Friday, January 4, 2019

Gaya “Nulis” Imam Bukhari



Imam Al-Bukhari, pakar hadits dunia yang menyusun kitab paling shahih setelah Alquran, dikenal punya hafalan super. Kitab Shahih Bukhari, berisi sekitar 7.275 hadits shahih. Merupakan hasil seleksi dari 600-an ribu (enam ratus ribu) hadits yang dihafalnya. Lengkap sanad dan matannnya.

Dari 600 an ribu itu, terseleksi menjadi 15.000-an hadits. Lalu, sebelum menuliskan sebuah hadits dalam kitab beliau, Sang Imam selalu berwudhu dan shalat dua rakaat. Istikharah--mencari petunjuk kelayakan hadits tersebut. Jika ada petunjuk kelayakan, maka ditulisnya hadits tersebut dalam kitab al-Jami’ as-Shahih. Jika tidak ada petunjuk untuk menuliskannya, Sang Imam melewatkan hadist tersebut.


Begitu seterusnya, hingga hanya ada 7.275 hadits shahih yang “layak” beliau tulis dalam kitab al-Jami’ as-Shahih ini. Kitab inilah yang disepakati sebagai kitab paling shahih setelah Alquran. Baik Ahlussunnah, Salafy, Wahabi, NU, atau Muhammadiyah. Semua sepakat tentang ini.
 
Sejak muda, Imam Bukhari memang gemar menuntut ilmu. Beliau tinggal di Kota Nabi, Madinah, untuk mempelajari hadits. Namun, jika ada kabar seorang syaikh datang ke sebuah kota, beliau akan mendatangi kota tersebut untuk belajar hadits dari syaikh tersebut.

Bisa ke Kufah – Irak (berjarak 1.414 km dari Madinah, hasil cek GPS saya)
Bisa ke Basrah – Irak (Berjarak 1.372 km dari Madinah)
Atau ke tempat lain.

Suatu hari, seorang syaikh ahli hadits datang ke Kota Basrah – Irak. Imam Bukhari bersama teman-temannnya pun berangkat dari Madinah menuju Kufah. Bayangkan jauhnya ya... Zaman belum ada mobil, apalagi pesawat.

Di Kufah, mereka istifadah—belajar dari Sang Syaikh.
Setiap hari, semua teman Imam Bukhari mencatat di hasil belajar hadits yang mereka dapatkan di buku-buku.
Sementara Imam Bukhari hanya menuliskan ilmu yang diperolehnya di telapak tangan. Tidak pakai tinta. Hanya menggunakan jari telunjuk saja.

Melihat kelakuan Bukhari muda, teman-temannya mengejeknya.

“Kamu itu, jauh-jauh dari Madinah ke sini, belajarnya gak serius begitu. Mana ada menulis hadits kok di atas tangan begitu. Mana bisa dibaca?” begitu kira-kira ejekan teman-temannya.

Imam Bukhari diam saja.
Tidak pernah menanggapi ejekan tersebut.
Namun, teman-temannya terus menerus mengejeknya soal gaya “menulis” Imam Bukhari yang aneh.
Sampai hari ke 16 mereka belajar, akhirnya Imam Bukhari tak tahan juga. Beliau menanggapi ejekan teman-temannya.

“Coba sekarang, cocokkan hasil tulisan kalian dengan tulisanku!” begitu kira-kira tantangan Imam Bukhari.

Imam Bukhari lantas membacakan seluruh hadits hasil belajar mereka selama 16 hari. Sementara teman-temannya menyimak hafalan itu lewat buku catatan mereka. Luar biasa. Semuanya benar. Tanpa satu pun yang salah. Barulah teman-temannya mengakui kehebatan Imam Bukhari. Sejak itu, setiap ada di antara mereka yang ragu-ragu tentang tulisan/catatannya, mereka kroscek-nya ke “catatan” Imam Bukhari.

Tritunggal, 4 Januari 2019
@mskholid @ruanginstalasi

-          Disarikan dari Ngaji bareng #GusBaha #FathulBari dengan beberapa penyesuaian dan penambahan kalimat.
-          Tulisan ini sebelumnya berjudul “Besarnya Potensi Hafalan Setiap Orang”, tapi dalam proses penulisan kok melenceng menuju profil imam Bukhari. Hehehee....

No comments:
Write komentar

Adv.

IKLAN Hubungi: 0896-2077-5166 (WA) 0852-1871-5073 (Telegram)