Tuesday, December 30, 2008

Potong Rumput di Desa

Pagi-pagi setelah sarapan, sekitar pukul 8, aku tekejut mendengar suara mesin di depan rumah. Bukan bunyi sepeda motor atau mobil yang lewat. Lebih mendekati suara diesel yang aku sering dengar di perkotaan. Saya sempat bertanya pada Ibu saya tentang hal itu.

”Suarane wong motong suket paling!” jawab Ibu. (Suara orang sedang memotong rumput kali!)

Aku bergegas ke bagian depan rumah, dari balik kaca jendela, kulihat seseorang sedang menjalankan mesin pemotong rumput untuk merapikan rumput-rumput liar di pinggiran jalan di depan rumah penduduk. Menurut ibu, kegiatan ini sudah berlangsung beberapa hari ini.

Wah, melihat itu, aku jadi teringat dengan masa kecilku. Hampir setiap sore lepas sekolah, kami bersama saudara-saudara selalu disuruh orangtua untuk membersihkan rumput liar di pinggir jalan depan rumah kami. Dan seperti itulah yang juga dilakukan oleh keluarga-keluarga yang lain di desa kami. Rumput yang tumbuh liar di musim penghujan itu sungguh mengganggu pemadangan, termasuk juga menjadi cermin keluarga yang bersangkutan. Karena jenis rumput di depan rumah kami adalah teki, yang terkenal sangat awet, memaksa saya dan saudara-saudara bergotong royong dengan bapak-ibu untuk menyianginya.

Berbagai cara pun telah dilakukan bapak. Dengan mencangkuli tanahnya hingga ke akar-akar rumput, sampai menyemprot dengan obat pembunuh rumput. Usaha mencangkuli tanah itu tidak banyak memberi hasil. Yang lebih menampakkan perkembangan menarik adalah semprotan dengan obat. Setelah penyembrotan, rumput2 itu berangsur-angsur mati dan tidak menampkkan gejala tumbuh. Namun, setahun berikutnya, sat musim hujan, bekas akar yang belum mati pun kembali menumbuhkan tunas-tunas hijau. Begitulah ’peperangan’ melawan suket teki itu belum berhasil-berhasil juga.

Suket itu pun tidak tumbuh lagi, ketika bapak membangun got di tempat rumput itu tumbuh. Dengan ditimbuki adonan semen dan pasir untuk got, tentu saja tidak ada lagi kesempatan bagi si rumput untuk bergerak. Jadinya, tidak ada lagi lawan kami di depan rumah. Kami senang tidak terkena kewajiban membosankan itu.

Setelah kuliah di Jakarta, tiap kali pulang dan tidak melihat ada kehijauan di depan rumah, sebenarnya saya agak sedih dan menyesal. Apalagi, beberapa waktu lalu kemarau cukup panjang. Hujan tidak turun dalam jangka yang lama. Sementara matahari bersinar sangat terik. Tidak ada kehijauan. Sungguh, aku menyesal. Kenapa dulu tidak memotong dan merapikan saja rumput-rumput liar itu agar lingkungan depan rumah masih terlihat asri. Tapi, waktu itu (bahkan sampai sekarang) pandangan orang menyatakan suket teki memang bukan termasuk jenis rumput hias yang harus dirawat dan akan menjadi hiasan yang menarik.

Sekarang lebih enak, kepala desa lebih mengerti dengan desanya. Dengan kondisi masyarakatnya. Dia pun menyediakan tukang pemotong rumput untuk secara rutin memotong dan merapikan rumput-rumput liar di pinggir jalan. Dan, ternyata suket teki yang ”dirawat” pun menjadi menarik dilihat serta mengesankan keasrian. [KHO]

No comments:

There was an error in this gadget

Shorih's books

M. Quraish Shihab menjawab... : 1001 Soal Keislaman yang Patut Anda Ketahui
5 of 5 stars true
Tanpa Bermaksud memudah-mudahkan-yang bisa berujung pada kecendrungan serba boleh jika di pahami dan di hayati dengan cara yang benar, sesungguhnya Islam memang satu upaya untuk mendapatkan pemahaman yang benar dalam mengamalkan Islam ad...
Rembulan Tenggelam Di Wajahmu
3 of 5 stars true
Saya membaca buku ini saat Tere Liye belum seterkenal sekarang. Karyanya juga belum sebanyak dan digandrungi sekarang. Saat itu, buku "Rembulan Tenggelam di Wajahmu" masih diterbitkan penerbit lain (bukan Republika) dengan cover warna hi...

goodreads.com