Thursday, October 16, 2025

Kiai Kok Sarungnya BHS? ‼️

 • Kiai Kok Sarungnya BHS? ‼️

Sarung merk BHS adalah simbol kemewahan untuk kalangan bersarung. Harganya memang rata-rata jutaan. Tapi, itu dulu--zaman sebelum negara api menyerang. 

Hari ini sudah tidak lagi. 

Sejak negara api runtuh, BHS mengubah strategi bisnisnya. Dia mulai bikin produk sarung bermerk BHS dengan harga-harga terjangkau. Ada yang kisaran 300 ribu, 500 ribu, dan 700 ribu. Yang jutaan masih tetap ada. Diversifikasi pasar.

Tentu saja kualitasnya berbeda jauh dengan yang di atas 1 juta. Bahkan, bisa dibilang BHS yang harganya 500 ribuan itu kualitasnya di bawah Sarung merk lainnya dengan harga lebih rendah. Tapi, dia kan jual merk, jual gengsi. Apalagi desain sarungnya disesuaikan untuk mendukung gengsi itu.

Misalnya, dengan memasang merk tulisan BHS di bagian depan Sarung. Tujuannya, supaya merk sarung itu langsung kelihatan (terbaca jelas) dari depan tulisan BHS-nya. Saat bertemu orang, maupun saat berpoto bersama. 😅

Kiai Bisa Pakai BHS?

Sependek pengamatan saya, yang biasanya pakai sarung merk BHS mahal itu santri (alumni pesantren) yang sudah sukses jadi pengusaha. Dia kaya, punya duit banyak. Jadinya, beli sarung juga yang nyaman dan awet dipakai. 

Sebagai santri,

Biasanya merasa berhutang budi pada gurunya, pada kiainya. Karena sudah dididik, ditempa bertahun-tahun sehingga menjadi sosok tangguh seperti sekarang. Dia merasa harus sedikit membalas budi gurunya (kiainya). 

"Mosok aku sarungan BHS, kiai-ku cuma sarungan W*****r. Kan gak layak," begitu biasanya yang ada di pikiran santri sukses itu.

Maka, belilah dia sarung BHS sejenis yang dia pakai. Yang harganya mahal-mahal itu. Atau bahkan, dibelikannya yang lebih baik dan mahal. Sebab, dia merasa kesuksesannya hari ini tidak lepas dari jasa didikan dan doa dari gurunya/kiainya.

Dari situlah, timbul rasa bangga dan bahagia bagi santri--sekadar sedikit mampu memberikan kenangan untuk gurunya (kiainya). 

Kalau disuruh milih, pakai uang pribadi, antara;

• Beli BHS yang harganya jutaan, atau 

• Beli sarung ratusan ribu dengan kenyamanan yang sama, 

Saya kira semua kiai akan memilih yang kedua. Karena seorang kiai sudah selesai dengan dirinya; tidak butuh penghormatan, tidak gila gengsi dan pengakuan dari orang lain. Sarung apapun yang dipakai, sama sekali tidak mengurangi derajatnya.

Kranji, 16 Oktober 2025

@mskholid

Wednesday, October 15, 2025

Kiai Kok Naiknya Mobil?

 Kiai Kok Naiknya Mobil?

Suatu ketika, saya tanya ke senior kepala sekolah swasta di Lamongan. (Maklum, kami sekolah baru).

"Pak Ji, kalau ada pengawas datang ke sekolah, apa kita ngasih amplop?"

"Yo pantes-é gitu lah..." jawab beliau. 

"Berapa kisarannya, Pak Haji?" tanya saya.

"Lihat-lihat. Kalau bawa mobil, ya sekitar xxx.... ribulah. Tapi, kalau bawa motor, ya Jenengan sesuaikan," jawab beliau. 😊

=== 

Begitu pula sudut pandang kita--saat mengundang pengajian kiai dan menimbang nominal isi amplop. Karena, hampir tidak ditemukan kiai yang memasang tarif amplop berapa.

Parameter kita, sebagai pengundang adalah jarak domisili beliau dan kendaraan yang digunakan. Jika mobilnya biasa, mungkin amplopnya juga standard. Jika mobilnya Alphard, Velvire, atau Pajero, mungkin standard amplopnya juga lebih tinggi. Karena pengundang menyesuaikan kebutuhan bensin yang diperlukan. 

Sebaliknya,

Jika penceramah berkendara motor saja, atau bahkan naik ojek, bisa-bisa standard isinya juga merosot. Amplop yang sebelumnya sudah dikretek lemnya, akan disobek lagi dan dikurangi nominal isinya. 😅


Begitulah kita. 

Kiai Kaya & Kiai Melarat

 Kiai Kaya & Kiai Melarat ‼️


Jadi kiai melarat, dirasani wong.


"Kiai kok melarat? Berarti gak dekat sama Allah." 

Mestinya, kalau kiai sungguhan, kan dekat sama Allah. Tinggal minta Allah dijadikan kaya. Dijadikan punya banyak harta. Biar bisa bangun pondok tanpa sumbangan masyarakat. Biar bisa menggratiskan santri yang mondok.


》Begitu kira-kira pandangan orang lain.


Jadi kiai kaya juga dirasani orang.

Katanya kiai kok hidupnya mewah. Gak bisa dijadikan teladan masyarakat. Mestinya, kiai itu zuhud, hidupnya sederhana. Harusnya pakaiannya juga seadanya. Kendaraannya juga biasa aja. Bila perlu gak usah punya mobil. Gak boleh pegang HP. Kalaupun pegang HP, cukup yang jadul saja. Gak usah ada aplikasi macam-macam. 


》Begitu pula kira-kira pandangan sebagian yang lain.


Padahal,

Kiai juga manusia. Nabi juga manusia. 

Macam-macam kehidupannya. 

Kekayaan yang dimiliki bukan tanda Keistimewaan di sisi Allah 

Kelimpahan harta beliau, bukan tanda beliau lebih dekat kepada Allah.


Sebaliknya,

Hidup melarat pun bukan tanda bahwa beliau jauh dari Allah.

Keterbatasan harta juga bukan tanda beliau tidak disayang Allah.


Sebab, Nabi saw bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَا إِلَى أَجْسَادِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ.

(رواه مسلم)

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan tidak pula kepada tubuh kalian, tetapi Dia melihat kepada hati kalian dan amal perbuatan kalian.”

(HR. Muslim)

Tuesday, October 14, 2025

Penyakit Santri Habis Sambangan

 • "Penyakit" Santri Habis Sambangan 


1. Nyimpen Makanan di Lemari 


Kiriman ortunya banyak. Disimpan mulu di lemarinya. Sampai berhari-hari. Karena dia punya misi mau menghabiskan sendiri. Eh, ndilalah, ada makanan basah--yang tak kuat tahan lama. Jadilah, makanan itu basi. Tak bisa dimakan. Mubazir dong, jadinya. 


Solusinya: ada yang dibagi, ada yang disimpan.

Khusus makanan basah, lansgung dihabiskan bersama-sama. 


2. Pelit dan Tidak Mau Berbagi 


Merasa itu jajannya sendiri. Punya hak dia. Jadi, kalau gak berbagi ya, terserah dia. Betul sih. Gak masalah. Itu hak dia. Tapi, penyakit ini bisa menumbuhkan benih-benih rasa iri di kalangan temannya. Apalagi, temannya yang tak disambang. Tak punya stok jajan. Uang sakunya habis pula. 


Muncullah, labelisasi kalau santri A medit. Pelit. 


3. Makan di Kamar 


Bolak-balik, harus diingatkan soal ini. Karena, memang enak sekali makan di kamar itu. Tinggal keluarin jajan dari lemari, buka bungkusnya langsung makan bareng.


Tapi, itu adalah pelanggaran lingkungan.

Bikin kamar bau, kotor, dan mengundang semut.

Bikin gak nyaman untuk dijadikan tidur.


Biasanya,

Lalu banyak yang mengungsi tidur di kamar lain.

Ketika ditanya alasannya; jawabnya kamarnya kotor.

Lah, itu hasil usaha mereka sendiri.

Thursday, October 2, 2025

Jangan Salah Pilih Jenis Satuan Pendidikan


• Jangan Salah Pilih Jenis Satuan Pendidikan •

Ada beberapa lembaga, memfokuskan pada tahfidz Quran santri. Bahkan, materi keseharian juga isinya tahfidz. Namun, ketika bikin lembaga formalnya; ambil SMP atau MTs. Atau SMA dan MA. Padahal, kurikulumnya jauh dari standard SMP, MTs, SMA, atau MA. Lebih banyak diisi dengan tahfidz Quran. 

Ada juga yang fokusnya baca kitab, tapi bikin lembaganya SMP. Sementara mata pelajaran kurikulum standard SMP tidak terpenuhi. 

Mestinya, pilihan terbaik dan pas untuk mendukung program tahfidz ialah ambil SPM Muallimin atau SPM Salafiyah. 

Kenapa Begitu?


1. Kurikulum

Secara kurikulum, pasti tidak bertentangan dengan standar mutu yang ditetapkan pemerintah--lewat Kemenag. Sebab, materi-materi keislaman mendominasi dalam kurikulumnya. Termasuk tahfidz yang menjadi fokus utama (baca: diferensiasi, atau hidden curriculum-nya). 

Materi umum, diwajibkan hanya IPA, Matematika, PKn, Bahasa Indonesia, dan Seni Budaya. Itu pun, jumlah JPL-nya tidak sebanyak MTs atau SMP. 

2. Fokus 

Jika fokusnya tahfidz Quran, maka santri akan mendapatkan tambahan mapel lain yang mendukung upaya memahami dan mengaplikasikan Alquran dalam kehidupan sehari-hari. 

Contoh, Bahasa Arab; sebagai bahasa Alquran akan berperan penting memahami Alquran.

Nahwu-Shorof, pun demikian. Akan urgen dikuasai karena sudah kadung menjadi hafidz-hafidzah. Biar klop. Hafal sekaligus paham dengan benar.

3. Tetap Dapat Mapel Umum 

SPM Salafiyah dan SPM Muallimin, tetap wajib memberikan mapel umum tertentu pada santrinya. Tentu saja dengan porsi yang lebih sedikit daripada jenjang pendidikan formal lainnya. Istilahnya, memberikan bekal dasar urusan duniawi-nya. 

4. Tetap Dapat BOSP

Karena SPM ini sudah resmi masuk Sisdiknas, maka santri yang terdaftar resmi juga dapat BOSP lewat satuan pendidikannya. Dan, tidak bisa terdaftar dobel di lebih dari satuan pendidikan. Misalnya, NISN yang sama, tidak akan bisa ditarik masuk EMIS MTs dan SPM sekaligus. Harus milih salah satu. Karena ada kaitannya dengan penerimaan dana BOSP. 

Mudahnya begini,

• Jika pengen dapat kurikulum yang lebih banyak materi umumnya: SMP - SMA 

• Jika ingin kurikulum yang seimbang antara umum dan agama : MTs - MA 

• Jika ingin standard kurikulum yang lebih banyam agama (tafaqquh fiddin) : SPM 

Jadi,

Buat para pengelola pesantren yang mau bikin lembaga baru, sesuaikan dengan diferensiasi Anda. Tidak harus ngotot ingin mendirikan SMP, MTs, SMA, atau SMA. Padahal, visi misinya lebih dekat pada SPM (Satuan Pendidikan Muadalah). 

Drajat, 2 Oktober 2025

@mskholid 

Asesor Penjaminan Mutu Eksternal Jenjang Dikdasmen 

Majelis Masyayikh Kemenag RI.

SatuanPendidikan Muadalah


Sejak sekolah dulu, saya sering dengar beberapa pesantren modern yang namanya menggema. Bahasa arabnya jago, penguasaan kitab-kitab kontemporer juga mumpuni. Tiap kali ada seleksi masuk Al-Azhar Mesir, Sudan, atau Madinah, pondok-pondok tersebut jadi langganan. 

Bahkan, terkadang seleksinya digelar di pondok tersebut. 

Nah, apa sistem pendidikan formal yang ada di pesantren tersebut? 

Ternyata, mereka menggunakan pendidikan Muadalah Muallimin atau Pendidikan Diniyah Formal. Model ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu, tapi baru diresmikan masuk UU Sisdiknas tahun 2019.

Dengan adanya UU Nomor 18 tentang Pondok Pesantren itulah, model-model pendidikan di pesantren jadi DIAKUI dan dianggap FORMAL. Ijazahnya tidak perlu lagi melakukan penyetaraan. Atau mengikuti paket A, B, C. Ijazah yang dikeluarkan pendidikan formal khas pesantren bisa digunakan melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya.

Model-model pendidikan formal itu antara lain:

• Satuan Pendidikan Muadalah Muallimin 

• Satuan Pendidikan Muadalah Salafiyah

• Pendidikan Diniyah Formal 


Dengan model pendidikan seperti di atas, pesantren lebih leluasa mengatur kurikulum yang lebih fokus pada penguasaan literatur keislaman, bahasa, maupun pembentukan karakter santri. Tidak lagi terkendala ijazah "tidak laku" atau "tidak setara" dengan jenjang lainnya semisal MTs, SMP, MA, dan SMA.

Santri yang terdaftar di EMIS lewat pendidikan formal di atas, juga akan mendapatkan BOS lewat satuan pendidikannya. Asatidz/tenaga pendidik pun begitu, akan ada mekanisme PPG dan mendapatkan sertifikasi. 

Beberapa pondok yang menggunakan model seperti ini adalah: Gontor, Al-Amien Prenduan, Darunnajah, Karangasem (Paciran). 

Jadi, buat pesantren yang ingin lebih fokus tafaqquh fiddin bagi santri-santrinya pilihan terbaik model pendidikan formalnya, ya yang seperti ini. 


Babat, 2 Oktober 2025

@mskholid


Asesor Penjaminan Mutu Eksternal Dikdasmen 

Majelis Masyayikh Kemenag RI


📷 menerima bingkisan dari anggota Majelis Masyayikh; KH Abdul A'la Basyir (Madura)

Sunday, August 3, 2025

Kopi Buat Guru Ngaji

Kopi Buat Guru Ngaji

Subuh belum tiba ketika saya melipir ke Jatirogo. Jalanan masih sepi, embun belum sempat menguap. Saya mampir di sebuah masjid di pinggir jalan—sunyi, teduh, sederhana. Di situlah saya menemukan pemandangan yang membuat hati bergetar pelan.

Di emperan masjid itu, seorang bapak setengah baya duduk bersila. Di hadapannya, satu per satu anak kecil datang mengaji. Tidak dengan mushaf, tidak pula dengan buku. Mereka duduk bersahaja, membaca atau menghafal surah-surah pendek dari Juz Amma. Sang guru menuntun perlahan, sepenggal demi sepenggal ayat.

Saya hanya memperhatikan dari kejauhan. Tidak ada formalitas. Tidak ada pengeras suara. Tidak ada plang “TPQ Modern” atau “Madrasah Digital”. Hanya ada seorang guru dan anak-anak desa yang datang silih berganti membawa semangat mengaji.

Dan saya terdiam…

Masya Allah, masih ada yang seperti ini di zaman sekarang. Di tengah modernisasi pembelajaran Al-Qur’an—dengan metode cepat, aplikasi digital, kelas eksklusif ber-AC—ternyata masih ada guru ngaji yang bertahan dengan cara lama: mengajar dengan sabar, tanpa pamrih, di pojok masjid yang sederhana.

Namun, di balik kekaguman itu, saya juga merenung. Ada dua hal yang perlu kita pikirkan bersama.

Pertama, soal efektivitas.

Cara mengajar seperti ini, meski tampak tulus dan menyentuh, bisa jadi kurang maksimal dalam hal hasil. Tanpa metode yang jelas, tanpa mushaf sebagai pegangan, dan tanpa bimbingan tajwid yang sistematis, hafalan anak-anak rawan keliru. Mungkin, guru tersebut terpaksa mengajar seperti itu karena keterbatasan—bisa jadi belum pernah mendapat pelatihan, atau hanya mengikuti tradisi yang diwariskan sejak dulu.

Kedua, soal keikhlasan yang sering disalahpahami.

Guru seperti ini mungkin sudah puluhan tahun mengabdi. Tapi apakah beliau diberi bisyaroh yang pantas? Apakah tiap pagi beliau bisa sarapan dengan layak? Atau sekadar ngopi dan makan pisang goreng setelah mengajar?

Sayangnya, banyak lembaga yang merasa cukup dengan satu kata: ikhlas.

Asal guru rajin datang dan ngajar, sudah dianggap cukup. Tak perlu pelatihan. Tak perlu dukungan. Apalagi insentif tambahan. Padahal, keikhlasan itu bukan alasan untuk menutup mata terhadap kebutuhan manusiawi para guru ngaji.

Yang lebih miris, kadang guru seperti ini bahkan tak berani masuk warung kopi karena tak membawa cukup uang untuk sekadar membeli kopi dan rokok eceran. Padahal, mereka mengajarkan firman Tuhan setiap hari. Ironi, bukan?

---

Tulisan ini bukan keluhan, tapi ajakan untuk peduli.

Kalau kita mencintai Al-Qur’an, maka cintailah juga orang-orang yang mengajarkannya. Kalau kita ingin anak-anak kita pandai mengaji, maka berikanlah perhatian pada guru-guru mereka—baik secara ilmu, maupun secara kehidupan.

Minimal, mari kita mulai dari hal kecil: pastikan guru ngaji kita bisa ngopi dengan tenang setiap pagi.

Semoga secangkir kopi yang kita niatkan untuk guru ngaji, menjadi jembatan keberkahan yang mengalir tak henti.

Friday, July 4, 2025

Khutbah Jumat: Berbakti pada Orangtua

 

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَوْضَحَ لَنَا شَرَائِعَ دِيْنِهِ ، وَمَنَّ عَلَيْنَا بِتَنْزِيلِ كِتَابِهِ، وَأَمَدَّنَا بِسُنَّةِ رَسُولِهِ، فَلِلّٰهِ الْحَمْدُ عَلَى مَا أَنْعَمَ بِهِ مِنْ هِدَايَتِهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى خَيْرِ الْإِنْسَانِ ، مُبَيِّنًا عَلَى رِسَالَةِ الرَّحْمَنِ ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ الْمَحْبُوْبِيْنَ جَمِيْعًا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مُوْقِنٍ بِتَوْحِيْدِهِ، مُسْتَجِيْرٍ بِحَسَنِ تَأْيِيْدِهِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّداً عَبْدُهُ الْمُصْطَفَى، وَأَمِيْنُهُ الْمُجْتَبَى وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ إِلَى كَافَةِ الْوَرَى. 

أَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللّٰهِ أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، وقال تعالى: يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

وقَالَ أيضا:   وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah

Wonten ing kesempatan ingkang minulyo meniko, bolak-balik khotib mboten bosenuntuk terus berwasiat terhadap diri pribadi khatib lan mugi-mugi sumerambah dumateng manah dan pribadi jamaah sedoyo. Anggen kitho netepi takwa dumateng Allah SWT; kaleyan sebenar-benarnya takwa. Amergi, ukuran manusia terbaik di sisi Allah mboten dinilai kaleyan harta lan kekayaan, mboten dinilai kaleyan tingginya pangkat lan jabatan, ananging hanya dipun nilai kaleyan seberapa besar dan kuat tingkat ketakwaan kita kepada Allah SWT. Yakni, dengan cara melaksanakan sedoyo perintahipun Gusti Allah lan nebihi sedoyo larangan-laranganipun Allah SWT.

 

Allah Ta'ala berfirman:

 يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim". (Qs. Al-Imran: 102)

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah

Wonten kisah menarik ingkang saget kita ambil pelajaran akan ampuhnya do’a jelek seorang ibu pada anaknya, yaitu kisah Juraij sang ahli ibadah. Beliau adalah seorang pemuda yang sangat tekun dalam beribadah, sampai-sampai beliau membangun tempat ibadah khusus untuk menyendiri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Suatu hari, ibunya datang memanggilnya saat Juraij sedang melaksanakan salat sunnah. Karena begitu khusyuk, Juraij lebih memilih melanjutkan ibadahnya daripada segera menyahut panggilan ibunya. Hal itu terjadi berulang kali, hingga akhirnya ibunya merasa sedih dan berdoa agar anaknya diberikan ujian.

Tak lama kemudian, muncullah fitnah besar di tengah masyarakat. Juraij dituduh telah berzina dengan seorang wanita, bahkan wanita tersebut mengaku bahwa anak yang lahir darinya adalah anak Juraij. Masyarakat marah besar, mendatangi tempat ibadah Juraij, dan merobohkannya. Juraij pun difitnah dan dihina sebagai tukang zina.

Tetapi, atas izin Allah, bayi ingkang baru lahir tersebut bisa berbicara. Bayi tersebut mengatakan bahwa ayahnya yang berzina dengan ibunya adalah seorang tukang gembala kambing. Mendengar itu, masyarakat pun sadar dan menyesal, lalu berusaha memperbaiki kesalahan mereka lan membangun ulang tempat ibadah Juraij.

Ma'asyiral muslimin yang dirahmati Allah,

Kisah meniko mengajarkan dateng kita; betapa pun tinggi lan banyaknya ibadah ingkang samun kita lampahi, ampun ngantos dadosaken kitho kita lalai dalam berbakti kepada orangtua. Bahkan, seorang ahli ibadah seperti Juraij pun mengalam ujian dan fitnah besar gara-gara mboten segera memenuhi panggilan ibunya.

Ampun ngantos kesibukan dunia, bekerja, mencari materi, atau bahkan kesibukan ibadah sunnah dadosaken kita lupa dateng kewajiban berbakti kepada kedua orangtua. Ridha Allah tergantung pada ridha mereka. Jika orang tua ridha, mongko Allah pun bakal meridhai kita.

Hal meniko sesuai dengan sabda Baginda Rasulullah saw:

 رِضَى اللّٰهِ فِي رِضَى الْوَالِدَيْنِ وَسَخَطُ اللّٰهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدَيْنِ (أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ إِبْنُ حِبَّانِ والحَاكِمُ)

Artinya: Rasulullah saw bersabda, “Ridha Allah terletak pada ridha kedua orang tua, dan murka Allah terletak pada murka kedua orang tua.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Tirmidzi, dan dinilai sahih oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim).

Melalui hadits di atas, saget kita pahami bahwa jika kita mengharap ridho Allah SWT, salah satu cara ingkang mesti kita perhatikan sungguh-sungguh ialah membuat orangtua kita ridho dateng kita. Di sisi lain, hadits ini juga menekankan kita untuk tidak meremehkan hak-hak orangtua kita. Sebab, hal tersebut bisa menjadi petaka dan bencana bagi seorang anak. Amergi durhaka lan mengecewakan kepada orangtua bisa memicu murka Allah SWT. Naudzubillah min dzalik.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah Allah Ta'ala berfirman:

  وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Artinya: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik." (QS al-Isra': 23)

Terkait ayat meniko, wonten kesamaan dengan sebuah riwayat ingkang ditampilkan oleh Imam Abu Laits As-Samarkandi wonten ing kitab Tanbihul Ghafilin:

  قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: لَوْ عَلِمَ اللَّهُ شَيْئًا مِنَ الْعُقُوقِ أَدْنَى مِنْ أُفٍّ لَنَهَى عَنْ ذَلِكَ، فَلْيَعْمَلِ الْعَاقُّ مَا شَاءَ أَنْ يَعْمَلَ، فَلَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ، وَلْيَعْمَلِ الْبَارُّ مَا شَاءَ أَنْ يَعْمَلَ فَلَنْ يَدْخُلَ النَّارَ

Artinya: "Baginda Nabi Muhammad SAW bersabda, 'Jika Allah mengetahui sesuatu dari durhaka yang lebih rendah daripada 'uff' (kata-kata kasar), niscaya Allah akan melarangnya. Maka hendaklah orang yang durhaka melakukan apa saja yang dia inginkan, karena dia tidak akan masuk surga. Dan hendaklah orang yang berbakti melakukan apa saja yang dia inginkan, karena dia tidak akan masuk neraka."

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah 

Rasulullah saw dalam sabdanya menegaskan betapa besarnya dosa durhaka kepada orang tua. Beliau menyatakan bahwa seandainya Allah mengetahui bentuk durhaka yang lebih ringan daripada sekadar mengucapkan kata “ah” atau berkata kasar kepada orang tua, niscaya Allah akan melarangnya. Hal ini menunjukkan beleh durhaka kepada orang tua merupakan perbuatan yang sangat tercela, yang dapat mendatangkan murka Allah dan menghalangi seseorang untuk masuk surga.

Sebaliknya, orang yang berbakti kepada kedua orang tua digambarkan sebagai mereka yang akan memperoleh kebaikan dan pahala yang besar, serta terhindar dari siksa neraka, meskipun mereka pernah melakukan kesalahan atau dosa lainnya. Ini menunjukkan bahwa bakti kepada orang tua memiliki pengaruh positif yang luar biasa dalam kehidupan seseorang, bahkan dapat menjadi jalan untuk memperoleh ampunan dan rahmat Allah Ta’ala.  

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah

Diriwayatkan dari beberapa sahabat Rasulullah saw, bahwa beliau bersabda, “Kurangnya doa untuk kedua orang tua dapat menyempitkan kehidupan seorang anak.”

Kemudian, seseorang bertanya kepada sahabat tersebut, “Apakah seorang anak masih dapat membuat orang tuanya ridha setelah mereka meninggal dunia?” Sahabat itu menjawab, “Tentu, seorang anak dapat membuat orang tuanya ridha melalui tiga cara. 

Cara Pertama, menjadi anak yang saleh, karena tidak ada yang lebih dicintai oleh orang tua selain kesalehan anaknya. Cara Kedua, menjaga silaturahmi dengan kerabat dan sahabat orang tua. Ketiga, mendoakan serta memohonkan ampunan bagi kedua orang tua lan bersedekah atas nama kedua orangtua.”

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah ...

Demikian khutbah siang hari ini, semoga bermanfaat bagi kita semua, dan menjadi pengingat kita untuk selalu bisa menjaga bakti kita kepada kedua orangtua kita. Aamiin ya rabbal alamin.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِالْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

Khutbah II

 

 اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلَى رِضْوَانِهِ. اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا،

 أَمَّا بَعْدُ. فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ، إِتَّقُوااللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِى، يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلٰيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ المَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرّٰحِمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

 عِبَادَاللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشَآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللّٰهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.

 

Adv.

IKLAN Hubungi: 0896-2077-5166 (WA) 0852-1871-5073 (Telegram)