapan pengeras suara atau sound yang rusak, dialah yang selalu tampil memperbaikinya. Waktu itu saja, dia sudah jago membenahi radio yang sama sekali tidak berbunyi. Sering pula dia diajak oleh Gus Rul (waktu itu Kiai Baqir masih ada) untuk memperbaiki listrik, kabel, atau penerangan yang tidak bermasalah. Bisa dibilang dialah asisten Gus Rul waktu di pondok kala itu.

Saya bertemu dengannya tak sengaja di kantin pondok. Seperti biasa, senyumnya selalu lebar menyambut. Menampakkan gigi-giginya yang putih besar, kontras dengan warna kulitnya. Kami berjabatan erat. Dan seperti biasa, dengan lagaknya yang suka membanggakan diri, dia langsung bercerita banyak—termasuk tentang profesi barunya tersebut. Dia masih tetap ramah seperti dulu, meski santri-santri sepondok menjuluki ”jin-nya pondok” karena dia terkenal tidak kompromi dengan anak yang melanggar. Dulu, dia adalah ketua Bidang Keamanan pondok. [KHO]

No comments:

There was an error in this gadget

Shorih's books

M. Quraish Shihab menjawab... : 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui
5 of 5 stars true
Tanpa Bermaksud memudah-mudahkan-yang bisa berujung pada kecendrungan serba boleh jika di pahami dan di hayati dengan cara yang benar, sesungguhnya Islam memang satu upaya untuk mendapatkan pemahaman yang benar dalam mengamalkan Islam ad...
Rembulan Tenggelam Di Wajahmu
3 of 5 stars true
Saya membaca buku ini saat Tere Liye belum seterkenal sekarang. Karyanya juga belum sebanyak dan digandrungi sekarang. Saat itu, buku "Rembulan Tenggelam di Wajahmu" masih diterbitkan penerbit lain (bukan Republika) dengan cover warna hi...

goodreads.com