Friday, January 1, 2021

Sekolah yang Mondok


Bismillah...


2021

Tahun Baru, selipkan doa dan konsep.


Biasanya,

Konsep pondok salaf itu: 

"Mondok yang Sekolah."


Saya akan ambil diferensiasi:

"Sekolah yang Mondok."


Maksudnya gimana?


Matematika: Josss

IPA : Mantabb 

Bahasa Indonesia: Menguasai


Bahasa Arab & Inggris: Lancar

Baca Kitab Kuning : BISA 


#CahayaQuSchool

Konsultasi Nggawe Sekolahan Seng Uuuuapik

 


Bikin sekolahan zaman sekarang itu seperti bikin warung. Menu yang disediakan sesuai dengan kebutuhan masyarakat (sebagai customer). Tidak asal; POKOK-e gawe. Sudah bagus-bagus bangunannya, eeeeeh gak ada yang beli. 


Nah, urusan menyesuaikan dengan lidah pembeli, orang Lamongan jagonya. 

Lihat saja PECEL LELE LAMONGAN, bisa sesuai dengan lidah orang-orang senusantara. 😄😄😄 Mulai Sabang hingga Merauke. Ada pecel lele Lamongan.


Tapi, karena sekolahan itu bukan makanan, saya konsultasinya dengan orang Gresik. Sosok beliau ini, sudah puluhan tahun malang melintang di dunia manajemen pendidikan. Juga konsultasi lembaga-lembaga pendidikan. Kelas Nasional.


Beliaulah yang mengawali era baru pendidikan formal di MTs Tarbiyatut Tholabah . Kebetulan, awal-awal menjabat Kepala Madrasah, saya dan teman-teman seangkatan duduk di kelas 3 MTs. Jadi, saya bisa merasakan betul bagaimana perubahan yang beliau gagas dan terapkan saat itu. Luar biasa.


Hingga saat ini, ketika beliau menjadi konsultan pendidikan di berbagai lembaga se-Indonesia, kami masih diterima dengan baik sebagai murid. 


Bahkan dengan tangan terbuka lebar, beliau siap membantu kebutuhan dan impian murid-muridnya. Termasuk urusan caranya membangun sekolahan sing uuuuapik.


"Itu hobi saya, Lid...!" ujar beliau, "Kalau memang niat beneran, saya siap datang setiap minggu ke Babat."


Wowwww...

Pokoknya, kalau beliau yang dampingi, saya yakin pendidikan yang disajikan (insya Allah) berkualitas dan sesuai harapan.


Legowo, 31 Desember 2020

@ms.kholid 


#ppcahayaquran

#smpcahayaqu 

#cahayaquislamicboardingschool

Potensi yang Tersia-sia







"Mengabdi zaman sekarang itu, Lid. Tidak harus kamu pulang kampung. Terus ikut bantu ngajar di almamater kamu." 

Pesan beliau.


"Lha, terus dos pundhi, Ustadz?"


"Kamu kerja yang sukses, punya uang banyak, bantu almamater kamu lewat uang.

Kamu meniti karier di pemerintahan, jadi pejabat. Bantu almamater kamu lewat urusan di pemerintahan.

Kamu ... bla...bla...bla..."


Beberapa tahun belakangan, saya mengamati ada banyak potensi dari alumni yang butuh mengajar. Mau bantu lewat jalur-jalur lain, belum bisa. Bisanya hanya lewat jalur pendidikan.


Hanya saja, 

Slot yang hendak diisi penuh. 

Almamater tidak bisa menerima.

Padahal, saya perhatikan mereka-mereka itu potensial, fresh graduate, termasuk lulusan terbaik almamater, lulusan kampus besar nusantara. Namun, tidak kebagian slot untuk ikut mengabdi.


Di sini, terkadang saya galau.


Kegalauan inilah, yang menjadi salah satu curhatan pada beliau; Guru saya. 

Solusinya;

"Buatkan sekolah yang unggul buat mereka. Yang layak sesuai kapasitas mereka."


Jadi,

Tunggu saja.

Insya Allah akan kami buka rekrutmen terbuka untuk para calon pendidiknya.

Wednesday, December 23, 2020

Anak "Bodoh" vs Anak Pintar



• Anak "Bodoh", Bisa Jadi Kelak yang Paling Manfaat •

Punya anak itu kudu disyukuri.
Pintar alhamdulillah...
Bodoh (baca: Hanya Karena Gak rangking kelas), ya sama disyukurinya.
Saya aja, 11 tahun belum dikaruniai anak pun tetap dan terus berterimakasih pada Allah.

Anak tak rangking, sulit nyambung matematika dan sejenisnya, atau gak pernah juara di sekolah, tetap kudu disyukuri. Dihormati, selayaknya manusia.
Dirawat, selayaknya sebuah amanah.

Sebab,
Kerapkali anak yang kita sebut "bodoh" itu,  bisa jadi kelak yang paling bermanfaat dan peduli pada kita. Para orangtuanya.

Kata Yai Imam Syaerozi (alm), anak pintar itu rata-rata akan merantau jauh dari orangtuanya. Meniti karier dan prestasinya, sesuai dengan kapasitas ilmu dan kemampuannya. Sehingga, jarang ada anak pintar itu yang tinggal di rumah memberdayakan kedua orangtuanya.

Beda dengan anak "bodoh".
Karena sekolahnya begitu-begitu saja, rata-rata dia akan tetap tinggal sedesa dengan orangtuanya. Bahkan serumah--membersamai kedua orangtuanya. Hingga usia tua.

Anak "bodoh" itu yang akan lebih banyak memberi dan melayani orangtuanya--dengan segala keterbatasannya. Rata-rata dia akan menerima "nasib" untuk menjalani peran "kecilnya" karena sadar; dia tidak pintar--seperti saudara-saudaranya yang lain.

Anak "bodoh" itulah yang biasanya memasak, mencuci, dan membersihkan rumah orangtua. Terkadang bahkan menyuapi atau menggendong--jika orangtuanya sudah sepuh.

Di sisi lain, anak pintar, prosentase pulang menjenguk orangtuanya bisa dihitung jari. Itu pun hanya beberapa hari di rumah. Terbatasi kewajibannya sebagai orang pintar di kota besar.

Anak pintar, kala orangtuanya sudah sepuh dan mengeluh sakit, minta diperiksa ke dokter. Dia jawabnya:

"Jenengan itu sakit tua, Pak e. Disabar-sabarne wae. Ancen wes sepuh," khas anak pintar.

Beda jawaban anak "bodoh".

"Nggeh, Pak. Ayokkk... Mugi-mugi ketemu jodoh-e," khas anak tak pintar. Manut mawon.

Babat, 22 Desember 2020
@ms.kholid

*catatan saat beli Kerang Ijo Pantura untuk oleh-oleh buat istri.
*dilanjutkan pas sudah di rumah. Saat kerang ijonya sudah ludes. 😁
*Anak pintar dan "bodoh" sama-sama punya potensi kebaikan. Ya, disyukuri aja. Gak boleh ngeluh...
*tulisan ini terinspirasi dari ceramah guru (Youtube) saya; KH Imam Syaerazi (alm).

📷

Thursday, November 19, 2020

Belajar pada yang Terbaik

 


Belajarlah Pada yang Terbaik di Bidangnya • 


Sebuah Catatan Kemenangan Kafilah Jatim Cabang MFQ pada MTQ Nasional ke 28 di Sumbar 2020


Untuk mencapai keberhasilan, kuncinya adalah BELAJAR. 

Menurut Pak Tung (Tung Desem Waringin) : AGAR KEBERHASILAN & KESUKSESAN LEBIH CEPAT DIRAIH, BELAJARLAH PADA YANG TERBAIK DI BIDANGNYA. 


Misalnya,

Mau sukses jadi pemain bulutangkis, belajarlah pada Rudi Hartono.

Sukses jadi pesepakbola, belajar pada Ronaldo atau Lionel Messi.

Sukses jadi pemimpin, belajarlah pada Nabi Muhammad, Umar bin Khattab, atau Umar bin Abdul Aziz.


Sukses jadi pebisnis, belajarlah pada Abdurrahman bin Auf, Richard Branson, dan Mark Zuckenberg.

Sukses berinovasi, belajar pada Steve Jobs.

Sukses berinvestasi, belajar pada Warren Buffet. 


Begitulah yang terjadi pada kafilah Jatim di cabang MFQ pada ajang MTQ Nasional ke 28 di Sumbar 2020.

Kafilah Jawa Timur berhasil menggondol medali emas (juara 1) setelah di final hari ini mengalahkan kafilah dari Banten dan Bangka Belitung.


Sejak awal babak penyisihan dua hari lalu, saya menyimak setiap soal-soal MFQ (dulu dikenal dengan lomba cerdas cermat). Tak cuma kala kafilah jatim bertanding, tapi juga saat kafilah lain.


Sebagai guru madrasah Aliyah jurusan Keagamaan, saya tahu sendiri betapa beragam dan sulit aneka pertanyaan yang dibuat dewan hakim nasional. 

Tak sekadar hafal urutan ayat dan surat. Tak sekadar ilmu tajwid dan makhorijul huruf. Pertanyaan juga meliputi ahkamul quran, kajian tafsir, ilmu qiroat, ilmu nagham, ilmu bahasa Alquran, fiqih,  dan juga ada cabang ilmu-ilmu Alquran lainnya. 


Amat beragam. 

Untuk menguasai seluruh soal tersebut, berat. Amat berat. Bahkan sekadar untuk menjangkau dan memperkirakan bahwa pertanyaan ini akan muncul saja, tidak semua orang mengetahuinya.

Bisa jadi karena keterbatasan ilmu dan pengalaman.


Di sinilah, kafilah Jawa Timur punya jawabannya. Pada sosok pembimbingnya. Beliaulah Bu Nyai Lujeng Luthfiyah. Sosok yang menurut saya salah satu yang terbaik di bidangnya. 


Ada beberapa alasan:


1. Penguasaan Materi 


Selain hafal Alquran, Bu Nyai juga mumpuni di bidang ulumul quran dan ulumul hadis. Sebagai lulusan IIQ Jakarta dan S3 UIN Sunan Ampel di bidang yang sama, tidak diragukan lagi luasnya ilmu beliau. 


Dengan begitu, 3 orang peserta yang beliau bimbing tinggal terimo dadi saja menghafal dan memahami beratus-ratus lembar diktat materi. Prediksi materi dan soal, beres di tangan beliau. 


Mungkin di kampus-kampus besar Indonesia, ada banyak profesor atau doktor ulumul Quran yang punya kemampuan setara. Namun, sedikit sekali di antara beliau-beliau yang punya banyak waktu longgar memberikan bimbingan secara intensif berhari-hari. Bahkan sampai ngelembur. 


2. Pengalaman 


Bu Nyai Lujeng dulu pernah jadi juara di ajang MTQ Nasional. Entah tahun berapa. Artinya, mental juara itu sudah jadi salah satu modal. Tinggal disuntikkan saja pada darah-darah muda kafilah Jatim yang baru lulus MA Tabah kemarin (2020).


Sebagai fans Milanisti Indonesia, beberapa tahun ini saya paham betapa lemahnya mental tim Milan sebagai juara. Tiap kali kebobolan gol lebih dulu, hampir dipastikan tidak akan bisa memenangkan pertandingan. Bisa membalas gol atau seri saja sudah untung.


Tapi, semenjak kedatangan The King Ibra Januari lalu, mental juara itu seakan disuntikkan ke darah-darah muda Tim Milan. Lihat saja, kini Milan di puncak klasemen sementara Serie A. 


3. Motivator 


Tak hanya mumpuni dan berpengalaman, Bu Nyai juga punya profil seorang motivator. 

لا يخاف لومة لائم


Saya ingat, saat masih di bangku kelas MAK, diajar matpel Ilmu Hadits oleh beliau. Kita (atau mungkin saja saya di kelas) merasa seakan sedang "diteror" untuk HARUS bisa dengan materi-materi dalam pelajaran Ilmu Hadits yang dipelajari. 


Layaknya orang diteror wajib bisa.

Mau gak mau, ya kudu bisa. 


Saya pikir ini pulalah yang berefek pada saya saat memutuskan memilih jurusan kuliah berikutnya. Saat kesempatan beasiswa S2 datang, saya mengambil Konsentrasi Ilmu Hadits di Kampus Institut Ilmu Alquran (se-almamater dengan beliau). 😄


Dan, saya membayangkan mereka 3 anak yang baru saja juara MFQ tingkat Nasional di Sumbar, pastilah merasakan "teror-teror" motivasi agar bisa dan menguasai materi yang berjibun banyaknya itu.


Selamat dua santri PP Tabah:

Madinatul Munawwaroh

Hitna Ar-Rasikh

1 lagi santri PP Manarul Quran 


Kruwul, 19 Nopember 2020 

@mskholid 


Guru MA Tabah

Friday, September 25, 2020

Yang Nggak Boleh Itu yang Gak Ada Sama Sekali

"Seng Gak Oleh Iku, Nek Gak Onok Blasss..." Misalnya, ustadz diundang ceramah. Jangan sampai gak ada uang sama sekali di saku. Nanti tamaknya kepada pengundang jadi besar. Besar arep-arepnya pada pengundang. Harapannya pulang dapat amplop tebal. Kalau di saku ustadz sudah ada uang yang cukup--minimal buat transport atau makan di jalan, tidak akan nggerundel. Sekalipun tidak dikasih amplop. Atau dikasih amplop, tapi isinya gak sepadan dengan biaya transportnya. Kan tetap bisa pulang. Tetap bisa makan di jalan. Kalaupun ngajak sopir, tetap bisa bayari sopir. Pokoknya harus ada. Yang gak boleh itu gak ada sama sekali. Kalau masih ada uang di saku, masih ada peluang pula untuk mengelola hati--supaya lebih ikhlas. Misalnya, diundang tahlilan/kondangan. Diusahakan minimal perut sudah tidak terlalu keroncongan. Minimal sepanjang jam di lokasi kondangan, lambung tidak terlalu melilit-lilit. Sehingga, jika ternyata tidak ada sajian makan, atau hidangannya telat datang, tidak terlalu menggerutu. Standardnya hanya cukup. Waktunya makan bisa. Waktunya minum juga ada. Urusan menunya apa; entah sate atau soto, itu hanya soal mengelola keinginan. Waktunya kopi, juga ada kopi. Tak harus #starbucks atau #belikopi Toh, kopi mahal, nikmatnya tak selalu selaras dengan kopi sachet 3 ribuan. Itu hanya soal mengelola keuangan dan kesempatan. Atau soal bersama siapa saat kita ngopi. Mau jalan kemana, ada kendaraan (tidak mesti milik sendiri. Bisa sewa atau kendaraan umum). Pengen sedekah, bisa. Waktu bayar spp sekolah juga ada. Kekurangan itu masih boleh gaesss, yang gak boleh itu tidak ada blassss. Tak ada sama sekali. Itulah cara meminimalisir ngarep-ngarep ke makhluk-é Allah. Babat, 25 September 2020 Khaled & Farah Zaenal Happy Anniversary 9th Inspirated by #GB

Tuesday, September 15, 2020

Siapa yang Disenangkan oleh Tim YES BRO Lamongan?

 


• Siapa yang Disenangkan? •


Menilik Program Roadshow Persela All Star vs Desa-desa All Star dari Tim YES BRO


Melanjutkan tulisan pertama sebelumnya. Yang judulnya: "Kampanye" Cerdas Tim YES BRO


Dengan mengesampingkan dua hal:

1. Aturan kampanye Paslon

2. Protokol kesehatan di masa pandemi

Monday, September 14, 2020

Kampanye Cerdas Tim YES BRO


 • "Kampanye" yang Cerdas dari Tim YES BRO • 

(Bagian 1)


Dengan mengesampingkan dua hal;

1. Aturan kampanye 

2. Aturan protokol kesehatan di masa pandemi 


Agenda CEO Persela menggelar Eksebishi antara Persela All Star melawan tim all Star di desa-desa se Lamongan, adalah langkah CERDAS & EFEKTIF meraup suara saat gelaran 3 bulan mendatang. 


Diawali Persela All Star melawan Tim Kemantren, pekan lalu, Sabtu kemarin pertandingan melawan All Star Desa Drajat, adalah agenda kedua. 

Kabarnya (menurut MC pertandingan), kegiatan serupa akan digelar secara bergiliran di desa-desa. Tiap hari Sabtu. 


Kegiatan sepakbola ini sangat menarik antusias warga. Apalagi setelah sekian bulan tak ada pertandingan bola lokal yang bisa dinikmati warga. Imbas pandemi Corona. 


Apalagi menghadirkan mantan pemain-pemain top Persela. Di Drajat kemarin, bahkan diramaikan mantan pemain Timnas; Taufik Kasrun dan Zaenal Arifin.


Pelatih Persela saat ini, Nil Maizar, juga ikut hadir di pinggir lapangan. Bang Nil ditemani Ekky Taufiq, Abiyoso, dan Sugeng Efendi. Sekalipun gak ikut bermain.


Kehadiran mereka mampu menyedot animo warga Drajat dan sekitarnya. Khususnya LA Mania Pantura.

Terbukti, (menurut perkiraan saya) ada 2000-an penonton yang memadati Lapangan mBabrik Drajat, Sabtu kemarin.


Dari sini saya melihat cerdas dan pintarnya tim YES BRO memanfaatkan situasi dan kondisi.

Masyarakat lapar tontonan bola. Kangen dengan antraksi tim idola kabupatennya, YES BRO menjawab dengan menghadirkan langsung di hadapan mereka para pemain idola.


Luar biasa.


Bersambung...


"Siapa yang Senang?" 


Catatan sambil kepedesan di Rujak Mbak Anisah Paciran, 

13 September 2020

By MS Kholid


》Hanya seorang pendukung calon yang pesan kaos atau masker sebagai peraga #kampanye #pilkadalamongan #produsenkaospartai #kaospartai #kaoskampanye #jualkaospartai #jualkaoskampanye #jualkaospilkada #pilkadatuban #pilkadagresik #


WJL Konveksi Lamongan 

Kunjungi: wjlkonveksi.blogspot.com

Adv.

IKLAN Hubungi: 0896-2077-5166 (WA) 0852-1871-5073 (Telegram)